EKSTRA CHAPTER II

10K 237 17
                                        


Happy Read!

---

After 3 Year

"Setelah itu Cinderella meni-"
"Ayah! Hentikan membacanya," sela bocah perempuan berumur 3 tahun, dengan wajah masam menatap Nevan kesal. Jari telunjuk gemuknya digoyangkan dihadapan sang Ayah.
"Ada apa Princess? Tadi minta Ayah bacakan dongeng? Hmm?" tanya Nevan lembut, mencium pipi gembil putrinya yang menggemaskan. Tubuh gempalnya terbalut piyama donald bebek. Malam ini Nevan berjanji membacakan dongeng Cinderella, setelah putrinya mengoles cat kuku warna pink pada jari-jari besarnya.

 Malam ini Nevan berjanji membacakan dongeng Cinderella, setelah putrinya mengoles cat kuku warna pink pada jari-jari besarnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kebetulan istrinya mengabari pulang terlambat karena ada rapat dengan para staf mengenai keuangan Tesoro selama satu tahun.
Marigold menatap lekat Nevan, bersedekap sambil memalingkan wajahnya. "Ayah membaca dongeng seperti membaca dokumen," kesalnya, suaranya begitu kecil dan menggemaskan.

Nevan terkekeh geli mendengar protes dari putri kecilnya. Pria itu seperti melihat dirinya versi perempuan kecil, setiap kali Marigold menatapnya. Manik cokelat pekat Marigold ,
mirip dengannya ketika menatap lawan bicaranya penuh dominan.

"Oh, maafkan ayahmu ini Princess. Astaga kenapa kau begitu menggemaskan!" Nevan mencubit lembut pipi gembil Marigold, lalu menyisir rambut cokelat ikal yang sangat mirip dengan Spring. Perpaduan yang sempurna.

"Suara ayah seperti beruang, tidak seperti ibu yang lembut. Mari tidak suka!uhh," bocah perempuan itu masih meluapkan kesalnya, dan Nevan tahu jika putrinya ini sudah mengantuk karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.

"Kenapa begitu? Ayah sangat sedih Princess, apa Mari sudah tidak sayang ayah?" Nevan mengecup pipi putrinya sayang, menatap hangat buah hatinya yang tidak terasa sudah berusia 3 tahun. Rasanya sangat luar biasa ketika menjadi seorang ayah dari seorang putri yang begitu cantik dan menggemaskan.

Tatapan Marigold berubah menjadi sendu, tubuh kecilnya memeluk Nevan. "Mari sayang ayah," jawabnya dengan suara kecil. "Kalau sayang ayah, coba kiss wajah ayah?" Nevan menunjuk pipinya. Marigold hanya cekikikan, "Ayah, tapi Mari ingin susu di botol," pintanya lembut, sebelum memberi ciuman. Nevan yang mendengar permintaan putrinya tertawa kecil. Sudah tidak perlu tes DNA lagi karena sudah pasti sifatnya memang menurun. Negosiasi yang lucu.

"Baiklah, tapi ini yang terakhir ya Princess, kau sudah tidak boleh pakai botol. Namun, khusus malam ini saja dan kedepannya tidak ada lagi. Oke?" tutur Nevan pelan namun terdengar tegas.

Marigold mengangguk cepat, manik cokelatnya berbinar senang. "Iya Ayah, terima kasih ayah!" serunya langsung menciumi pipi Nevan yang dipenuhi jambang tipis.

"Ayah akan buatkan susu dulu," Nevan lalu menggendong Marigold, menurunkan dari ranjang. Pria itu membuat susu yang  takarannya sudah disiapkan Spring.

Nevan mengkocok botol  dot itu pelan. "Ayo kita kembali ke kasur lagi," ajaknya  menggandeng  jemari kecil untuk kembali ke kasur.

Marigold menerima botol itu, tubuh gempalnya merebahkan di atas kasur dengan Nevan yang tidur di sampingnya. Bocah perempuan itu mulai mengedot susu dari botolnya sembari jemarinya mengusap-usap telinga Nevan sampai tertidur, salah satu kebiasaan Marigold ketika akan tidur. Sedangkan Nevan menepuk-nepuk pantat Marigold pelan.

Under His Control [ END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang