Budayakan Follow dulu sebelum baca ya🥰
21+
"Aku menyukainya ketika tubuhnya bergetar karena rasa takutnya kepadaku...
Aku menikmatinya ketika wajahnya berubah putus asa memohon kepadaku...
Aku menginginkanya dan akan kupastikan dia berada dalam g...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Follow dulu sebelum baca ya.
---
Sejak kecil sampai dewasa sekarang, rasa kasih sayang dan perlindungan tidak pernah Spring dapatkan dari keluarganya. Saat kecil pun dia hanya diasuh oleh baby sitter, dan fasilitas yang diberikan ke-dua orang tuanya juga sekedar hal yang biasa. Tidak sampai situ, Spring merasa orang tuanya selalu membandingkan dirinya dengan Anastasia dalam segi apapun. Secara nyata, Spring melihat jika Ayah dan Ibunya lebih mencintai Anastasia daripada dirinya. Pernah dulu dia menginginkan sebuah gaun Dior , untuk pesta prom night, namun yang terjadi Anastasia yang memakai gaun incarannya itu di pesta sekolah. Mulai dari kejadian itu, Spring berusaha untuk menunjukkan jika dia pun bisa menjadi anak yang baik, beprestasi, serta menuruti segala apa yang diucapkan oleh orang tuanya. Namun, semuanya tetap sama saja di mata Ayah dan Ibunya. Tetap Anastasia yang selalu mereka nomersatukan.
Sampai Spring bertanya-tanya sebenarnya siapakah dia? Kenapa orang tuanya tidak bisa memberikan cinta kasih seperti Anastasia. Hingga hari ini, wanita bersurai cokelat itu akhrinya tahu jawaban yang dia cari dari dulu. Rahasia yang tidak ingin dia ketahui, jawaban yang tak mau dia dengar.
"Apa Ayah sedang bercanda?" suara Spring tercekat, rasa mual sampai dia merasakan dadanya ada yang menancapkan belati hingga terasa sakit nan pedih.
Collin tersenyum sinis. "Apa kau pernah melihatku bercanda?"
Spring merasakan lututnya melemas, namun dia masih bisa berdiri meski tubuhnya ingin ambruk.
"Bagaimana bisa?Kalian tega melakukan hal ini padaku?" suara lirih yang begitu menyayat hatinya, dia merasa dipermainkan oleh takdir.
"Tega katamu? Sudah bagus aku mengurusmu sampai sekarang. Jika bukan karena Ayahku, kau sudah telantar Spring!" hardik Collin menatap tajam Spring.
"Ah, jika kau bertanya di mana orang tuamu. Sayang sekali, mereka sudah mati karena kecelakaan sejak umurmu satu tahun mungkin," Collin menjelaskan tanpa minat.
Bulir air mata Spring sudah tidak terbendung lagi, kini napasnya terasa sesak dan semakin muak dengan keluarga ini. Sebegitu tidak berhaganya kah dirinya?
"Kenapa Ayah tidak memberitahuku? Kenapa harus menyembunyikan semuanya?" bentak Spring bercampur gemetar.
"Untuk apa? Selagi aku bisa memanfaatkanmu, kenapa tidak?" Kalimat Collin begitu kasar, membuat hati Spring semakin berdenyut.
"Kenapa Ayah sangat jahat padaku!! Selama ini aku selalu mengalah demi Anastasia, selalu menuruti kemauan kalian. Bahkan aku selalu patuh supuaya kalian semua melihatku walau secuil saja," ungkap Spring panjang, denyut jantung yang seakan meledak akan akan amarah yang selama ini dia pendam puluhan tahun akhirnya meluap.
"Tapi apa yang kudapatkan? Hanya sebuah penghinaan, bahkan perbandingan yang terus menerusku membuatku hampir muak," lanjutnya masih dengan nada tenang. Spring tidak mau semakin menyedihkan lagi di hadapan Ayahnya. Ah ... bukan ayah lagi...entahlah dia juga bingung harus memanggilnya apa.