Part 47

7.8K 274 11
                                        


Happy Read!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Happy Read!

---

Hari ini Nevan sukses dibikin hampir gila oleh istrinya, ratusan kali pria itu menghubungi istrinya tapi tidak ada jawaban. Hampir saja dia menyuruh polisi untuk mencari keberadaan istrinya, dan jika perlu ingin mengobrak-abrik seluruh Dublin demi mencari istrinya. Namun, semua pikiran gila itu hilang ketika Robin memberitahu kalau di dalam mobil Spring ada alat pelacak. Dan terakhir dilacak, istrinya ada di kediaman Irish. Setelah hampir satu jam, gps tersebut mengarah ke homestay yang berada di pusat kota. 

Akhirnya Nevan menyusul Spring ke homestay, dan tidak habis pikir apa yang ada di pikiran istrinya sehingga sampai di sini. Satu hal yang membuat Nevan sadar, jika membujuk wanita hamil yang sedang merajuk lebih sulit, daripada membujuk investor. Apalagi wanita memiliki pemikiran yang sulit dimengerti, untuk pria yang tidak mengerti cinta sepertinya.

"Ayo, kita pulang ya ..." suara Nevan melemah, wajahnya mengadah ke atas, karena pria itu masih dalam posisi berlutut sambil memeluk erat perut istrinya.

"Aku tidak mau pulang. Aku mau di sini!" tegas Spring, kekeh terhadap pendiriannya.

Nevan mencoba menghela napas panjang, lalu terpaksa dia berdiri. "Baiklah, kita menginap di sini seminggu," putus Nevan juga tidak kalah tegas, meskipun kali ini dia harus menurunkan egonya.

"Siapa bilang kau boleh di sini. Kau pulang saja sana!" usir Spring, membuat Nevan meraih pinggang istrinya sehingga mereka saling menatap.

"Kau tidak kasihan padaku? Grandpa habis menamparku," ujarnya lembut menatap sang istri sayu dan menyedihkan.

Mendengar kalimat itu, sorot mata Spring berubah lunak dan sedikit khawatir.

"Apa? Kenapa Grandpa menamparmu?" kini jemari lentiknya mengusap pipi suaminya yang terlihat memerah pekat.

"Hmm ... sebaiknya kita bicara di dalam ya, di sini sudah mulai panas dan tidak baik untuk wanita hamil," Nevan berusaha membujuk lembut, lalu menggandeng tangan istrinya yang mulai menurut saja dengannya untuk masuk ke homestay tersebut.

Mereka berdua akhirnya masuk ke kamar yang ada di dalam homestay tersebut, dan ruangan ini begitu terasa hangat dan nyaman. Nevan menuntun istrinya untuk duduk di ranjang, sedangkan dia menarik kursi meja rias lalu duduk sedikit menundukkan tubuhnya supaya lebih dekat dengan istrinya, kemudian pria itu mengenggam tangan Spring.

"Jadi, kenapa Grandpa menamparmu? Apa kau melakukan kesalahan?" Spring langsung membrondong banyak pertanyaan. Jujur saja dia khawatir, karena selama menikah dengan Nevan, hubungan keluarga ini begitu harmonis.  Apalagi sosok David yang lembut dan terlihat sangat sayang kepada Nevan. 

"Itu karena aku menyakiti istriku," balas Nevan kecut, teringat ucapan David yang begitu menempel pada pikirannya saat ini.

"Maafkan aku Rose, karena menjadi suami yang pengecut dan jahat padamu," sesal Nevan kini pandangannya menunduk, dan mendadak dia merasa tidak percaya diri menatap istrinya.

Perilaku tersebut membuat Spring luluh, mungkin cintanya kepada Nevan sudah sangat lekat. Sehingga jemari Spring kini menyisir rambut cokelat Nevan yang terlihat berantakan.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu di masa lalu Nev, sehingga kau bersikap menolak kehadiran anakmu," ungkap Spring sedih,

"Maaf, aku terlalu cemas karena takut tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk anak kita," Nevan mengecup tangan istrinya. Perilaku kemarin sebenarnya dipicu karena emosi negatif. Peristiwa masa lalu yang masih menggerayangi hidupnya, sehingga membuatnya stres dan tidak terkendali. Akibat perasaan masa lalu yang yang akhirnya mempengaruhi masa sekarang.

"Apa yang kau takutkan? Ada aku yang akan selalu di sampingmu selalu. Aku pun juga masih takut menjadi seorang ibu. Tapi sekaligus bahagia, karena aku merasa menjadi wanita yang sempurna karena bisa mengandung Nev," Spring berkata pelan, mencoba menelisik alasan di balik sikap suaminya kemarin.

"Ya, aku tahu. Ini salahku yang terlalu jauh memikirkan segala hal," jawab Nevan tidak mengelak.

Spring masih diam sambil menatap suaminya yang terlihat berat jika berbicara tentang masa lalu. "Jika tidak keberatan, maukah kau berbagi denganku rasa takutmu itu? Kita bisa bicarakan lebih terbuka lagi," bujuk Spring kini jemarinya mengelus rahang Nevan lembut.

"Suatu saat nanti aku akan ceritakan ... " jeda Nevan, karena sejujurnya dia belum siap seratus persen.

"Rose, aku bukan pria yang terlalu mengerti soal percintaan. Tapi, yang kutahu aku sekarang tidak bisa jika tidak melihatmu, tidak bisa jika kau tidak tidur di sampingku, dan yang jelas aku sangat takut kehilangannmu," Nevan mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya, pikirannya saat ini. Meskipun kalimat ini jauh dari kata romantis, karena dia hanyalah seorang pebisnis yang hanya bisa berpikir bagaimana mendapatkan kesepakatan yang menguntungkan, bukan pujangga yang pandai merayu wanita.

Spring berkaca-kaca mendengar kalimat Nevan, terdengar begitu putus asa dan takut sekali jika ditinggalkan.

"Aku tidak akan meninggalkanmu, kecuali kau bersama wanita lain Nev. Mungkin perilakumu selama ini membuatku sedikit tertekan, tapi aku sangat merasa aman jika berada di dekatmu," jawab Spring sungguh-sungguh. Jujur saja, meskipun sifat dominan dan otoriter membuatnya sedikit tidak nyaman, namun di satu sisi Nevan selalu mengupayakan yang terbaik untuknya. Memberikan segala kebutuhannya, termasuk melindunginya dari hinaan keluarganya dulu.

Nevan menggeleng keras, tatapannya langsung tajam. "Aku tidak akan melakukan itu. Lebih baik kau bunuh aku Rose, jika aku melakukan penghianatan!" sorotnya berubah tegas.

Spring terkekeh pelan. "Aku tidak akan membunuhmu, karena sebentar lagi aku adalah seorang ibu yang akan mengajarkan kelembutan untuk anak kita nanti," Spring tersenyum bahagia ketika membahas tentang anak yang dikandungnya. Dan hal itu membuat senyum tipis terbit di bibir Nevan. "Sekali lagi maafkan aku Rose," ucap Nevan sembari mengecup berkali-kali tangan istrinya.

"Aku juga minta maaf, karena tadi membentakkmu. Entahlah, akhir-akhir ini aku merasa sangat sensitif Nev," desahnya merasa menyesal.

"Tidak Rose, kau berhak marah karena sikapku yang sangat pengecut dan berengsek. Semua itu terbayarkan dengan tamparan dari Grandpa," ucap Nevan muram, menyesali apa yang dia perbuat. 

"Mungkin aku tidak tahu rasanya mengandung, tapi akan kupastikan segala yang kau inginkan akan kuturuti. Aku tidak akan membiarkanmu melewati kehamilan ini sendirian, dan sekarang tugasmu cukup bahagia menanti kelahiran anak kita. Paham?" Nevan kini berusaha untuk membuat istrinya bahagia dan nyaman.

Spring mengangguk pelan sekaligus terharu mendengar penuturan suaminya, dan dia merasa sifat Nevan perlahan lebih hangat dan peka. Tanpa permisi Spring mengecup bibir suaminya, "Terima kasih Nev, aku bahagia memilikimu."

Nevan termangu dengan sikap implusif istrinya, detik itu juga dia meraup pipi istrinya, mencium bibir yang sudah dia rindukan selama tiga hari ini.

"Mari kita besarkan anak kita Rose, dan terima kasih sudah mau berkorban untukku," tutur Nevan lembut, dan bibir mereka kembali saling menyatu. Memperlihatkan perasaan mereka masing-masing, dan kali ini Nevan dan Spring akan berusaha untuk menjadi orang tua yang baik untuk buah hatinya. 

----

Makasih buat kalian yang suka cerita ini. 

Minggu depan cerita ini tamat ya, dan mungkin ada satu ekstra part klo tidak sibuk hehehe

Maaf, akhir-akhir ini kesehatan saya agak turun

Semoga kalian sehat selalu... Love you guys. 

Under His Control [ END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang