Selamat malam minggu semua, selamat bertemu Saviera dan Ronadio!! 😁
•
•
•
Tak terasa, satu minggu telah berlalu. Satu minggu lalu, setelah kepulangan Ronadio dan Saviera dari Daerah Istimewa Yogyakarta, mereka berdua segera menyelesaikan urusan mengenai pencatatan resmi pernikahan mereka di pengadilan agama. Syukur tidak ada kendala apapun dalam proses yang mereka lalui, semua berjalan sangat lancar.
Ronadio merasa, ada kelegaan tersendiri setelah sekarang status pernikahan dirinya dan Saviera sudah tercatat resmi di catatan negara. Ronadio pun merasa, ia dan Saviera sudah benar-benar terikat. Ronadio berjanji pada dirinya sendiri, ia akan senantiasa menjaga ikatan suci yang saat ini sudah ada di genggamannya dan istri tercintanya.
Sudah satu minggu pula Ronadio dan Saviera menjalani kehidupan layaknya suami istri pada umumnya, tak ada lagi jarak yang memisahkan mereka. Mereka pun sudah menghuni satu kamar tidur yang sama. Ronadio yang membujuk Saviera agar bersedia menampungnya di kamar sang puan, Saviera tentu menyetujui dengan senang hati.
Pukul 15.00, Ronadio dan Saviera baru saja sampai disalah-satu pemakaman elit ibu kota. Seperti yang pernah Ronadio katakan pada Saviera, Ronadio ingin memperkenalkan Saviera kepada Roxadia. Karena hari ini weekend dan Ronadio maupun Saviera memiliki waktu luang, mereka pun memutuskan berkunjung ke makam Roxadia.
Ronadio dan Saviera berjalan menyusuri area pemakaman dengan tangan saling bertaut. Mereka kompak menggunakan setelan hitam. Ronadio menggunakan kemeja dan celana bahan hitam, Saviera menggunakan dress hitam tertutup dengan rambut panjang tergerainya ia tutupi selendang hitam. Tak berselang lama, mereka berdua pun sampai di pusara makam Roxadia.
Saviera memperhatikan raut wajah Ronadio yang sedang menatap pusara makam Roxadia, tersirat begitu banyak kesedihan dan kepedihan di wajah lelaki berparas rupawan tersebut. Saviera paham betul bagaimana perasaan Ronadio saat ini. Saviera memberikan ketenangan dengan mengelus lembut punggung suami tercintanya.
"Hello, Oxa, Ronadio datang berkunjung. Kamu pasti saat ini sedang merasakan kebahagiaan di surga, kamu tentu ga ingin saudara tersayang kamu larut dalam kesedihan kan? Maaf ya, Xa, aku belum bisa bahagiakan saudara kamu." Saviera berucap lembut, ia memandang pusara makam Roxadia. Ronadio yang mendengar ucapan Saviera segera mengubah raut wajahnya, ia berusaha menetralkan kesedihan yang ia rasakan.
Ronadio bersimpu, ia mengusap pusara makam saudari tersayangnya dan berucap, "Yang harusnya minta maaf aku, Xa, bukan Saviera. Maaf karena aku masih sering larut dalam kesedihan, maaf karena aku masih menyalahkan dan menyesalkan apa yang terjadi pada kamu. Tapi kamu harus tau, aku sedang berusaha mengikhlaskan semua yang terjadi. Tentu dengan bantuan istriku."
Ronadio melirik Saviera yang berdiri di sampingnya, ia tersenyum pada Saviera. Saviera balas tersenyum dan ikut bersimpuh bersama Ronadio. "Oxa, perkenalkan ini istriku, Saviera," ujar Ronadio seraya mengelus tangan Saviera. "Saviera memiliki rupa yang persis seperti kamu, tapi tetap lebih cantik Saviera daripada kamu." Ronadio tertawa kecil mendengar ucapannya sendiri. Saviera hanya tersenyum.
"Walau rupa Saviera persis seperti kamu, tapi sifat Saviera sangat berbeda dengan kamu, Xa. Saviera perempuan luar biasa, perempuan yang selalu memberikan ketenangan, perempuan yang selalu ada di sisiku dalam situasi apapun. Bahkan saat kondisiku down karena kepergian kamu, dia bersedia menjadi kamu demi kondisiku. Padahal, di awal kita ga saling kenal. Saviera memiliki hati yang sangat cantik, persis seperti rupanya."
"Tadi Saviera bilang, dia belum bisa bahagiakan aku ya? Apa yang dia bilang itu bohong, Xa. Saviera selalu buat aku bahagia dalam situasi dan kondisi apapun, memang aku aja yang selalu larut dalam kesedihan saat ingat kamu. Aku bingung, aku udah berusaha tutupi kesedihan yang aku rasa tapi Saviera selalu bisa melihat kesedihan itu. Saviera is like a fortune teller, dia bahkan seperti bisa meramal masa depan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Similar Face
RomanceBagai keajaiban yang datang tak terduga, bagai bencana yang datang tak disangka. Begitulah pertemuan mereka, terjadi begitu tiba-tiba. Setiap manusia sudah digariskan takdirnya masing-masing, semuanya sudah ditulis dan dirancang dengan mendetail ole...
