Budayakan Follow dulu sebelum baca ya🥰
21+
"Aku menyukainya ketika tubuhnya bergetar karena rasa takutnya kepadaku...
Aku menikmatinya ketika wajahnya berubah putus asa memohon kepadaku...
Aku menginginkanya dan akan kupastikan dia berada dalam g...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy Read!
---
Keheningan melanda pasangan suami istri di dalam hotel mewah ini. Suasana semakin terasa sensual dan tegang. Spring membuang pandangannya, merasa sangat takut terhadap respon Nevan yang sedari tadi hanya diam. Posisi mereka masih sama seperti tadi, bahkan pelukan suaminya semakin kencang.
"Nev," lirih Spring, pelan-pelan mengangkat dagunya dan menatap sayu sang suami.
"Aku akan siap-"
"Aku tidak peduli Rose, sekalipun kau mantan pelacur," selanya dengan tegas, pria itu mengusap air mata Spring lembut.
"Kau lupa? Aku hanya menginginkanmu, tidak peduli siapa dirimu. Asalkan kau tetap berada di bawah jangkauannku, itu tidak masalah," ungkapnya penuh dominasi, persetan dengan yang lain, hanya istrinya yang dia mau.
Mendengar kalimat Nevan, wanita itu menelusupkan wajahnya di dada keras sang suami. Spring menangis, begitu menyayat hati, meluapkan apa yang menjadi bebannya selama ini. Dalam hidupnya, meskipun dia mengupayakan hidupnya sendirian, akan tetapi di dalam dirinya dia merasa sangat rapuh dan tidak sanggup menghadapi keluarganya. Spring butuh sosok yang bisa membuatnya dianggap.
"Aku sangat lelah Nev," isaknya semakin membuat cengkeraman tangan Nevan kencang.
"Aku tidak menyangka, mereka sangat jahat padaku ... selama hidup aku tidak pernah membuat susah mereka, bahkan aku selalu mengusahakan semuanya sendiri," suara pilu Spring teredam oleh pelukan Nevan. Pria itu merasakan dadanya diremas, menutup matanya sejenak untuk menahan amarah yang sudah sampai akar kepala.
"Rose," panggil Nevan, suaranya dalam hingga Spring bisa dengar dari getaran dada bidang Nevan. Jemari besar suaminya menyisir rambut panjang Spring pelan, bibirnya mengecup puncak kepala istrinya. Lalu dia merengangkan pelukan itu sebentar, menatap lekat Spring yang masih terisak. "Dengarkan aku Rose," titahnya dominan, kemudian jempolnya mengusap pipi basah istrinya.
Spring menatap sendu suaminya, entah mengapa dia merasa lega mengungkapkan semuanya, seakan hilang terbang terbawa angin. Ternyata memiliki suami seperti Nevan, tidak buruk juga.
"Aku kan sudah pernah bilang, jika sejak menikahimu aku adalah satu-satunya keluargamu," lanjut Nevan dengan nada serius.
"Kau hanya boleh bergantung padaku, suamimu ini yang akan selalu melindungimu dan maju paling depan ketika ada yang menyakitimu. Larilah padaku ketika kau sedih, tumpahkan segalanya padaku, karena aku tidak suka melihatmu menangis seperti ini," Nevan mengungkapkan dengan sungguh-sungguh, manik cokelatnya menggelap seakan menyimpan kemarahan yang tersembunyi. Yah, dia memang sudah menyiapkan sesuatu untuk memberi sedikit pelajaran pada keluarga istrinya, terutama Collin Irish.
Mata Spring berkaca-kaca, tidak menyangka Nevan akan mengatakan hal seindah ini menurutnya. Apakah ini maksud Granny? Cara suaminya mencintai berbeda dengan orang lain. Jika pria lain mengungkapkan dengan hal romantis dan berkata manis, namun tidak dengan suaminya yang lebih mementingkan kenyamanan hidup pasangannya.