Ep 44. Alone

1.3K 161 134
                                        

Darah sudah mengucur dimana-mana sekarang, ditambah sang korban yang menjadi tabrak lari sudah tidak sadarkan diri. Seakan nyawanyapun sudah tidak terselamatkan.

Previous

.
.
.

"BUNDAAA" Teriak sunoo yang langsung berlari cepat kearah bundanya yang tergeletak mengenaskan dijalanan.

Sunoo langsung memeluk erat bundanya yang sudah tidak sadarkan diri, dirinya sudah menangis sejadi-jadinya sambil melihat kearah kerumunan yang mulai mendekatinya.
"TOLONG TELEPON AMBULAN!" Teriak sunoo lagi dengan nada memohon dan bergetar.

Wajah sunoo sudah pucat, mencoba untuk menahan darah bundanya yang terus mengucur tanpa henti. Sungguh rasanya ini seperti berada dalam mimpi buruk yang sunoo harap ia langsung terbangun dan melihat bundanya yang masih tersenyum lembut kearahnya.

"Bunda... jangan tinggalin ddeonu... bunda janji gak bakal ninggalin sunoo kan.." mohon sunoo lagi, wajahnya sudah pucat dengan isakan yang sangat menyayat hati siapapun yang mendengar.

"Bunda.. bentar lagi ambulan sampai. Ddeonu tau bunda kuat.. bertahan yah bunda.." Setelah mengatakan itu, benar saja bunyi sirene ambulan sudah terdengar. Tanpa tunggu lama, perawat langsung turun dan membawa tubuh bunda ke ranjang mobil.

Tentu saja sunoo ikut kedalam dan duduk disebelah bunda sambil memegang tangan yang perlahan-lahan mulai kehilangan kehangatannya itu. Para perawat mulai melakukan segala hal yang mereka bisa untuk mempertahankan denyut nadi lemah dan akan bisa hilang kapan saja. Sungguh pasien kali ini keadaanya sangat buruk, tidak pernah mereka lihat tabrak lari seburuk ini.
"Sampai dirumah sakit, langsung dibawa keruang UGD. Gak boleh ditunda lagi ini!" Ujar sang perawat kepada sesama rekannya.

Sunoo sendiri yang mendengarnya hanya bisa terdiam sambil menangis, dirinya menunduk sambil terus mengucapkan beribu doa untuk keselamatan bundanya. Keluarga sekaligus wanita satu-satunya yang hanya sunoo miliki, sunoo tidak bisa.. sungguh.. hanya membayangkannya saja.. seakan dirinya ikut menghilang bersamaan sang bunda.

Akhirnya mereka sampai diRumah Sakit, langsung saja sang bunda dibawa dengan kecepatan penuh menuju ruang UGD. Bahkan sudah ada perawat yang mencoba untuk melakukam CPR selama diperjalanan, mencoba untuk mengembalikan detak jantung yang mulai tidak terasa. Sunoo sendiri juga sudah ikut berlari, ia sama sekali tidak melepaskan genggaman tangan tersebut. Sunoo terlalu takut, takut akan pikiran bahwa ini akan menjadi terakhir kalinya sunoo dapat menggegam tangan bundanya itu.

"Nak, maaf yah. Kamu tunggu disini dulu okey? Kami janji akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan pasien." Salah satu perawat menghentikan sunoo yang ingin ikut masuk kedalam ruang UGD, hingga akhirnya genggaman tangan tersebut terlepas. Meninggalkan sunoo sendirian dalam duka dan penyesalan, rasa sakit menjalar dalam tubuh dan hatinya. Sampai rasanya ia merasa mual dan sakit diseluruh tubuhnya.

1 jam.. 2 jam sudah berlalu, tapi ruangan UGD tersebut masih belum juga dibuka. Sunoo yang awalnya mondar mandir mulai kehilangan tenaga dan akhirnya terduduk bisu di kursi tunggu UGD, dirinya hanya menunduk dengan mata bengkak dan bibir lecet karena terus ia gigit dalam cemas.

Sunoo masih hanya diam, menutup matanya yang lelah. Pikirannya terasa kosong gelap, tidak ada yang bisa ia rasakan. Bahkan sunoo tidak sadar akan suara derap kaki ramai mulai mendekatinya. Entahlah... sunoo sudah tidak peduli lagi, emosinya seakan sudah mati.

"Sunny.." panggilan yang sangat sunoo kenali itu, tapi rasanya sunoo sudah tidak bertenaga hanya untuk menengok kearah mereka. Sebelum ia dapat merasakan genggaman tangan pada tangannya, dan ternyata heeseung sudah berada disampingnya dengan raut wajah khawatir.

SUNSCHOOLTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang