4

1.5K 150 20
                                        

Setelah kepergian Polixa, Saviera bergegas ke ruangannya. Saat ini, ia sedang berkutat dengan macbook untuk merecheck laporan keuangan. Urusan keuangan Quello di Vier ini, memang sepenuhnya dikendalikan oleh Saviera.

Setelah lama berkutat dengan macbook, pukul 16.00, Saviera memutuskan menyelesaikan seluruh pekerjaannya. Saviera menutup macbook dan merapikan seluruh barangnya. Ia membawa tubuhnya keluar ruangan pribadinya, berniat untuk ke Italian Restonya di lantai dua.

Karena ruangan pribadinya berada di lantai tiga, jadi, Saviera menggunakan lift untuk turun. Saviera segera memasuki lift dan menekan tombol untuk sampai ke lantai tujuannya. Quello di Vier ini memiliki tiga lantai, di lantai dasar dikhususkan untuk Bakery, di lantai dua dikhususkan untuk Italian Resto sedangkan di lantai tiga dikhususkan untuk ruangan pribadi atau ruangan kerja Saviera, area khusus Saviera.

Ting..

Lift berbunyi bersamaan dengan pintunya yang terbuka, tanda Saviera telah sampai di lantai dua. Harum hidangan terasa sangat memanjakan indera penciuman. Perut yang tadinya tidak lapar seketika meronta meminta diisi amunisi.

Italian restonya ini sangat ramai, Para pegawai yang melihat kehadiran Saviera menunduk hormat dan menyapanya dengan santun. Saviera terlihat sangat cantik, anggun dan memiliki kharismatik tersendiri sehinga seluruh pasang mata tak lepas memperhatikan sang puan.

"Maaf, Bu Saviera, kenapa ke sini? Di sini ramai loh, Bu. Apa ada yang Ibu butuhkan?" tanya pegawai. Pasalnya, Saviera memang sangat jarang untuk sekedar memasuki area lantai dua ini. Ia biasanya berada di lantai dasar, di bakery.

"Saya tidak butuh apapun, sedang ingin ke sini saja. Hari ini sepertinya lebih ramai dari hari biasanya ya? Atau hanya perasaan saya?" Saviera memindai ruangan yang sangat luas tersebut.

"Hari ini lebih ramai dari hari biasanya karena Quello di Vier sedang dipakai untuk pertemuan antar perusahaan, Bu." balas pegawai.

"Oh, ya ampun saya lupa. Padahal Pak Richard sudah kasih kabar kalau hari ini ada pertemuan antar perusahaan di sini." ujar Saviera. Pak Richard adalah Manager Quello di Vier.

"Ibu terlalu sibuk, jadi lupa deh. Yasudah, Bu, kalau begitu saya permisi mau melanjutkan pekerjaan." pamit pegawai dan diberi anggukan kepala serta senyum manis oleh Saviera.

Setelah kepergian pegawai tersebut, Saviera melangkahkan kakinya ke area lebih dalam. Senyumnya tak pudar menyapa para pengunjung, sampai akhirnya pandangannya bertemu dengan seseorang. 'Ronadio?' batin Saviera.

Dengan gerakan cepat, Saviera mengalihkan pandangannya, ia tidak ingin Ronadio mengira dirinya Roxadia kembali. Jujur saja, Saviera tidak menyukai ketika dirinya dianggap sebagai orang lain seperti kemarin. Ketika ia hendak beranjak, ada suara yang memanggil namanya.

"Saviera!"

Sial.. Siapa yang memanggil? Pergerakan Saviera pun terhenti. Suara yang tidak asing untuk Saviera. Suara siapa itu? Suara Naresha, sahabat Ronadio. Dengan perlahan Saviera menoleh ke sumber suara, mencari keberadaan Naresha.

"Saviera, here!" Naresha memanggilnya kembali. Ternyata Naresha duduk tak jauh dari Ronadio. Astaga.. Apa ia harus menghampiri? Karena merasa tidak enak, akhirnya Saviera menghampiri.

Saviera membawa langkah cantiknya mendekat menuju Naresha yang sedang duduk disatu meja yang terdapat beberapa orang, tentu ada Ronadio di meja tersebut. Ronadio duduk di seberang Naresha, tepat berhadapan dengan sang puan.

"Hi, Sa! Kamu kenapa bisa ada di sini?" sapa Naresha dengan merangkul Saviera sesaat.

"Hi, Na! Kebetulan aku—" belum sempat Saviera melanjutkan ucapannya, datang seorang pegawai menghampiri Saviera.

Similar FaceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang