Part 17

11.4K 313 0
                                        


Happy Read!---

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Happy Read!
---

Nevan menggendong Spring dengan gaya bridal, bagai barang yang berharga dan sangat bernilai. Pelan-pelan Nevan menidurkan istrinya di kamar utama, tatapan mereka masih saling beradu. Manik legam Nevan menatap istrinya memuja, kini tubuh besar Nevan berada di atas Spring dengan posisi kedua tangan mengurung istrinya. Matanya berubah gelap seakan tidak sabar merenguk kenikmatan sesungguhnya. Tatapan istrinya begitu sayu, dan Nevan bisa merasakan jika Spring masih gugup, bahkan pria itu bisa mendengar suara detak jantung istrinya.

"Kau tahu ... " suara Nevan rendah, sembari satu tangannya megelus pipi istrinya, dan kini manik gelap itu sedikit redup, berubah menjadi tatapan memuja.

"Aku sudah lama menginginkan hal ini," lanjut Nevan kini kepalanya sedikit menunduk, supaya bisa mengecup pelipis Spring, lalu kecupan itu turun ke pipi dan sembari tangannya menyugar rambut cokelat milik Spring yang halus.

Spring memejamkan kedua matanya, merasakan kecupan basah suaminya. Merasakan kulit yang menempel dengan hangat. "Kenapa kau mau menikahiku?" tanya Spring pelan, entah kenapa dia menjadi penasaran. Memang awal mula pernikahan ini bukan dari hal yang baik, melainkan seperti sebuah bisnis saja.

Kecupan Nevan berhenti, lalu menatap istrinya. "Karena aku menginginkanmu," jawabnya singkat lalu mecium bibir manis itu pelan dan begitu dalam. Jemari lentik Spring meremas rambut gelap suaminya, tubuhnya terasa panas oleh hasrat yang sebentar lagi meledak. Suhu udara yang tadinya sejuk, sekarang mendadak menjadi panas membara. Tubuh mereka menyatu dengan sempurna, begitu pas hingga membuatnya saling mecandu. Akhirnya Spring merelakan kehormatan yang selama ini dia jaga, dan inilah waktunya. Mungkin sebagian orang akan menganggapnya aneh, karena seorang wanita 29 tahun masih perawan dan tidak pernah melakukan hubungan di luar pernikahan. Apalagi, di zaman sekarang, hal itu adalah hal yang kolot.

Namun, bagi pemikiran Spring, hal itu adalah yang paling tabu. Karena sebagai wanita, dia tahu jika melakukan hal seperti itu ujung -ujungnya kaum wanita yang akan dirugikan. Pada dasarnya semua pria adalah pemain handal, dan bermulut manis. Itulah salah satu alasan, mengapa Spring masih menjaga kehormatannya hingga sekarang. Tapi, semua sudah berakhir di hari ini. Sosok  pria dominan dan berkuasa yang kini sedang menyatukan tubuh intinya, sudah berhasil menembus dinding itu.

"Nev...its hurt" lirih Spring, merasakan air matanya luruh karena kesakitan, tapi bercampur nikmat. Sedangkan Nevan merasakan nimat yang sesungguhnya, baru pertama ini dia begitu langsung kecanduan.

"Tenang sayang, astaga kau nikmat sekali!" racaunya serak sambil menggerakkan pinggulnya.

Bibirnya melumat bibir istrinya lagi, semua yang ada dalam diri Spring begitu membuat respon tubuhnya terus bergerak dan tidak mau berhenti.

Spring sendiri masih menekan erat pundak suaminya, sesuatu yang sensual mengalir dalam pembuluh darahnya, bagaikan madu yang hangat.

"Istrirahatlah," ucap Nevan, lalu mencabut area penyatuan mereka, kemudian berbaring di samping Spring, memeluk istrinya dengan erat tanpa sehelai kain. Mereka saling menghangatkan dengan saling berpelukan.

Spring sendiri sudah sangat begitu lelah, dengan kegiatan barusan. Rasanya dia butuh tidur lebih, padahal Nevan hanya memaikan satu kali saja. Astaga, apakah dia terlalu polos?

Nevan mendekap istrinya, sambil mengelus punggung Spring lembut. Istrinya itu lalu meneggakan kepala, menatapnya.

"Apa kau puas?" cicitnya pelan, dia takut jika tidak sesuai ekspetasi. Mendengar pertanyaan itu Nevan menatap lekat dirinya.

"Jika tidak kasihan denganmu yang kelelahan, aku ingin melakukannya sampai pagi," ujarnya serak lalu mengecup bibir Spring dengan lembut.

"Tidurlah, kita masih punya waktu selamanya untuk melakukan hal tadi," lanjut Nevan serak, tanpa sadar membuat pipi Spring merona. Dan akhrinya, sayup-sayup wanita itu menutup matanya karena rasa kantuk yang begitu hebat.

Matahari terbit dengan perlahan, cahaya warna merah yang tembus ke kamar utama itu membuat Spring bisa merasakan kehangatan yang nyaman, akhirnya juga dia terbangun. Wanita bersurai itu ternyata bangun sendiri. Ada rasa sesak di hatinya ketika tidak mendapati Nevan, entah kenapa dia merasa seperti wanita bayaran, yang hanya dipakai kemudian ditinggal begitu saja.

"Sudah bangun?" suara berat Nevan membuyarkan lamunannya, ternyata pria tampan itu sudah rapih. Nevan mengenakan pakaian formal kasual,memakai sweater rajut bergaris hitam berlengan panjang dengan kerah mencetak tubuh bidangnya. Sweater ini dipadukan dengan celana panjang hitam yang serasi. Rambut cokelat tua setengah basah dan berantakan, membuatnya terlihat kuat, dominan yang begitu maskulin.

Nevan berdiri di depan Spring sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana, menatap lekat istrinya.

"Ini..." Nevan menaruh sebuah plastik yang berisi pil di atas nakas.

"Itu pil pencegah kehamilan, dan kau harus minum ini sebelum kita melakukan hubungan," jelas Nevan dengan tegas.

Spring merasakan napasnya sesak, sebegitu hinakah dia sampai harus mengkonsumsi obat tersebut. "Apa..kau tidak mau memiliki anak?" Suara Spring bergetar, kuat-kuat dia mencengkeram selimutnya agar air matanya tidak jatuh.

Nevan mengusap kepala Spring pelan. "Setelah selesai sarapan jangan lupa minum, aku ingin mengajakmu naik yatch juga," balasnya lalu meninggalkan Spring sendiri, tanpa mau menjawab pertanyaan yang di lontarkan Spring.

---

Under His Control [ END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang