12

1.4K 128 20
                                        

Saat ini, pukul 19.30, Saviera masih berada di kediamannya. Ia bahkan belum packing barang-barang yang akan ia bawa ke Italia, padahal, Saviera harus berangkat pukul 21.00.

Sekarang Saviera sedang berada di kamarnya, ia masih merebah di bed seraya menatap ipad dengan headphone yang terpasang di kepala. Saviera masih menikmati aktivitas bersantai-santainya.

Tak lama, Polixa masuk ke dalam kamar Saviera bersama pelayan, "Savierrr.. Ini udah jam berapa? Jangan bilang lo belum packing juga? Come on, Sa, satu jam setengah lagi private jet bokapnya Jeffrey sampai airport."

Saviera melirik ke arah Polixa, kemudian, ia meletakkan ipad dan melepaskan headphone di kepalanya. Ia memposisikan tubuhnya duduk bersila di atas bed, menatap Polixa intens.

"Kenapa lo semangat banget suruh gue berangkat buru-buru ke Italy? Lo rela gue tunangan sama Jeffrey?" ucap Saviera.

"Bukan gitu maksud gue, Sa, lo kan tau sendiri gimana bokapnya Jeffrey. Dia ga bakal biarin lo telat barang satu menit pun. Yang ada, dia kirim orang-orang suruhannya ke sini." balas Polixa.

"Tolong bantu packing semua barang Saviera yang harus dibawa nanti ya," sambung Polixa memerintahkan pelayan. Pelayan tersebut mengangguk dan langsung mem-packing barang-barang Saviera yang harus dibawa.

Polixa memposisikan dirinya duduk di bed, tepat berhadapan dengan Saviera, "Sa, kalau ditanya rela atau ga rela, jelas gue jawab gue ga akan pernah rela lo pergi ke Italy untuk tunangan dengan Jeffrey, laki-laki yang gue tau sifatnya se-brengsek apa dan keluarganya se-problematik apa,"

"Gue ga amnesia, gue selalu ingat apapun yang Jeffrey berusaha lakuin ke lo. Dari mulai dia yang selalu berusaha buat lo masuk ke rayuan busuknya, dia yang kasih lo obat dan berusaha berbuat hal bejat ke lo, jelas, gue ga akan pernah rela."

"Tapi, Savier, gue ga sekuat itu untuk bawa lo pergi. Bokap nyokap gue juga ga bisa lakuin apapun. Mereka udah pernah coba bawa lo pergi kan sebelumnya? Tapi hasilnya apa? Sia-sia. Lawan seimbang keluarga Jeffrey, terutama bokapnya Jeffrey itu cuma bokap lo."

Dua minggu lalu, kedua orang tua Polixa memang sudah berusaha membawa Saviera pergi dari Indonesia karena Saviera tak berhenti meminta tolong kepada mereka. Akan tetapi, semua rencana buyar seketika akibat ada salah satu anak buah ayahnya Jeffrey mengetahui rencana yang sudah Saviera, Polixa dan kedua orang tua Polixa susun sedemikian rupa.

"Tapi bokap gue yang bawa gue ke situasi ini. Bokap gue yang menjerumuskan gue ke perjodohan sialan ini. Sumpah ya, gue juga heran persiapan acara pertunangan dua bulan ini direncanakan sepihak oleh keluarga Jeffrey tanpa persetujuan gue. Kenapa harus seburu-buru ini?" jawab Saviera.

"Gue juga ga ngerti kenapa keluarga Jeffrey harus seburu-buru ini, seolah mereka mau menutupi sesuatu lewat pertunangan lo dan Jeffrey. Tapi balik lagi ke yang tadi gue bilang, kita ga bisa lakuin apapun lagi sekarang, Sa. Yang penting kita udah berusaha, semoga keajaiban datang saat pertunangan lo besok dilangsungkan."

"Gue udah hoppless." ucap Saviera.

"Kenapa tiba-tiba hoppless? Tadi siang lo sendiri yang optimis keajaiban itu akan datang. Kalau nanti usaha terakhir kita ini berjalan semestinya, tentu akan berbuah manis. Bukan cuma lo yang bisa makan buahnya, tapi orang lain pun bisa mencicipi, Savier." balas Polixa.

"Optimisme gue tiba-tiba hilang, gue ragu dengan usaha terakhir yang kita lakuin. Gue udah menyerahkan semua sepenuhnya pada Tuhan, gue yakin Tuhan punya rencana yang terbaik."

Polixa tidak tega mendengar ucapan terakhir Saviera, entah kenapa hatinya sangat sakit. Saviera adalah segalanya untuk Polixa, Saviera sudah ia anggap adiknya. Melihat Saviera berada di situasi ini rasanya sangat menyesakkan.

Similar FaceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang