16

1.5K 143 40
                                        

Pukul 20.00, Polixa, Naresha, Ronadio dan Saviera baru saja menyelesaikan dinner mereka. Mereka semua kembali duduk di ruang keluarga. Ronadio sibuk berbincang bersama Polixa, sedangkan Saviera berbincang dengan Naresha.

"Ron, gue baru dapat kabar dari bokap nyokap katanya mereka balik Indo. Sepulang dari sini gue langsung ke rumah nyokap bokap ya, sopir gue udah jalan ke sini untuk jemput," ucapan Naresha memecah perbincangan Ronadio dan Polixa.

"Hm, tiba-tiba banget balik Indo?" balas Ronadio.

"Gue juga ga tau." sahut Naresha dan setelahnya meraka lanjut berbincang.

Beberapa saat Polixa, Ronadio, Naresha dan Saviera berbincang, bel rumah Polixa tiba-tiba saja berbunyi. Pelayan pun dengan sigap menuju pintu utama untuk melihat siapa yang datang.

Saviera menoleh ke arah Polixa, "Ada janji temu?" tanya Saviera kepada Polixa.

"Ga ada janji temu sama siapapun." balas Polixa dengan wajah bingung. Pasalnya, siapa tamu yang datang di jam malam seperti ini?.

Beberapa saat kemudian, datang kembali pelayan yang tadi membuka pintu ke ruang keluarga. Pelayan tersebut menghampiri Saviera dengan membawa box yang entah isinya apa.

"Permisi, Bu Saviera, ini ada kiriman untuk Ibu," ucap Pelayan bersamaan dengan tangannya yang menyodorkan box kepada Saviera.

Raut kebingungan sangat terlihat jelas di wajah Saviera, "Kiriman apa?" tanyanya dengan tetap menerima box.

Saviera bingung kenapa malam hari ada yang memberi kiriman kepadanya dan kenapa pengirim tersebut tahu jika Saviera sedang berada di rumah Polixa, padahal, Saviera tidak memberitahu keberadaannya kepada siapapun.

"Kiriman apa? Dari siapa?" tanya Polixa sambil menatap sang pelayan.

"Saya kurang tau kiriman apa, tapi tadi kurir bilang kiriman dari Quello di Vier." jawab pelayan.

Polixa menatap Saviera, "You ordered your employee to deliver something here?"

Saviera membalas tatapan Polixa, "No, i don't give any orders to my employee." ujarnya. Sungguh, ia tidak tahu apapun. "Gue juga ga kasih tau siapapun kalau gue lagi di rumah lo, Pol." lanjutnya.

"Dibuka dulu aja, dilihat isinya apa," ujar Naresha. Saviera pun mengangguk.

Saviera membuka box di tangannya dengan perlahan. Saat sudah terbuka sepenuhnya, ia terkejut dengan yang ia lihat. Di dalam box terdapat cake yang ditancapi pecahan kaca dan mengeluarkan cairan merah seperti darah.

Saviera, Ronadio, Polixa dan Naresha mematung untuk beberapa saat. Lalu, Saviera melihat ada secarik kertas lusuh yang di letakkan di samping cake. Dengan hati-hati, Saviera mengambilnya dan membaca isi kertas tersebut.

 Dengan hati-hati, Saviera mengambilnya dan membaca isi kertas tersebut

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Damn! Siapa yang kirim?" tanya Polixa.

"Ga ada nama pengirim," jawab Saviera.

"Isi kertasnya apa?" tanya Ronadio seraya mendekat ke arah Saviera. Saviera memberikan kertas tersebut kepada Ronadio, Ronadio pun membacanya.

Similar FaceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang