Budayakan Follow dulu sebelum baca ya🥰
21+
"Aku menyukainya ketika tubuhnya bergetar karena rasa takutnya kepadaku...
Aku menikmatinya ketika wajahnya berubah putus asa memohon kepadaku...
Aku menginginkanya dan akan kupastikan dia berada dalam g...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy Read!
---
Subuh telah menyongsong kota Dublin, meskipun matahari belum menampakkan diri, wanita bersurai panjang itu berusaha untuk bangun pagi, sebelum suaminya terjaga. Spring pelan bangun dari tidurnya, dengan tubuh yang masih polos. Wanita itu lalu memungut pakaian miliknya dan Nevan yang berceceran di lantai, akibat kegiatan panas mereka tadi malam. Aroma sex yang liar masih tercium dan membuat tubuh wanita itu merinding mengingat kegiatan tadi malam. Manik hazelnutnya melirik ke arah Nevan, yang terlihat tidur pulas, menampakkan dada bidangnya yang polos, karena selimut putih menutupi bagian bawah pinggang sampai kakinya. Spring menatap sendu Nevan, mengingat tengah malam tadi ekspresi wajah Nevan yang terlihat menderita dan sedih.
"Semoga kau tidak mengalami mimpi buruk lagi," lirihnya lalu pelan-pelan bangun untuk dari duduknya, setelah puas memandang suaminya.
"Ish.." desah Spring, merasakan perih di bagian pusatnya. Padahal, dia dan Nevan sudah melakukan beberapa kali, namun masih saja Spring belum terbiasa dengan yang namanya 'bercinta' Spring menghela napas, dia ingin segera bersiap untuk pergi ke hotel, kemarin adalah cuti terakhirnya sejak menikah dan berangkat bulan madu. Namun, sebelum itu Spring sudah memutuskan mulai saat ini, menyiapkan pakaian dan segala kebutuhan Nevan ketika pagi hari ini. Jadi, sebelum dia mandi wanita itu menyiapkan pakaian kerja suaminya. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, untuk bisa memulai menjadi istri yang baik, meskipun pernikahan ini tidak didasari perasaan cinta.
Spring lalu pergi ke walk in closet kamar suaminya, dia suka sekali dengan konsep ruangan ini. Penuh dengan kemewahan dan keanggunan, sangat mencerminkan ciri khas Nevan. Dinding yang terlapis kayu cokelat tua, karena mampu memancarkan kesan yang hangat dan nyaman. Lantai yang dilapisi karpet mewah berwarna biru tua, di sudut ruangan ada rak-rak yang sudah disiapkan untuk koleksi tas, gaun, sepatu dan pakaian formal Spring. Entah sejak kapan, suaminya mengurus segala kebutuhan Spring.
Wanita itu akhirnya mengambil kemeja putih, jas navy dan celana kain yang berwarna senada. Lalu, setelah memilih pakaian, Spring tidak lupa memilih jam tangan Rollex kesayangan Nevan. Dia tahu jika Nevan selalu memakai yang warna hitam navy, terlihat misterius dan dingin, sama seperti pemiliknya. Setelah selesai menyiapkan semua, Spring cepat-cepat membersihkan diri sebelum Nevan terjaga.
Di satu sisi, kelopak mata Nevan terbuka pelan, tangan besarnya meraba kasur hendak memeluk istrinya. Namun, sayang sekali Spring tidak ada di sampingnya, sontak saja membuat mata Nevan terbuka lebar dan bangun dari tidurnya.
Dia langsung saja bangun, dan sejenak tubuh tegapnya dia senderkan ke belakang. Manik legamnya menatap gorden transparan, menampakkan langit yang mulai memerkan warna palet, seperti warna biru lembut, merah muda dan oranye, meskipun kabut tipis masih menutupi cakrawala. Nevan lalu menatap jam dinding, ternyata sudah menunjukkan di angka 6 pagi. Pria itu masih merasakan rasa nikmat dalam gairahnya, akibat percintaannya dengan Spring tadi malam. Wanita itu selalu bisa membuatnya puas, dan gila secara bersama.