Budayakan Follow dulu sebelum baca ya🥰
21+
"Aku menyukainya ketika tubuhnya bergetar karena rasa takutnya kepadaku...
Aku menikmatinya ketika wajahnya berubah putus asa memohon kepadaku...
Aku menginginkanya dan akan kupastikan dia berada dalam g...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy Read! ---
Di malam yang hening, apartemen mewah itu terletak di lantai atas gedung pencakar langit, menyuguhkan pemandangan menakjubkan dari kota yang berkilauan. Lampu-lampu kota menyebar seperti bintang di bumi, menciptakan pantulan gemerlap di kaca jendela besar yang melengkung, seolah memisahkan dunia luar dan dunia di dalam. Suara hiruk-pikuk kota yang tak pernah tidur terasa samar, hanya terdengar gelegar mobil dan bus yang melintas jauh di bawah sana.
Di dalam, suasana elegan terasa kental. Lampu-lampu lembut dengan cahaya hangat mengelilingi ruangan, menciptakan atmosfer yang nyaman dan intim. Terlihatlah sosok Anastasia yang sedang terduduk di pinggir ranjang, dengan penampilan yang begitu sexy dan menggoda, hanya menggenakan lingerine hitam yang transparant, sehingga terlihat samar lekuk tubuhnya yang indah dan sital. Bulatan sital yang padat dan kencang terlihat sangat menggairahkan. Dengan lipstik Mac merah menyala, membuat Anastasia semakin terlihat sexy dan memesona. Rambut honey blonde yang panjang, dia sengaja tergerai dan sedikit berantakan. Meskipun usia sudah memasuki 30 tahun, namun tidak dengan penampilan dan tubuhnya itu. Terlahir dari keluarga privilage, membuatnya sangat ketat menjaga penampilan. Karena itu, apapun yang Anastasia pakai akan terlihat mahal, dan dengan aset inilah akhirnya dia bisa memkikat Ben.
Sambil menyesap anggur merah, Anastasia menunggu kedatangan Ben, dia ingin membuktikan jika dia bisa membuat pria tergila-gila dengan tubuhnya itu. Dan Anastasia akui dia bangga memiliki bakat memikat pria yang dia inginkan. Namun, satu pria yang sepertinya tidak mudah dan sangat membuat jiwa binal dalam dirinya meronta, untuk menggoda Nevan.
"Kita lihat saja bagaimana nantinya," monolognya sambil menyesap wine dari gelas kristal.
Lamunan Anastasia terdistraksi ketika pintu kamar terbuka, dan dia tahu jika Ben sudah kembali dari restaurant miliknya.
"Hallo baby," sambut Anastasia dengan posisi menggoda, ketika Ben masuk ke dalam kamarnya.
"Ana? Kau di sini?" Ben menatap wanita itu lekat, dan sedikit terkejut dengan penampilan Anastasia malam ini. Pria itu masih memakai seragam chef miliknya.
Wanita itu menaruh gelas kristalnya di nakas, dan menghampiri Ben sambil menggalungkan tangannya ke leher Ben.
"Tentu saja, aku sangat merindukanmu," bisik Anastasia sensual lalu mengecup bibir Ben singkat.
Ben sendiri masih menatap Anastasia, dan sebagai pria tentu dia sangat sedikit terangsang dengan penampilan tunangannya. Tangan besar Ben merengkuh pinggul Anastasia, lalu membalas kecupan itu dengan lumatan yang keras. Satu tangannya lagi turun ke pantat sital Anastasia lalu meremasnya.
"Ah..." desah Anastasia, hingga akhirnya mereka melepas bibir. Napas yang saling memburu, manik hijau Anastasia sayu. "Katakan kau mencintaiku, dan menginginkanku," kata Anastasia mengusap dada bidang Ben, lalu membuka kancing seragam pria itu pelan-pelan.
Tatapan Ben berkilat-kilat penuh gairah, "Aku mencintaimu, dan menginginkanmu sekarang juga," suara serak Ben mematik gairah Anastasia. Dia terlalu lemah akan sentuhan Ben.
Kini pria itu sudah bertelanjang dada, lalu membuka celana panjangnya dan hanya menyisakan celana boxer Calvin Klein abu-abu.
"Kau sengaja memancingku An," ucap Ben berbisik, lalu menggendong Anastasia menuju ranjangnya. Tidak dipungkiri, Ben selalu terpikat dengan penampilan Anastasia yang seperti ini.
Hingga mereka melakukan kegiatan romantis di ranjang, dengan saling berbagi kenikamatan satu sama lain.
"Shit..." maki Ben lalu berdiri meninggalkan ranjang dengan terpaksa. Sedangkan Anastasia yang masih terengah karena kenikmatakan lidah Ben tersadar, lalu menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Maaf An. Sebentar," sela Ben lalu mengambil ponselnya dan ternyata Ibunya yang menelpon.
"Kenapa Bu?"
Anastasia mengamati Ben yang keluar ke balkon apartemen, sedikit tidak puas karena aktivitas mereka terhenti hanya karena panggilan tidak penting.
Tidak lama Ben kembali ke kamar, "Ibu menyuruhku untuk mengajakmu memilih gaun pernikahan," ujarnya lalu duduk di samping Anastasia.
Pria itu tertawa tingan, lalu mengusap pipi Anastasia. "Maaf, restaurant sedang sibuk. Aku juga sedang membuat menu baru untuk akhir tahun," jelasnya lembut, karena dia pun juga harus bekerja keras demi kemajuan perusahaannya.
"Tapi kau hampir melupakan pernikahan kita Ben," bantah Anastasia masih sebal.
"Aku melakukan ini semua juga demi dirimu An, aku tidak mau istriku kesulitan. Aku bisa memberikan apapun yang kau mau," balas Ben dengan kalimat manis, membuat Anastasia tersipu.
"Minggu depan pernikahan Spring, apa kau sekalian mau membeli gaun?" tawar Ben tiba-tiba teringat hari pernikahan sahabatnya.
"Bolehkah? Tentu saja aku mau Ben," jawab Anastasia girang, lalu memeluk pria itu lagi.
Anastasia lalu tersenyum. "Aku bahagia karena kau sangat mencintaiku," ungkap Anastasia memeluk pria itu.
"Tentu saja An, aku sangat mencintaimu. Bagaimana denganmu? Apa kau juga mencintaiku," balas Ben lalu mengecup bibir Anastasia cepat.
"Jangan kau tanyakan seberapa besar rasa cintaku Ben. Aku bahkan tidak bisa hidup tanpamu," Anastasia mengatakannya dengan sungguh-sungguh, meskipun pikirannya masih memikirkan Nevan. Fakta yang perlu disadari, jika wanita bisa memikirkan pria lain ketika dia bersama dengan sang kekasih.
Ben menaikkan satu alisnya. "Benarkah? Baiklah, aku percaya. Aku mandi dulu," kata pria itu lalu meninggalkan Anastasia di ranjang.
Sebelum Ben masuk ke kamar mandi pria itu menatap Anastasia. "Apa kau mau ikut? Melanjutkan yang tadi?" tawarnya dengan nada menggoda.
Anastasia dengan tubuh setengah telanjang, langsung turun dari ranjang. Lalu berlari kecil dan menghamburkan tubuhnya ke dada bidang Ben. "Ayo puaskan aku," bisik Anastasia.
Dengan senang hati Ben menggendong calon tunangannya, dan melanjutkan aktifitas panas mereka tadi yang sempat terhenti.