Budayakan Follow dulu sebelum baca ya🥰
21+
"Aku menyukainya ketika tubuhnya bergetar karena rasa takutnya kepadaku...
Aku menikmatinya ketika wajahnya berubah putus asa memohon kepadaku...
Aku menginginkanya dan akan kupastikan dia berada dalam g...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy Read!
---
Sudah seminggu lebih, setelah kejadian Spring mengetahui siapa dirinya, wanita ini tidak berkomunikasi sama sekali dengan ayah, ibu dan Anastasia. Meskipun Spring tidak tahu jika saudarinya itu apakah sudah tahu apa belum mengenai status mereka, yang aslinya sepupuan bukan saudara kandung. Tapi, pastinya ayah dan ibunya tidak akan menyembunyikan hal ini juga dari Anastasia, apalagi saudarinya baru saja menikah.
Harusnya mereka minta maaf karena sudah merahasiakan hal penting ini darinya. Namun, tidak ada satu pesan pun yang masuk, bahkan Anastasia sendiri sepertinya juga tidak peduli.
Memang di dunia ini hal sederhana seperti kata 'maaf' sangat sulit dikatakan, untuk orang-orang yang merasa dirinya tidak bersalah. Apakah Spring tidak pantas meminta hal seperti itu? Yah, dari dulu dia memang tidak dianggap penting oleh keluarganya.
Wajah sendu terlihat dari pantulan cermin, ketika dia selesai memoles lipstik MAC dusty pink ke bibirnya. Rasa sakit hati yang dia rasakan terlalu dalam, sehingga membuat tatapannya terasa kosong.
"Mau ke mana kau?" suara serak Nevan membuyarkan kesedihannya, kini pria itu berdiri di belakang Spring yang sedang duduk di meja rias. Manik legamnya menatap lekat Spirng dari pantulan kaca, sembari tangan kekarnya menekan kedua bahu rapuh istrinya.
Spring menatap suaminya dari cermin, tersenyum tipis. Nevan terlihat memukau dengan kemeja polo lengan panjang berwarna cream, dipadu celana kain cokelat tua. Santai namun, tetap mendominasi seperti biasa.
"Aku hari ini harus menemui Lisa, mantan sekretarisku. Sepertinya Anastasia sudah tahu, dan otomatis ayah akan menggeser posisiku," jelas Spring, menatap Nevan sendu, lalu wanita itu berdiri hingga berhadapan dengan suminya.
Nevan berdecak mendengar istrinya yang begitu terlihat sedih, tangan besarnya menangkup kedua pipi Spring. "Kau ini lupa? Kau tidak membutuhkan semua itu, sebentar lagi kau akan jadi CEO hotel di Ballsbridge, aku sudah mengaturnya semua," Nevan menatap manik cokelat Spring begitu dalam, dia paling tidak suka melihat Spring sedih karena faktor lain. Tidak ada yang berhak kecuali dirinya.
"Bulan depan, mungkin kau sudah mulai bekerja di sana. Nanti akan ada anak buahku yang menjelaskannya," lanjut Nevan mengecup bibir pink istrinya lembut.
Spring terkejut dengan kecupan Nevan. Bahkan sampai sekarang dia masih belum terlalu terbiasa dengan sentuhan intim suaminya, meskipun tubuhnya setelah itu merasakan kehilangan.
"Apa kau serius? Ini terlalu cepatkah?" tanya Spring menatap Nevan gugup, sorot matanya menyiratkan kecemasan dan rasa tidak percaya diri.
Nevan menarik pinggang mungil istrinya, agar wanita itu merapat ke dada bidangnya lalu memeluk erat istrinya sambil menghirup puncuk kepala.