28

1.7K 192 38
                                        

Pukul 19.30, Ronadio masih duduk dengan gelisah di ruang tamu rumah Saviera. Ronadio masih menunggu Saviera pulang. Sejak tadi siang, sehabis menghubungi Ronadio, Saviera belum kunjung kembali pulang ke rumah.

Bu Hera menghampiri Ronadio di ruang tamu, "Pak Ronadio, lebih baik Bapak makan malam terlebih dahulu. Sedari tadi Bapak hanya duduk di sini, bahkan ga minum sama sekali," ucapnya.

"Saya mau di sini sampai Saviera pulang,"

"Kalau begitu Bapak minum dulu, air mineral dan teh hangat yang saya buatkan aja masih utuh,"

"Iya, Bu, nanti saya minum." ujar Ronadio. Bu Hera membalas dengan anggukan.

"Mohon maaf jika terkesan lancang, tapi saya ingin menyampaikan, apapun yang sedang Pak Ronadio dan Non Savier lalui, semoga segera mendapat titik temu yang baik. Hidup itu seperti gunung, sulit untuk didaki, tetapi begitu sampai puncak pemandangannya indah. Saya yakin ada hal indah yang akan menghampiri Pak Ronadio dan Non Saviera di depan sana."

Ronadio membalas ucapan Bu Hera dengan senyuman. Setelahnya, Bu Hera segera berlalu. Tak lama dari sepeninggalan Bu Hera, tampak perempuan cantik yang sedari tadi Ronadio tunggu berdiri di ambang pintu dengan mata yang menatapnya dengan tatapan sayu.

Ronadio menatap dalam Saviera, "Sa," lirihnya. Ronadio segera mendekat kepada Saviera, "Kamu dari mana? Aku tunggu kamu pulang sejak siang, aku khawatir," sambungnya.

Tatap Ronadio dan Saviera terkunci, mereka saling memandang tanpa kata. Tangan Ronadio terangkat mengelus pipi mulus Saviera, Saviera lalu menggenggam tangan Ronadio yang sedang mengelus pipinya.

"Maaf," lirih Saviera. Ronadio langsung menarik Saviera masuk ke dalam dekapannya.

"Jangan pernah pergi tanpa berucap apapun lagi." Ronadio berucap lembut tepat di telinga Saviera. Saviera mengangguk dalam dekapan.

Ronadio tersenyum. Saviera, perempuan pujaan hatinya yang paling ia cintai akhirnya kembali pulang ke dekapannya. Kelegaan menyelimuti hatinya, Ronadio sangat bahagia.

Ronadio memejamkan mata merasakan dekapan hangat Saviera pada tubuhnya, dekapan Saviera akan menjadi kesukaannya mulai saat ini. Tak lama, dekapan pun dilepas oleh Saviera, "Aku tau, kamu pasti belum bersih-bersih kan sedari sampai Indonesia?" tanya Saviera.

"Kok tau?" sahut Ronadio.

"Bau soalnya." jawab Saviera dengan tangannya ia arahkan untuk menutup hidung.

"Enak aja! Aku ga pernah bau walaupun ga mandi seminggu sekalipun." balas Ronadio.

"Masa?" tanya Saviera

"Cium aja kalau ga percaya," Ronadio menyodorkan pipinya mendekat kepada Saviera.

Saviera menepuk lembut pipi Ronadio, "Modus!"

"HAHAHA.." Ronadio tertawa geli, "Yaudah, aku bersih-bersih dulu deh biar ga dibilang bau sama kamu," ujar Ronadio.

"Aku bercanda, ga bau kok. Tapi kamu kelihatannya memang butuh bersih-bersih, wajah kamu kusut, penampilan kamu juga berantakan."

"Sedari siang Pak Ronadio gelisah, Non, duduk di ruang tamu nunggu, Non, pulang sampai ga menyempatkan diri bersih-bersih. Ibu ambilkan air mineral dan buatkan teh hangat aja belum disentuh sama sekali," timpal Bu Hera yang tiba-tiba sudah ada didekat Saviera dan Ronadio.

Saviera menatap Ronadio, "Iya, Ron?" tanyanya.

Ronadio menganggukan kepalanya, "Sorry," Saviera mengelus lengan Ronadio, Ronadio balas mengelus lengan Saviera lembut.

"Pak Ronadio juga belum makan dari siang, Non." ucap Bu Hera kepada Saviera.

Saviera menghela nafas, ia segera menggandeng tangan Ronadio dan membawanya ke ruang makan. Saviera mendudukan Ronadio di kursi meja makan, ia pun ikut duduk di sebelahnya.

Similar FaceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang