Part 42

7K 252 25
                                        

Happy Read!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Happy Read!

---

"Nyonya, apa Anda baik-baik saja?" sayup-sayup Spring mendengar suara dari balik pintu. Wanita bersurai cokelat itu perlahan membuka kelopak matanya, dan rupanya dia tertidur pulas sejak pagi sampai menjelang sore. "Astaga," desahnya, kemudian bangun dan menyenderkan tubuhnya ke dasbor ranjang. Manik cokelatnya melirik ke arah jendela, dan ternyata langit sudah berwarna jingga menuju gelap. Ah, rupanya dia menangis seharian setelah pertengarannya dengan Nevan, lalu tertidur dengan sendirinya.

Seketika rasa sesak menyelimuti hatinya kembali, teringat ekspresi terakhir suaminya begitu membekas dalam ingatannya. Spring lebih baik ditatap penuh intimidasi dan dominan, daripada sorot kecewa terhadap kehamilannya.

"Nyonya?" panggil si pelayan dengan suara cemas, membuat helaan napas dan membuat wanita itu turun dari ranjang dan membuka pintu kamarnya.

"Aku baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir," suara lemas Spring semakin membuat si pelayan cemas.

"Tapi wajah Anda pucat sekali Nyonya," ujarnya dengan sopan, membuat Spring tersenyum lembut.

"Hmm, kalau begitu bisa minta tolong buatkan aku susu jahe dan panaskan sepotong croissant. Aku sedang ingin itu," ungkap Spring, sepertinya dia sudah mulai ngidam.

"Tentu saja Nyonya, saya akan segera buatkan." Pelayan itu lalu berbalik kemudian dicegah oleh Spring.

"Bella?"

"Eh, iya Nyonya ada lagi?"

Spring mengigit bibir bawahnya pelan. "Apa kau melihat Tuan pulang lagi setelah dia pergi? Maksudku, selama aku tidur pulas tadi."

Tidak tahan karena penasaran, akhirnya dia menanyakan keberadaan suaminya.

Bella menggeleng pelan."Tidak Nyonya, sampe sekarang Tuan belum pulang lagi."

"Yasudah, kau boleh kembali," jawab Spring sambil menghela napas, kemudian menutup pintu kamarnya.
Dadanya semakin terasa sesak, memikirkan tentang Nevan. Apakah suaminya akan menceraikannya, karena dia hamil? Pikiran-pikiran buruk seketika memenuhi isi kepalanya.

"Oh, ayolah kau tidak boleh stres. Kau harus kuat," monolognya untuk menguatkan diri sendiri. Spring tidak boleh egois, karena sekarang ada sosok yang tumbuh dalam dirinya.
Suara ponsel tiba-tiba membuat lamunannya terdistraksi. Wanita bersurai cokelat itu merogoh tas yang ada di atas kasur.

"Ben?" Spring menatap layarnya gamang, ragu untuk menerima panggilan dari Ben, namun akhirnya dia menekan tombol hijau.

"Hallo Ben," jawab Spring dingin.
"Spring? Apa kau baik-baik saja? Maaf aku tadi lancang karena mengangkat ponselmu, dan ternyata suamimu yang menelpon. Jadi aku menjelaskan apa yang terjadi padamu." Cerocos Ben sembari menjelaskan kejadian tadi pagi.
Spring terdiam sejenak, mencoba untuk mencerna ucapan Ben, lalu dia menghela napas panjang.

Under His Control [ END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang