PART 41

6.8K 272 19
                                        


Happy Read!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Happy Read!

---


Dua garis...

Tangan Spring gemetar ketika melihat hasil test pack , setelah dia melakukan pemeriksaan sendiri di kamar mandi. Tubuh wanita itu gemetar hingga rasanya sang jiwa seakan melayang entah ke mana. Kedua kakinya terasa seperti dipaku, tidak bisa bergerak sejenak. Wanita itu meremas tes pack itu kencang, mencoba menarik napas panjang lalu membuangnya pelan. Spring mencoba untuk lebih siap menghadapi reaksi suaminya. Namun, di sisi lain Spring juga merasakan kebahagiaan sebagai seorang wanita, mengingat usianya hampir menginjak 30 tahun. Baiklah, dia sudah siap semua untuk ini. Lagipula dia juga punya suami, meskipun Spring tidak yakin jika Nevan akan menerimanya. Oh, astaga dia takut sekali melihat reaksi sang suami.

Akhirnya, dengan langkah pelan, wanita itu keluar dari kamar mandi. Sejenak dia melirik ke arah suaminya sedang berdiri di dekat jendela dengan melipat tangan ke dada, menatapnya dalam, penuh intimidasi.

"Bagaimana hasilnya Nyonya?" suara lembut sang Dokter membuat Spring kembali menatap sang dokter lalu tersenyum tipis.

"Aku hamil dok," ucapnya sekali napas sembari menyerahkan tes pack itu, membuat Dokter Magenta tersenyum.

"Wah, selamat untuk Nyonya dan Tuan, sebentar lagi kalian akan menjadi orang tau," ujar Dokter Magenta tulus. Spring bisa merasakan perubahan ekspresi wajah Nevan yang semakin mengeras. Seakan ada amarah yang tertunda.

"Saya akan meresepkan vitamin, dan dokter kandungan terbaik di Dublin," sambung Dokter Magenta kemudian menuliskan resep dan memberikannya kepada Nevan.

"Terima kasih Dok. Sekretarisku akan mengirim tagihannya segera," celetuk Nevan , mengantar  Dokter Magenta keluar dari kamarnya, dan Spring sadari jika suara Nevan berubah dingin, begitupun dengan ekspresinya.

"Sama-sama Tuan, kalau begitu saya permisi," pamit Dokter Magenta, hanya diangguki Nevan sebagai jawaban. Kemudian pria itu menutup pintu kamarnya, lalu berbalik menatap kembali istrinya yang sudah terduduk di ranjang.

"Hamil? Bagaimana bisa ini terjadi?" tanya Nevan setenang air laut yang siap diterjang ombak. Namun, justru itulah yang membuat Spring merasa gelisah. Wanita itu menundukkan pandangannya, tangannya gemetar mengenggam erat lengannya, seakan menjadi tumpuan untuk menguatkan diri.

"Aku lupa minum pill yang kau beri," terang Spring pelan, tidak berani menatap manik legam itu.

"Jika sedang bicara, tatap lawan bicaramu Spring," balas Nevan tegas, membuat jantung Spring terasa dipukul keras. Kali ini suaminya terlihat murka, terlihat dari cara memanggil namanya. Spring lalu menatap ke arah Nevan, baru kali ini dia melihat raut wajah Nevan kalut. Lingkar matanya tersirat kekecewaan yang membuat dadanya berdenyut nyeri. Sebegitu tidak sukanya kah dia memiliki anak?

"Bagaimana bisa kau tidak diskusi dengannku soal ini!" geram Nevan, seraya melonggarkan dasinya kasar. Pria itu juga membuka jasnya, lalu membantingnya ke lantai dengan kasar.

"Diskusi seperti apa Nev? Aku tidak pernah punya kesempatan untuk berpendapat di dalam hubungan ini," dengan masih gemetar wanita itu mulai berani mengungkapkan isi hatinya. Spring merasakan air matanya seakan tertahan di pelupuk, sorot matanya mengungkapkan rasa luka yang terpendam.

"Kau tahu kan? aku hanya menginginkanmu! Mempunyai anak tidak ada dalam rencanaku!Apalagi kita baru saja menikah selama 6 bulan! Seharusnya kau mengerti!" bentak Nevan pelan, pria itu masih berdiri di depan istrinya, tidak berniat untuk mendekat. Pikirannya mendadak kusut, ada rasa ketakutan yang menyebar di dalam dadanya.

"Aku tahu kau hanya menginginkan tubuhku! Kau memang menganggapku pelacur, yang hanya memuaskan fantasimu!!" balas Spring tegas, kini suaranya mulai serak karena masih menahan gejolak amarahnya. Entah kekuatan dari mana Spring bisa mengungkapkan segalanya, meskipun dia agak keterlaluan.

Yah, dia terlena dengan perlakuan manis Nevan selama ini, bagaimana suaminya memperlakukannya dengan baik, melindunginya dari cercaan keluarganya sendiri. Bagaimana Nevan menjanjikan dirinya untuk menjadi garda terdepan jika ada yang menyakiti dirinya. Semakin hari perasaan Spring semakin besar, rasa harap cintanya berbalas di suatu hari. Ingin mendengarkan kalimat cinta dari mulut sang suami. Namun, hal itu sepertinya harus dia kubur dalam-dalam di dalam hatinya. Spring juga menduga , Nevan sudah mulai membuka hati untuknya, dengan segala perlakuan hangatnya. Akan tetapi, saat ini wanita itu salah paham atas pikirannya sendiri. Kini Spring menatap pria itu dengan sendu. Iris mata sang suami terlihat kosong yang terbalut sebuah rasa ketakutan.

"Hentikan omong kosongmu Spring! Apa aku pernah bertindak kasar padamu? Hmm?Apa pernah aku menyebutmu pelacur!!" cerca Nevan menatap marah istrinya, bahkan jika ada yang menghina istrinya secara terang-terangan di depan matanya, pria itu tidak akan segan merobek mulut mereka.

Dan kini, Nevan sangat tidak suka dengan tuduhan istrinya, jujur saja dia tidak pernah berpikir seperti itu. Nevan akui, dia memang sangat menginginkan Spring, katakanlah dia pria egois. Nevan tidak ingin berbagi istrinya dengan siapapun, meskipun dengan darah dagingnya. Yah, memang dia sudah sangat tergila-gila dengan istrinya.

"Lagipula, kau tidak tahu apapun tentangku Spring!" lanjutnya dengan nada ketus, membuang pandangannya ke arah jendela. Pria itu menyugar rambut cokelatnya, dan kini kepalanya mendadak pening karena masalah ini. Benar-benar di luar kendalinya, karena  memiliki anak tidak ada dalam rencananya, setidaknya untuk saat ini. Nevan takut menggulang sejarah kembali, takut jika dia akan menjadi ayahnya.

"Karena kau tidak mau berbagi denganku Nev. Aku tahu kau tidak punya perasaan apapun denganku, tapi setidaknya jika ada sesuatu yang mengganjal hatimu ... kau bisa berbagi denganku Nev," ungkap Spring lembut, meskipun dadanya terasa sesak karena sikap Nevan yang terang-terangan menolak kehamilannya. Sebenarnya apa yang membuat Nevan takut seperti ini?

"Lagipula hal ini juga diluar kendaliku Nev. Aku juga sangat terkejut," sambung Spring menggigit pelan bibir bawahnya. Spring berusaha mengumpulkan keberanian, pelan-pelan wanita bersurai cokelat mendekati suaminya dengan tangannya memegang lengan pria itu. Namun, kalah cepat ketika Nevan menepisnya kasar, menatap istrinya dengan sorot dingin. "Di luar kendali? Jika kau tidak lupa minum pill itu, kau tidak akan hamil!" balasnya penuh sarkas, membuat Spring menggertakkan rahangnya, karena tanpa sadar air matanya sudah luruh membasahi pipinya.

"Jadi? Kau ingin ... aku membunuhnya?" Spring tergagap sambil terisak pilu yang menyayat hatinya ketika mengucapkan kalimat ini. Apakah anak ini memang tidak layak lahir? Demi Tuhan, Spring tidak akan melakukannya, lebih baik dia mati bersama darah dagingnya jika itu terjadi.

Sedangkan Nevan terdiam, matanya tidak berkedip, tapi ekspresinya cukup menjawab semuanya. Tanpa sepatah kata pun pria itu meninggalkan istrinya di dalam kamar, membuat tubuh Spring jatuh dan  bersimpuh di lantai. Wanita itu menangis dalam diam, dalam hati dia ingin  berteriak, namun yang keluar dari mulutnya hanyalah desahan lemas dan air mata. Tangan kanannya  memukul keras dadanya,  mencoba mengusir rasa sakit yang membuat jiwanya sesak dan sekarat.

"Ibu akan tetap melindungimu nak," lirihnya masih terisak lemah, mengusap perutnya yang masih rata. Jika sudah begini, mampukah dia mempertahankan pernikahannya? Bersama dengan buah hati yang tumbuh dalam dirinya.

---

Selamat malam minggu.

Silahkan mengumpat dan spam komen hahaha

see you next week !
Oia boleh dong, tolong follow akun ini hehe

Under His Control [ END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang