PART 45

7.4K 281 23
                                        

Yuk Jangan lupa follow akun ini ya:)

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Yuk Jangan lupa follow akun ini ya:)

Happy Read!

---

Pagi ini Nevan mendadak mendapat panggilan dari kakeknya, katanya Pak Tua itu merasa tidak sehat karena rindu padanya. Sebenarnya pria berwajah tampan ini berencana akan kembali ke rumah, untuk membicarakan permasalahan rumah tangganya. Masalah yang membuatnya gundah tidak menentu selama tiga hari ini, sehingga terpaksa meninggalkan sang istri.

Nevan sendiri masih merasakan ketakutan yang mendalam, mengenai kehamilan istrinya sekaligus khawatir. Memang saat peresmian Tesoro, dia harus ke Limerick untuk bertemu rekan bisnisnya, membicarakan pembangunan hotel baru lagi di kota itu. Karena itu, dia mengutus Robin untuk mengawasi istrinya dan jalannya acara di Tesoro. Namun, karena rasa khawatir menguasainya, dia memaksakan diri untuk pergi ke Tesoro begitu urusan di Limerick selesai. Dan benar, Nevan melihat istrinya terlihat tidak sehat sejak hamil. Itu semakin membuatnya khawatir, dan memutuskan untuk pulang.

Tapi sebelum itu, Nevan harus menemui sang kakek terlebih dahulu. Di satu sisi dia juga merasa sedikit khawatir dengan keadaan kakeknya.

"Pagi Tuan Killian," sapa pelayan mansion David menyambut kedatangan sang cucu tunggal yang beberapa bulan ini tidak pernah bertandang.

Nevan hanya mengangguk singkat. "Di mana kakek dan nenekku?" tanya Nevan langsung.

"Nyonya sedang berkebun di belakang, sedangkan Tuan besar sudah menunggu Anda di ruang kerjanya," jelas si pelayan sopan. Nevan langsung pergi menuju ruangan kakeknya, tanpa menyapa dulu sang nenek.

--

"Grandpa kau baik-baik saja?" Nevan yang langsung masuk ruangan David namun, langsung mendapatkan tatapan tajam dari pria paruh baya bertubuh gemuk yang sedang duduk di meja kebesarannya.

"Ada apa denganmu?" tanya Nevan penasaran, karena tiba-tiba saja suasana di dalam sini terasa tidak menyenangkan.

David kemudian bangun dari duduknya, berjalan tegap penuh wibawa menuju Nevan hingga mereka berdua saling berhadapan. Tidak lama, suara tamparan mengudara dalam ruangan, membuat pipi Nevan merasa kebas sampai tangan besarnya mengusap-usap pipinya.

"Ap-"

"Diam kau!!" hardik David menatap tajam cucu tunggalnya.

"Di mana otakmu Killian? Meninggalkan istrimu yang sedang hamil di mansion sendirian? Apa yang terjadi padamu? Hah?" tuduhan penuh kemarahan dari David membuat Nevan terdiam, manik cokelatnya menatap sang kakek sendu.

"Kau tidak mengerti," suara Nevan berubah parau, kini pria itu menunduk dan tidak berani menatap kakeknya. Ini ke-dua kalinya David menamparnya, yang pertama ketika dulu, usianya 10 tahun. Saat itu, dia kehilangan sang ibu dan berniat untuk melakukan bunuh diri agar bisa menyusulnya ibunya di surga.

Under His Control [ END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang