Pagi hari, pukul 05.00, Polixa datang menghampiri Saviera ke rumahnya. Saat Polixa memasuki area lantai 3, tepat di lounge room yang bersebelahan dengan kamar Saviera, ia terkejut.
Polixa melihat ada lelaki yang sedang terlelap di sofa besar yang ada di sana, Polixa mendekat dan semakin terkejut kala melihat lelaki tersebut adalah Ronadio, Polixa dibuat heran.
Polixa mengamati Ronadio yang sedang terlelap dengan pakaian khas kantor. Celana bahan hitam, kemeja hitam yang digulung sampai siku dan ada jas hitam yang disampirkan di sandaran sofa.
"Kenapa Ronadio ada di sini?" tanya Polixa pada dirinya sendiri.
Polixa bingung, pasalnya, ia tak tahu mengenai kelanjutan ancaman yang Saviera dapatkan. Polixa hanya tahu saat ada yang mengirimkan Saviera cake saat di rumahnya, selebihnya, Saviera sengaja tidak memberi tahunya.
Bahkan, ketika ada yang melempar batu ke mobil Saviera saat Saviera berada di ruamh Polixa pun Saviera tidak memberi tahu sahabatnya itu. Saviera juga meminta seluruh pegawai di rumah Polixa tidak memberi tahukan Polixa akan hal itu.
Tak lama, Saviera masuk ke lounge room. Saviera berkata, "Polix, kenapa ke sini pagi banget?"
"Gue mau pamit. Tapi sebelumnya, lo harus jelasin kenapa ada Ronadio di sini?"
Saviera diam, jika Saviera menjelaskan pastinya Polixa akan mengetahui ancaman-ancaman yang Saviera dapatkan. Tapi jika mengelak, Saviera bingung bagaimana cara mengelaknya.
Semalam, setelah Ronadio mengantar Saviera masuk rumah untuk beristirahat, Ronadio mengatakan jika ia ingin bermalam di rumah Saviera, ia takut terjadi sesuatu pada Saviera.
Tentu Saviera mengizinkan, karena rasa cemas dan takutnya pun semalam sudah mendominasi. Ronadio lalu beristirahat di lounge room yang tepat berada di sebelah kamar Saviera.
Semalam sebetulnya Saviera sudah menyuruh Ronadio tidur di kamar tamu rumahnya, tetapi, lelaki tersebut menolak. Ia berkata jika dirinya ingin menjaga Saviera dari jarak dekat.
"Mhh.." Ronadio terusik, ia membuka matanya lalu segera memposisikan diri duduk.
"Ron, kenapa bisa di sini?" tanya Polixa sambil menatap Ronadio intens. Ronadio spontan memandang Saviera.
Saviera dan Ronadio akhirnya menceritakan semua yang terjadi, menceritakan seluruh ancaman-ancaman yang didapatkan oleh Saviera.
"Ya ampun, Savier, kenapa ga kasih tau apapun ke gue? Gue kira cuma sampai kiriman cake pas di rumah gue aja, ternyata sampai separah ini. Sampai sakiti lo gini," ucap Polixa sambil mengusap lembut tangan Saviera.
"Gue ga mau buat lo khawatir. Lagi pula, gue juga gapapa." balas Saviera.
"Gapapa gimana? Ini tangan lo luka sampai bengkak gini. Ke rumah sakit lagi aja ya? Sakit banget kan pasti?" timpal Polixa dengan kepanikan yang terpancar dari raut wajahnya.
"Polix, tenang. Serius gue gapapa, kemarin udah dicek juga ke dokter. Dokter bilang, everything was fine." ucap Saviera menenangkan.
"Gue ga bisa tenang, Sa, lo kan tau gue paling ga bisa lihat lo kegores sedikitpun, ini malah banyak luka-luka gini sekarang. Luka di pipi aja baru membaik, ini ditambah lagi luka di tangan. Lagian siapa yang berani-beraninya sakiti lo, sih. Maju sini, biar gue hajar!" ujar Polixa dengan kekesalannya.
Saviera merasa lucu melihat ekspresi wajah Polixa. Ia pun tertawa, "Hahaha.. Sok jagoan lo!"
"Bisa-bisanya masih bisa tawa!" seru Polixa.
"Luka-luka gini doang ga akan buat tawa gue hilang. Udah ah, jangan berlebihan."
Ronadio hanya menyimak percakapan kedua orang yang berada di hadapannya tanpa bersuara. Ia memperhatikan, Polixa dan Saviera benar-benar terlihat begitu dekat. Ronadio bisa melihat jika Polixa sangat menyayangi Saviera.

KAMU SEDANG MEMBACA
Similar Face
RomanceBagai keajaiban yang datang tak terduga, bagai bencana yang datang tak disangka. Begitulah pertemuan mereka, terjadi begitu tiba-tiba. Setiap manusia sudah digariskan takdirnya masing-masing, semuanya sudah ditulis dan dirancang dengan mendetail ole...