PART 7

14.9K 385 17
                                        

Happy Read

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Happy Read

---

 Sejak dulu, semasa masuk Universitas Spring sudah jatuh hati dengan sosok Benedict Murphy, sosok pria yang selalu memotivasinya untuk bisa meraih pendidikan tinggi. Namun, Spring merasa jika selama ini Ben hanya menganggapnya sebagai sahabat, dan membuat Spring seperti mencintai secara sepihak. Puncaknya ketika Anastasia yang tiba-tiba sudah menjalin hubungan dengan Ben, sedangkan kakaknya itu tahu jika dia sangat mencintai Ben. Entah Anastasia sengaja atau tidak, hal tersebut membuat Spring tahu jika kakaknya itu tidak suka dengan apa yang dilakukannya.

"Hai Ben," sapa Spring datar, meskipun hatinya sedikit bergetar.

Ben tersenyum lembut, lalu duduk di kursi yang ada di dalam ruang kerja Spring. "Kudengar kau akan menikah dengan Nevan Killian. Wow kau sangat hebat," puji Ben dengan nada bercanda, seperti biasa.

Wanita bersurai cokelat itu menghela napas panjang, lalu duduk di hadapan Ben dengan tenang. "Bagaimana kabarmu Ben? Kau juga sudah melamar Anastasia kan?" Spring tidak menjawab pertanyaan basa-basi Ben, melainkan balik bertanya.

Ben hanya tersenyum seadanya, seakan dia tidak terlalu tertarik membicarakan tentang hubungan pribadinya. "Yah, seperti yang kau tau saja," jawab seadanya, masih menatap lembut Spring.

"Sepertinya kau terlihat sangat mencintai Anastasia. Kuucapkan selamat untuk kalian berdua, semoga bahagia selalu," ucap Spring tulus, dan pada akhirnya dia memilih untuk memendam perasaan cintanya uuntuk selamanya. Toh dia juga akan menjadi istri orang sebentar lagi. Sangat tidak etis sekali, ketika dia sudah menikah tapi masih menyukai milik orang lain.

Ben hanya tersenyum tipis, tatapanya melembut. "Hmm, sepertinya juga begitu," jawabnya singkat.

Spring menaikkan kedua alisnya, mendengar jawaban Ben. "Kenapa kau terlihat tidak semangat Ben?"

Ben tidak langsung menjawab, melainkan menatap Spring lekat. "Menurutmu kenapa? Tiba-tiba saja kau akan menikah, dan tidak memberitahu itu semua," ucapnya panjang lebar dengan nada protes.

Jawaban Ben membuat Spring sedikit terkejut, "Aku hanya ingin lebih privasi saja, lagipula kau juga melakukannya."

"Aku mengetahuinya dari Anastasia, dan jujur saja aku senang mendengarnya," ungkap Spring dengan jujur, karena perasaanya yang dulu kini sudah mulai memudar.

"Apakah kau benar-benar mencintai Nevan?" tanya Ben penasaran, sekaligus dia ingin tahu dari mulut wanita 29 tahun ini.

Manik cokelat itu bergerak gelisah, menatap ke arah lain. "Aku kira itu bukan urusanmu Ben, dan juga menikah juga tidak harus didasari oleh cinta. Yah, karena aku nyaman saja," jelas Spring tentu saja berbohong, dan mana mungkin dia berkata jujur tentang hubungan yang sebenarnya dengan Nevan.

Ben masih menatap lekat Spring, menelisik manik biru itu karena ingin mengetahui jika sahabatnya ini sedang terlihat menutupi sesuatu.

"Aku hara-" suara Ben terpotong ketika ponselnya berbunyi. Pria berwajah lembut itu, merogoh celana jeansnya dan ternyata nama Anastasia tertera di layar ponsel tersebut.

"Hallo?" jawab Ben sambil berbicara intens di depan Spring, sedangkan wanita bersurai cokelat itu hanya terdiam dan mempersilahkan Ben menerima panggilannya.

"Aku harus pergi Spring. Anastasia memintaku untuk datang ke apartemenya sekarang," pamit Ben yang sudah selesai dengan panggilannya.

"Baiklah, dan sampaikan salamku kepada Anastasia," ucap Spring pelan, mengantar Ben sampai pintu keluar.

"Sampai jumpa Spring, dan sekali lagi kuucapkan selamat," ujar Ben sebelum pergi meninggalkan hotel milik keluarganya.

Spring tersenyum lembut. "Terima kasih juga Ben."Ben hanya mengangguk lalu, kemudian masuk lift yang berada di depan ruangan Spring. Sedangkan wanita bersurai cokelat itu menatap punggung Ben yang semakin jauh.

"Semoga kau bahagia Ben," lirih Spring menatap sendu cinta pertamanya yang harus dia lupakan.

——

"Tuan, Nyonya Jeni datang untuk menemui anda," suara berat Robin mengintrupsi kegiatan Nevan yang sedang mengecek dokumen penting. Manik legam itu menatap dingin Robin. "Suruh dia masuk," jawabnya singkat, yang langsung diangguki sopan oleh Robin.

"Baik Tuan."

Tidak lama sosok wanita bertubuh sital dengan balutan rok pendek dan baju crop tanpa lengan berwarna biru tua, hingga menonjolkan kulit tannya yang begitu eksotis. "Halo Nevan, apa kau melupakkanku?" suara manja itu membuat Nevan meletakkan beberapa dokumen dan mentapnya dingin.

"Mau apa kau ke sini Jeni?" suara Nevan sama sekali tidak ramah, dan itu membuat wanita dengan rambut gelombang emas yang dia gerai begitu saja.

"Oh, tentu saja aku merindukanmu," desah suara manja Jeni, wanita 38 tahun , dan kulitnya masih terlihat kencang karena perawtan mahal itu menghampiri Nevan. Dan dengan tidak tahu malunya dia duduk di pangkuan Nevan, jemari lentiknya mengusap seduktif dada Nevan.

Nevan tersenyum miring, tangan kekarnya mengusap paha mulus Jeni. "Apa kau merindukan sentuhanku?" bisik Nevan sensual, dan sukses membuat Jeni merinding dan terangsang.

"Oh baby, kau memang tahu apa keinginanku," suara mendesah yang penuh nikmat, kini tangan kecilnya meremas paha Nevan. Lalu bibir merahnya melumat bibir pria itu dengan rakus, dan Nevan pun menyambutnya dengan suka cita dan tidak lupa tangan kekarnya meremas dada kenyal yang begitu menggoda.

"Apa suamimu tidak bisa membuatmu puas Jeni?" tanya Nevan di sela-sela cumbuan mereka.

"Aku tidak sudi bercinta dengan pria yang suka menyodok lubang para pelacur," cela Jeni menatap Nevan tajam nan bergairah. Jeni Downey merupakan istri dari rekan bisnis Nevan yang cukup terkenal di jagat dunia bisnis setelah Nevan. Awal mulanya mereka hanyalah kenal biasa, karena Pablo Downey selaku suami Jeni lumayan akrab dengan Nevan. Dari awal kenal Jeni merasa tertarik dengan sosok Nevan yang begitu misterius, apalagi pria bermanik cokelat dan setajam burung elang ini tidak pernah digosipkan dengan wanita manapun. Terlebih lagi rumah tangga Jeni juga waktu itu diambang kehancuran, karena Pablo tidur dengan salah satu model ternama sekaligus sugar baby suaminya.

Jeni yang frustasi dengan keadaan rumah tangganya, dia lalu antusias mendekati Nevan. Bukan karena harta atau kekayaan Nevan, melainkan hubungan ranjang dan memuaskan satu sama lain, tentunya tidak melibatkan perasaan. Hingga terakhir kali mereka melakukannya enam bulan yang lalu.

"Lagipula, apa kau yakin akan menikah?" tanya Jeni, mengusap dagu lancip Nevan lembut.

Pelan-pelan Nevan melepas tangan Jeni, dan menyuruh wanita itu untuk menyingkir dari pangkuannya.

Tubuh tegapnya berdiri, dan melirik ke arah Jeni yang masih menatapnya dengan penuh gairah. "Tentu saja, lagipula ini juga untuk kepentingan bisnis," dusta Nevan berusaha menyembunyikan rahasianya dari Jeni.

Jeni ikut berdiri lalu memeluk tubuh tegap itu dari belakang, merasakan wangi yang membuat Jeni semakin menggila.

"Kalau begitu bagaimana kita bermain di ranjang, sebagai salam perpisahan," bujuk Jeni dengan sensual. Nevan membalikkan badannya hingga mereka berhadapan, lalu menekan kedua pundak mulus Jeni dan menatapnya dengan lekat.

"Atur saja jika jika itu maumu," suara beratnya membuat Jeni semakin mendekap tubuh kekar itu. 

---


Under His Control [ END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang