Budayakan Follow dulu sebelum baca ya🥰
21+
"Aku menyukainya ketika tubuhnya bergetar karena rasa takutnya kepadaku...
Aku menikmatinya ketika wajahnya berubah putus asa memohon kepadaku...
Aku menginginkanya dan akan kupastikan dia berada dalam g...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy Read!
---
Nevan melempar kencang ponselnya ke meja, hingga bunyi keras menggema ruangannya.
Amarahnya mendidih mendengar siapa yang berani menerima ponsel istrinya. "Brengsek! Apa yang pria itu lakukan di sana!" umpatnya keras, suaranya menggelegar, kedua tanganya mengepal. Untung saja tidak ada orang di sini, maka jika ada dialah orang yang paling malang karena akan menjadi sasaran murkanya. Dan kini, pikirannya mulai kalut, bertanya-tanya apa yang dilakukan Spring dengan Ben di Tesoro? Dan tadi apa? Istrinya tidak sadarkan diri?
Bergegas pria itu langsung menekan interkom, memanggil sekretarisnya. "Robin antar aku ke Tesoro sekarang!" titahnya tegas, tanpa menunggu jawaban sekretarisnya dia langsung memutuskan panggilan. Nevan sedang dalam keadaan kalut dan marah, karena itu tidak sampai dua menit Robin masuk ke ruangan, terlihat sekali pria itu bergerak cepat.
"Maaf Tuan ada apa?" tanya Robin tenang, meskipun dia tahu, jika bosnya sedang tidak baik-baik saja. Terlihat dari rahang Nevan yang mengetat, dan wajahnya yang berubah merah.
"Apa aku harus mengulang kalimatku tadi! Jangan bikin aku mematahkan lehermu!" bentak Nevan, lalu melenggang sembari diikuti Robin dengan wajah gugupnya.
"Maaf Tuan," ucapnya cepat, kemudian berlari sampai ke arah pintu keluar ruangan, lalu mempersilahkan Nevan keluar dahulu dengan membukakan pintu itu.
---
Sampai di Tesoro, Nevan keluar dari mobilnya dengan menutup pintu penumpang sangat keras. Sedangkan Robin, langsung memberikan kunci mobil kepada petugas, ketika sampai di lobby . Nevan sudah mendahului Robin, dengan langkah besarnya. Namun, tentunya tidak sulit mengikuti pria itu dari belakang karena tinggi dan tubuh Robin hampir sama dengan Nevan.
Semua yang berada di Tesoro menatap takut kedatangan sang Tuan. Ekspresi Nevan yang masih keruh tidak gentar menyurutkan aura dominasinya, sehingga para staf hotel tidak ada yang berani menyapanya, hanya menunduk saja.
Robin langsung sigap menekan tombol lift, masih berusaha tenang dan bertanya-tanya hal apa yang membuat bosnya sampai semarah ini.
Mereka berdua sampai di lantai paling atas, tempat ruangan istrinya berada. Dan kedatangan mereka disambut Lisa yang sudah terlihat panik dan gugup setengah mati.
"Bagaimana istriku?" to the point Nevan, menatap tajam Lisa.
"Maaf Tuan, Nyonya di dalam d.a.n masih tidak sadarkan diri," jawab Lisa terbata-bata, hingga tidak sadar keringatnya keluar di pelipis. Tidak sadar jika ekspresi Lisa, membuat sosok Robin yang berada di belakang Nevan menahan tawanya, karena gemas melihat wanita tembam itu sedang menahan diri agar tidak ikut pingsan menghadapi amarah bosnya.