Budayakan Follow dulu sebelum baca ya🥰
21+
"Aku menyukainya ketika tubuhnya bergetar karena rasa takutnya kepadaku...
Aku menikmatinya ketika wajahnya berubah putus asa memohon kepadaku...
Aku menginginkanya dan akan kupastikan dia berada dalam g...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy Read!
----
Malam di Dublin semakin menampakkan warna gelap yang pekat. Udara yang semakin di suhu rendah, angin yang bertiup sehingga membuat dedaunan jatuh dari pohonya. Rasa dingin menjalar sampai ke tulang, sehingga membuat wanita bersurai cokelat itu merekatkan coat hitam itu kencang sambil megusap-usap lengannya. Waktu sudah menunjukan di angka tujuh malam, dan Spring baru saja kembali dari hotel setelah pertemuanya dengan Nevan Killian Star yang mendebarkan dan berakhir membuat wanita 29 tahun itu merasa tertekan, karena hasil negosiasinya hal yang tidak terduga.
Spring memasuki rumah mewah bergaya casual milik keluarganya dengan pikiran yang tidak tenang. "Selamat malam Nona," sapa pelayan dengan sopan saat pintu terbuka.
"Malam Rola," Spring membalasnya dengan sedikit memaksakan senyum.
Dari sini Spring bisa mendengar suara orang yang sedang berbincang, yang berasal dari ruang makan. Sudah dipastikan jika ayah, ibu dan kakaknya sedang berkumpul untuk makan malam, tanpa menunggu dirinya.
"Selamat malam semuanya," Spring menyapa nada pelan, tersenyum sendu melihat mereka yang sepertinya bahagia jika tidak ada dirinya.
"Spring, akhirnya kau pulang cepat!" seru wanita yang usianya diatas Spring satu tahun, dengan rambut panjang cokelat honey brown terurai.
"Bagaimana hasilnya? Ayah harap kau membawa berita baik!" cerca Collin menatap acuh Spring, setelah memasukan potongan salmon panggang ke dalam mulutnya.
"Sayang, biarkan Spring makan malam dulu," tegur wanita paruh baya yang masih memiliki wajah yang cantik, meskipun sedikit kerutan terukir di sela-sela sudut matanya.
Collin menghela napas panjang lalu menatap Spring datar, "Duduklah, lalu ceritakan apa yang terjadi," titahnya dengan tegas.
Spring menarik kursinya, setelah melepaskan coat yang lalu diberikan kepada pelayan.
"Ayah, ibu dan Spring aku punya kabar bahagia untuk kalian," sela Anastasia dengan wajah sumringah. Tawa riangnya berderai di ruang makan.
Jemari lentik bercat merah mawar itu, dia pamerkan ke keluarganya, dan tersematlah cincin berlian permata hijau zambrut Tiffany&Co di jari manisnya.
"Bennedict melamarku Ayah Ibu!" riang Anastasia menatap kedua orang tuanya dengan binar kebahagiaan.
"Ya Tuhan, selamat sayangkuu." Flora, memberikan ucapan kepada anak sulungnya, sambil menutup mulutnya dengan gaya anggun.
"Akhirnya kau akan menikah sayang," lanjut Collin ikut merasa senang, sebentar lagi dia akan memiliki mantu seorang Chef terkenal di Industri Pastry .
Semuanya tertawa bahagia, tanpa tahu perasaan sesak yang menghantam Spring ketika mendengarnya. Bagaimana tidak? kakaknya tahu jika Bennedict adalah pria yang dia cintai dalam diam, bahkan Anastasia juga mendukung dirinya untuk segera menyatakan perasaan. Namun, karena dulu dia masih terlalu fokus dengan pendidikan dan karirnya, akhirnya Spring menundanya. Alasanya, karena dia hanya ingin menjadi wanita yang tidak mudah dipandang rendah oleh orang-orang.