15

1.5K 129 5
                                        

Selama seminggu kepulangaan Saviera dari Italia, banyak jurnalis dan wartawan menghampirinya untuk mencari pemberitaan mengenai kasus Roxadia dan Danish. Semua orang tahu jika Saviera juga ikut andil membantu kasus tersebut.

Ada media yang mempublish berita tentang alasan Saviera membantu polisi menemukan Danish, media mengungkap jika Saviera membantu kasus tersebut sebagai usaha Saviera untuk menghentikan perjodohannya dengan Danish.

Hal tersebut membuat media lain menjadi penasaran dengan berita yang sebenarnya dan mereka terus mengusik Saviera untuk meliput sang puan. Ke mana pun Saviera pergi, pasti banyak jurnalis dan wartawan mengikuti.

Pukul 18.30, Saviera berada di rumah Polixa. Sepulang dari Quello di Vier, ia mendapat kabar dari Bu Hera jika rumahnya dipenuhi wartawan. Jadilah, ia memutuskan untuk tidak pulang ke rumahnya, tetapi, ke rumah Polixa.

Sekarang Saviera dan Polixa sedang berada di ruang keluarga rumah Polixa. Polixa sedang merebah di sofa sambil menatap televisi di hadapan mereka, sedangkan Saviera duduk di sebelahnya sambil sibuk mengutak-atik ipadnya.

Beberapa saat kemudian, datang pelayan bersama dua orang lainnya.

"Maaf, Pak Polixa, tamunya datang." ucapan pelayan tersebut memecah aktivitas Polixa dan Saviera. Saviera dan Polixa menoleh.

"Eh, Naresha, Ronadio. Cepat ya sampainya." sambut Polixa sambil bangun dari rebahnya dan memposisikan diri duduk. Saviera menatap Polixa intens, kenapa Polixa tidak memberi tahunya jika Naresha dan Ronadio akan datang?.

"Kebetulan saya dan Ronadio lagi ada didekat sini, makanya cepat sampai. Ga sabar ketemu Saviera juga. Apa kabar, Sa?" Naresha menghampiri Saviera dan merangkul sang puan.

Saviera menyambut rangkulan Naresha, "Kabar baik. Kabar kamu gimana, Na?"

"Kabarku juga baik." balas Naresha. Lalu, ia melepas rangkulannya dari tubuh Saviera.

"Kamu tau dari mana aku ada di sini?" tanya Saviera kepada Naresha.

"Tau dari Dokter Polixa." sahut Naresha dan untuk yang kedua kalinya Saviera menatap Polixa intens. Polixa tersenyum kikuk dibuatnya.

Setelahnya, Naresha segera duduk di samping Saviera, Polixa berpindah ke sofa sampingnya dan Ronadio pun duduk di samping Polixa.

Naresha menatap Saviera, "Saviera, maaf ya karena kamu bantu kasus Oxa jadi banyak jurnalis dan wartawan yang usik kamu." ucapnya.

"Ga usah minta maaf, ini bukan salah siapapun." Saviera mengusap lengan Naresha.

"Saviera lebih baik diusik jurnalis dan wartawan dari pada diusik Danish dan keluarganya, Na," sahut Polixa yang mendapat lirikan maut dari Saviera.

"Ga baik bicarakan orang yang udah ga ada." Ronadio baru mengeluarkan suara.

"Sorry." Polixa memasang wajah tidak enak.

"Tapi jurnalis dan wartawan itu pasti mengganggu aktivitas kamu banget kan, Sa? Ini aja kamu sampai pulang ke rumah Dokter Polixa." ucap Naresha.

"Mengganggu udah pasti, tapi ga sampai yang mengganggu banget sih. Sebetulnya bisa aja aku pulang ke rumah, karena banyak keamanan juga yang jaga di sana. Tapi ini aku lagi mau mampir ke rumah Polixa aja." jelas Saviera.

"Saviera lagi rindu saya, Na." timpal Polixa.

"Pede gile lo!" seru Saviera.

"Terlalu pede ga baik, dok." timpal Naresha.

"HAHAHA.." tawa semua yang ada di sana.

"By the way, kondisi kamu gimana, Ron?" tanya Polixa kepada Ronadio.

Similar FaceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang