Budayakan Follow dulu sebelum baca ya🥰
21+
"Aku menyukainya ketika tubuhnya bergetar karena rasa takutnya kepadaku...
Aku menikmatinya ketika wajahnya berubah putus asa memohon kepadaku...
Aku menginginkanya dan akan kupastikan dia berada dalam g...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy Read!
---
Sinar matahari mulai memberikan terang di permukaan bumi, cahayannya mampu menyentuh kulit sehingga membuat terasa hangat. Kini kehangatan itu mulai meraba tubuh kedua insan yang baru saja bergerumul melakukan hal panas. Pelan-pelan Nevan membuka kelopak matanya, lengan kekarnya masih memeluk erat tubuh istrinya. Semalam akhirnya dia berhasil membujuk Spring untuk pulang saja, meskipun istrinya sedang datang bulan, Nevan tentunya tidak melepaskan istrinya begitu saja. Meskipun hanya kegiatan make out yang mampu meredam gairahnya, pria 37 tahun itu cukup puas. Tubuh istrinya mampu membuatnya seperti kecanduaan oleh sesuatu yang terlarang, tidak pernah bisa sembuh apapun penawarnya.
Manik legam tajamnya melirik ke arah sang istri, yang tidur bersembunyi di dalam pelukannya. Jemarinya menyibakkan surai cokelat Spring, lalu menyusuri pipinya lembut. Spring tidak terganggu, karena Nevan rasa istrinya terlalu pulas.
Nevan menatap tajam wajah tidur wanitanya,istri dan miliknya. Namun, tiba-tiba amarahnya terasa memuncak bergerumul menjadi emosi yang mendadak mengerogoti tubuhnya, ketika mengingat bagaimana menyedihkannya Spring mengatakan tentang jika dirinya bukan putri kandung Collin, melainkan anak dari adik tiri Collin. Yang paling menyedihkan, Spring mengetahui jika ayah kandungnya adalah hasil hubungan gelap dari sang kakek. Namun, Nevan sendiri tidak mempermasalahkan sama sekali hal itu. Baginya, asalkan Spring berada di dalam genganggamnya. Sebenarnya, kisahnya juga tidak kalah menyedihkan dibandingkan dengan istrinya, akan tetapi Nevan memilih untuk menguburnya lebih dalam dan tidak mau membebani dirinya sendiri. Nevan membenci hal yang menghalangi ambisinya.
"Jangan khawatir, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu lagi," gumamnya lirih, sambil mengusap bibir sehat istrinya.
Suara getaran ponsel membuat Nevan pelan-pelan melepaskan diri dari pelukannya. Pria yang kini hanya bertelanjang dada itu menyambar ponselnya di atas nakas, samping ranjang. Sekilas dia membaca pesan dari Robin, dan baru teringat jika Nevan meminta asisten yang merangkap sebagai sekretaris dan tangan kanannya itu datang ke mansion.
Nevan pelan-pelan mengurai pelukannya, lalu turun dari ranjang untuk mandi dan bersiap bertemu Robin.
--
"Selamat pagi Tuan Robin. Tuan besar sudah menunggu Anda di kolam renang," sapa pelayan mansion dengan sopan, tadi pagi Nevan sudah memberi perintah jika Robin datang, langsung saja segera ke kolam renang.
Robin tersenyum tipis, lalu mengangguk sopan. "Terima kasih," ucapnya pelan. Pria 30 tahun itu menyusuri lorong mansion Nevan, hingga terlihatlah sebuah kolam renang berbentuk oval, dengan posisi di tengah. Robin melihat bosnya sedang serius berenang. Pria itu kini mendekati kolam, sehingga membuat Nevan menotice dirinya, dan kembali ke pinggir kolam untuk naik.
Nevan terlihat sexy dengan tubuh basah yang membanjiri otot-otot keras perutnya. Kulit kecoklatan emas yang semakin terlihat mengkilap, di bawah sinar matahari pagi yang terasa hangat. Sosok Nevan selalu terlihat mendominasi dan membuat orang terintimidasi hanya dengan tatapan tajamnya. Dan, jangan ditanya soal status cucu tunggal konglomerat Killian, yang sukses menjalankan bisnisnya di manapun. Seakan dunia tidak adil, bahkan Tuhan menciptakan rupa yang tampan dan berkharisma membuat Nevan selalu digandrungi banyak wanita yang menginginkan dirinya, meskipun dia tidak pernah menanggapinya.Dengan sigap Robin menyambar handuk Nevan yang tergeletak di kursi santai.
"Selamat pagi Tuan," sapa Robin sopan, sambil menyerahkan handuk kepada Tuannya.
Nevan tidak langsung menjawab, pria itu membelitkan handuk putih ke pinggangnya lalu duduk di kursi santai. Tidak lama, Nevan menyematkan rokok ke sudut bibirnya, Robin pun langsung menyalakan pemantik ke rokok Nevan hingga menyala. Asap putih tipis terbang bersama dengan udara pagi yang tenang, "Aku hanya ingin dengar jika pekerjaanmu sudah beres," suara berat Nevan membelah di antara mereka. Manik legamnya menatap kolam dengan tajam, sembari menghisap rokoknya lagi.
Robin tersenyum tipis, "Tentu saja semuanya sudah beres Tuan. Anda jangan khawatir, saya sudah mendapatkan informasi yang lebih menakjubkan," jelas Robin begitu sopan, agak bangga dengan misinya kali ini. Jika menyangkut istrinya, Tuannya sangat protektif dan rela menebas siapapun yang menganggu sang Nyonya. Tidak heran ketika kemarin Nyonya Spring mendapat masalah dengan ayahnya, bosnnya ini langsung bertindak cepat. Dengan kata lain, jika ingin membuat musuh menyerah, kita harus memegang kartu AS mereka. Membuat mereka menyerah dan tidak bisa berkutik sama sekali.
Nevan sekilas melirik ke arah Robin, seringai tipis muncul di wajahnya. "Kirimkan buktinya padaku besok," titahnya dingin, kembali menghisap nikotin itu lagi.
Robin setengah menundukkan tubuhnya, lalu mengangguk patuh. "Siap Tuan, ada lagi yang perlu saya lakukan?" Robin bertanya, inisiatifnya saja karena terkadang Nevan selalu memberikan tugas mendadak dan sedikit rumit meskipun dirinya mampu menyelesaikan semua itu.
Hening melanda Nevan, lalu tatapannya kembali ke arah Robin. "Kau sudah selidiki mengenai kecelakaan orang tua kandung istriku?" faktanya Nevan sudah lebih tahu siapa Spring, dia tahu semuanya tentang istrinya. Karena setelah menikah, Nevan gencar mencari informasi lebih tentang keluarga istrinya. Nevan juga sudah curiga, tentang kenapa ayah mertuanya begitu membenci sang istri. Kenyataanya memang apa yang menjadi prediksinya dulu tepat.
"Mengenai itu, saya sudah selidiki lebih dalam. Memang mereka kecelakaan murni, dan tidak ada sangkut pautnya dengan Tuan Collin. Dan kebetulan, jalan yang dulu mereka lewati masih dalam perbaikan dan menurut artikel dulu, memang banyak memakan korban," Robin menjelaskan sedetail mungkin, apa yang dia dapatkan dari proses penyelidikannya.
Nevan masih asyik menyesap rokoknya, menatap kolam sambil mendengarkan apa yang dikatakan Robin. Sayang sekali, jadi semuanya karena kecelakaan biasa. Nevan tidak bisa menyingkirkan mereka semua sepenuhnya, meskipun ancaman dari hal yang dia dapatkan bisa membuat Collin dan keluarganya kapok.
"Aku mengerti, setidaknya ada satu hal yang bisa membuat mereka berpikir dua kali untuk tidak menyentuh istriku lagi," jawabnya dingin, tidak sabar melihat reaksi ayah mertuanya mengenai apa yang dia dapatkan.
"Satu lagi hal yang harus kau urus!" perintah Nevan, menatap datar asisten kepercayaannya itu.
"Apa Tuan?"
"Tolong percepat pembangunan Hotel di Ballsbridge. Aku ingin istriku cepat memilikinya, dan pastikan dia sudah tidak ada lagi urusan dengan Irish Hotel," lanjutnya dengan ekspresi serius. Biarlah mulai sekarang dia saja yang memberikan hal yang tidak pernah Spring dapatkan dari orang tuannya. Apapun itu yang diingkan istrinya akan dia lakukan, Nevan sanggup melakukannya semua kecuali jika Spring meminta pisah padanya. Tentu saja itu tidak akan pernah terjadi.
Robin tersenyum tipis, mendengar kepedulian Nevan tentang istrinya. Meskipun bossnya tidak mau mengakuinya, akan tetapi Robin tahu jika Nevan begitu mecintai istrinya melalui tindakan yang sejauh ini dilakukannya.
"Saya mengerti Tuan," jawab Robin patuh.
Nevan menyesap dalam-dalam rokoknya, dan tidak terasa sudah diujung batang.
"Katakan padaku, apa yang kauinginkan? Kau sudah bekerja keras kali ini," tawar Nevan membuat Robin sedikit terkejut. Pria berkebangsaan Spanyol itu tidak menyangka Nevan akan peduli padanya, padahal selama ini gaji dari bosnya juga sangat besar dan Robin tidak masalah jika dia bekerja sangat keras.
"Tidak usah Tuan, sudah-"
"Apa kau ingin Ronge Rover terbaru? Beli pakai black card yang kau pegang itu," potong Nevan cepat, kalimatnya mengandung unsur perintah dan bukan lagi tawaran.
"Terima kasih Tuan, saya berjanji akan bekerja lebih keras lagi," ungkap Robin sungguh-sungguh, perasaan senang dalam hatinya sangat membuncah. Nevan mengangguk tipis, lalu dia berdiri dari duduknya, "Seharusnya memang seperti itu, jika tidak siap-siap saja hancur," tuturnya pelan, namun terselip nada ancaman yang membuat Robin merinding.
---
Hallo ... apakah masih ada yang menunggu cerita ini?
Maaf ya minggu depan saya tidak up dulu, karena ada ujian negara. Jadi saya harap semuanya bersabar buat menunggu.