44| Pulang

989 67 17
                                        

"karna.... saya nggak tertarik dengan masa depan" ucap Calvin datar.

Seketika semua orang yang berada di ruangan tersebut terdiam, "haha.... Gue nggak salah larang lo deketin adek gue... Siapa yang mau kasi adeknya pacaran ama cowo yang nggak punya masa depan hah??... Mikir" ucap Daren sinis.

"Kak!!!"

"Calvin memang belum tertarik tapi bukan berarti dia nggak punya masa depan kan??..., lagian kita masih SMA perjalanannya masih panjang kok..."

"Lo belain dia??..., Del... sadar emang lo mau sama cowo yang masa depannya aja nggak keliatan, kalo gue kasi tau perilaku cowo ini ke mama papa mereka juga pasti nggak bakal biarin hubungan lo sama Calvin berlanjut"

"Cukup!!!.... Daren sopan kamu berbicara seperti itu hah??" Bentak papa Mereka sedikit tegas.

Daren pasrah kembali duduk di kursinya, "kenapa nak Calvin??..."

"Ah maaf, saya cuman penasaran tapi saya yakin kamu pasti punya alasan atas semuanya... Tapi nak apa yang anak saya katakan tadi sedikit ada benarnya.. saya tidak bisa restui hubungan anak saya dengan cowo yang tidak mau berusaha dengan masa depannya sendiri"

"Pasti kamu paham maksud saya".

"Saya paham om" balas Calvin dengan nada pelan.

Pembicaraan berhenti sampai di sini, semua yang berada di ruang makan tersebut sibuk melahap makanan masing masing, beberapa kali Altha terlihat seperti memperhatikan Delta diam² sembari tersenyum tanpa alasan.

"Makasih om, tan. saya pamit pulang"

"Hati² di jalan Nak Altha, titip salam saya pada ayah kamu" ucap Ayah Delta menepuk bahu Altha.

Setelah Altha pergi Delta dan Calvin juga meminta izin untuk keluar sebentar, lagi pula masih belum terlalu malam untuk keluar.

"Bun, yah, Delta izin keluar ya bareng Calvin, nggak lama kok bentar doang" ucap Delta membujuk ayah dan bundanya.

"Iya boleh, kamu hati² yah nggak boleh macem², Calvin saya titip anak saya sama kamu" ucap bunda Delta yang langsung mendapatkan anggukan Calvin.

***

"Kamu nggak papa kan??" Tanya Delta khawatir perkataan Daren tadi membuat Calvin menyakiti pria itu.

"Nggak, emang kenapa?" Jawab Calvin beralih menatap Delta.

"Nggak papa".

"Mau makan ice cream??" Tanya Calvin mengalihkan pembicaraan.

"Mau, aku rasa matcha ya" semangat Delta.

Calvin tersenyum melihat tingkah gadis yang sekarang berstatus pacarnya itu, tidak sia² ia menuggu hampir 5 tahun selama ini.

"Ayo" ucap pria itu lembut menggenggam tangan Delta erat.

***
"Kenapa lagi lo, tiba² banget panggil malam²..., mana nih apart berantakan" tanya Fasya bingung melihat apartemen Calvin yang sudah berantakan.

"Gue mau balik ke rumah"

"Hah???... tumben, lo di paksa ama bokap lo lagi, di ancam apaan sampai lo patuh kek gini??" Tanya Fasya sambil membantu Calvin memasukkan baju² pria itu ke dalam koper.

"Nggak, gue yang mau"

"Lo nggak papa??"

"Hmm..."

"Gue udah telfon Arhan, bentar lagi kesini katanya" ucap Fasya yang hanya di angguki Calvin.

*Tok... Tok...*

"Woy, buka njir lama banget dah..." Dengan sedikit kesal Fasya beranjak dari duduknya baru saja ia membicarakan pria itu.

"Gue geplak juga pala lo, masuk..."

"Dih" Arhan menaruh beberapa camilan di meja lalu me-lihat² sekeliling apart Calvin yang mulai kosong.

"Sayang banget nggak sih kalo nggak ada yang nempatin??" Tanya Arhan beralih pada Calvin.

"Nggak, habis nikah gue tinggal di sini" ucap Calvin spontan yang membuat kedua sahabatnya membelalak kaget.

"Bjir... halu parah dah lo, emang yakin lo bakal nikah ama Delta??..."

"Kalau misalnya lo putus kan juga kaga ada yang tau, gue nggak doain ya.. tapi kan bisa jadi" lanjut Arhan tak melihat ekspresi Calvin saat ini.

"Bentar, cewe gue nelpon"

"Lah emang lo punya cewe??" Bingung Arhan beralih melirik Fasya yang buru² keluar Apart kemudian melirik Calvin...

"Gitu amat tatapannya bang..., eh bentar emak gue tadi suruh beli terasi btw gue balik duluan ya entar kesini lagi deh, rumah gue kan dekat jalan kaki juga bisa lah" dengan tergesa² Arhan mengambil jaketnya.

"Anjir, si Fasya ngapa lo kunciin gue heh sama nih singa" teriak Arhan dari luar.

"Serang², woy nggak tau main nih orang!!!" Sibuk Fasya dengan game yang sekarang pria itu mainkan.

***
Altha menaiki tangga menuju kamarnya, menarik gagang pintu...
Pria itu menarik nafasnya, mengeratkan gagang pintu dengan tatapan tajam lalu membantingnya dengan keras.

Pria itu menuruni tangga dengan langkah panjang sedikit cepat.... "SIAPA YANG BERANI BUKA KAMAR GUE HAH...?!!" Teriak Altha yang membuat ruangan tersebut bergema.

"Saya minta maaf den... Tapi saya rasa kakak aden..."

"Dimana kak Rakha??..."

"di kamarny-" belum sempat pelayan tersebut menyelesaikan kalimatnya, dengan emosi Altha segera pergi ke kamar kakaknya Rakha.

*Brakkk...*

"L-lo kenapa??" Tanya Rakha sedikit terbata.

"Lo udah liat apa aja, hm??..." Tanya Altha dengan tersenyum smirk.

"Maksud lo, gue nggak liat apa²... Keluar!!!"

"Kak... Gue nggak bakal bongkar kesepakatan kita... Asal lo lupain apa yang udah lo liat di kamar gue" bujuk Altha mendekati perlahan saudaranya.

"Da-dari awal g-gue nggak salah, lo yang udah bunuh cewe itu, bukan gue!!"

"GUE NGGAK PEDULI!!!!, Dengar... Lo yang udah nabrak Dia dan mobil yang lo pake juga milik lo-"

"Lo yang udah rencanain semuanya kan??..., Lo yang buat gue masuk dalam rencana lo buat bunuh Della sahabat cewe yang lo suka, tapi rencana lo gagal karena Delta cewe yang lo suka amnesia!!!" Bentak Rakha masih tidak percaya dengan perilaku tidak terduga Altha.

"GUE NGGAK PERNAH LAKUIN ITU!!!"

"Gue tau lo mau semua jauhin Delta, biar cuman lo satu²nya yang keliatan baik di mata cewe itu kan?...,lo diam² ambil foto cewe itu saat ada kesempatan. lo stalker, lo Manipulatif GILA SIALAN!!!"

*PRAKK..*

Altha mengayunkan Vas kaca yang berada di meja dengan cepat mengarah tepat ke kepala Rakha, hingga pria itu tersungkur dengan darah yang mengalir deras dari kepala pria itu hingga tak sadarkan diri.

Dengan tergesa² Altha mengambil pecahan kaca tersebut lalu menggoreskan di sekitar leher dan menusuk perutnya lumayan dalam juga menggenggam kaca tersebut erat hingga mengeluarkan darah.

Dengan perlahan pria itu mengeluari kamar Rakha dengan keadaan yang campur aduk dan mata sembab...

Salah satu pelayan rumah tersebut berteriak keras hingga bergema di seluruh ruangan melihat sekujur tubuh Altha di penuhi darah dan banyak luka.

"ALTHA!!!, a-apa yang terjadi nak?!!" Panik Bunda Altha melihat tubuh putranya.

"Kak Rakha bun..., Kak Rakha"

*Brukh..*

"Gue nggak punya pilihan"

Bersambung...

Author balik lagi nih guys setelah hiatus 2 bulan hehe... Maafin yah buat readers setia Bitter reality...

Kamis, 5 september 2024

Bitter RealityTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang