Budayakan Follow dulu sebelum baca ya🥰
21+
"Aku menyukainya ketika tubuhnya bergetar karena rasa takutnya kepadaku...
Aku menikmatinya ketika wajahnya berubah putus asa memohon kepadaku...
Aku menginginkanya dan akan kupastikan dia berada dalam g...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy Read!
--
Spring memutuskan untuk mengambil cuti satu hari, karena pagi ini dia ingin mengunjungi kediaman Irish. Ada hal penting yang ingin dia tanyakan, tentunya mengenai orang tua kandungnya. Akhirnya dia datang ke sini, setelah sekian lama dia tidak pernah lagi. Mungkin sejak menikah, dan tentunya sejak hubungan mereka renggang karena status Spring yang bukan keluarga kandung mereka.
"Selamat pagi," sapa Spring, kepada salah satu pelayan di rumah.
"Selamat pagi Nona Spring, sudah lama sekali tidak kemari," sapa pelayan tersebut dengan nada riang, karena sudah lama bekerja di kediaman Irish.
Spring hanya tersenyum simpul. "Hari ini aku datang, dan bisakah kau panggilkan ibuku?"
"Baik Nona, tunggu sebentar. Sekalian saya buatkan teh untuk An-"
"Oh, aku tidak ingin itu. Bisakah kau buatkan aku susu jahe?" sela Spring menolak dibuatkan the hangat seperti biasa, karena mulai sejak saat ini dia ingin mengurangi kafein demi kandungannya.
Pelayan itu mengangguk mengerti, kemudian meninggalkan Spring di ruang tamu. Sembari menunggu, wanita bersurai cokelat itu duduk di sofa, menyenderkan punggungnya, lalu menghela napas sejenak. Saat ini dia ingin menyepi dulu, sebelum bicara serius dengan sang suami.
"Akhirnya kau datang," suara Flora membuat Spring menoleh ke arah wanita menjelang paruh baya itu. Flora masih terlihat cantik dan anggun, meskipun usianya memasuki 56 tahun. Namun, karena hidup sehat dan perawatan yang tidak sedikit.
"Ibu, maaf mengganggu pagimu," sapa Spring berdiri, mencium pipi Flora.
"Tidak Spring, aku senang kau berkunjung." Flora menunjukkan senyum hangatnya.
"Sekaligus, aku ingin minta maaf dengan apa yang terjadi dengan keluarga kita," sambung Flora, merasa canggung dengan persoalan ini.
Spring menggeleng pelan, sebenarnya dia sudah tidak mempermasalhkan. "Aku tidak masalah bu, hanya saja ada yang ingin aku tanyakan," jawab Spring, manik cokelatnya menatap Flora ragu-ragu.
"Apa kau ingin menanyakan tentang orang tua kandungmu?" tebak Flora, membuat Spring mengangguk.
"Apakah Ibu tahu di mana makam ke-dua orang tuaku?" Spring langsung bertanya pada intinya.
Flora menatap sendu Spring, tiba-tiba saja rasa bersalah bergelayut dalam dirinya. Dia tahu tidak seharusnya ikut membenci Spring, hanya karena rasa sakit hati suaminya. Spring tidak pantas mendapatkan perlakuan tidak adil, dulu dia hanyalah seorang anak yatim piatu yang mendadak ditinggal orang tuanya.
"Elise dan Brixton di makamkan di Glasnevin Cemetery nak. Ayah sengaja menyatukannya dengan almarhum kakekmu," jelas Flora tidak sadar matanya berkaca-kaca.
"Terima kasih bu, dan aku harap kau tidak merasa bersalah. Aku pun tidak memiliki dendam kepada kalian. Aku justru sangat berterima kasih, karena kalian mau merawatku sampai dewasa," ungkap Spring tulus, dia tidak mau menaruh kebencian pada keluarga ini. Terlebih dia adalah calon ibu yang di masa depan, akan mengajarkan kepada buah hatinya kelak tentang sebuah hati yang tulus dan arti memaafkan.