Yura sudah selesai dengan kisah cintanya, meski tidak pernah terbayangkan olehnya bisa berakhir menjadi single mother sekaligus janda cerai di usia muda, Yura bahagia menjalani hidupnya bersama Alta- putranya.
Ceritanya memang sudah mendapatkan akh...
Halo, sebelum baca biasakan vote dan selalu ramaikan cerita ini dengan komentar kalian ya 💖
Happy Reading, sorry for typo.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah Gale kembali ke Jakarta untuk menjalani kehidupannya seperti biasa, tidak ada yang berubah dalam kehidupan Yura.
Alex kembali bersikap biasa seperti sebelum ia mengetahui soal Gale, tekad lelaki itu untuk mendapatkan hati Yura tak main-main.
Sebenarnya ada sedikit rasa ketakutan yang Yura rasakan, apakah Alex berasal dari keluarga yang sama dengan keluarga Dewangga.
Keluarga Dewangga adalah mimpi buruk bagi Yura, pun dengan klan keluarga yang bersinggungan dengan mereka. Yura tak mau bernasib sama dengan kembali masuk ke keluarga toxic konglomerat.
Tapi, jika Alex memang berada di tingkat yang sama dengan keluarganya Gale pasti tak akan diam saja seperti ini. Gale pasti memperingatinya, tapi Gale tidak melakukan itu jadi Yura sedikit merasa tenang.
Awalnya Yura tak pernah berpikiran sampai kesana, belakangan ini saja Yura mulai memikirkan keluarga Alex. Karena Yura sudah yakin untuk menerima lelaki itu di kehidupan barunya, walaupun dengan begitu Yura akan menjilat ludahnya sendiri yang mengatakan bahwa dirinya tidak akan lagi bercinta dengan siapapun.
Saat ini waktunya, langkah pertama Yura melangkah ke lembaran baru. Saat dirinya dan Alta akan bertemu dengan orangtua dari Alex, setelah sekian lama mereka merencanakan akhirnya tibalah harinya.
Berbeda dengan pengalaman dulu, kali ini Yura tak merasa ada ketakutan yang berlebih. Selagi mereka menerima baik Alta, jika memang mereka tidak menyukainya maka Yura akan baik-baik saja.
"Jadi, Yura. Bagaimana rasanya menjadi single mom?" tanya Mama Alex, di sela sesi makan malam mereka.
"Awalnya memang sulit, apalagi saat saya baru saja melahirkan, Bapak harus berpulang. Rasanya berat sekali, tapi saya dapat support yang luar biasa dari orang sekitar saya yang membuat saya akhirnya bangkit lagi."
"Saya turut sedih mendengarnya, kehilangan seorang ayah apalagi bagi seorang anak perempuan pertama pasti sangat sulit."
Yura tersenyum tipis, hanya mengingatnya saja sudah terasa berat. Kondisi saat itu, adalah titik terendah di kehidupannya. Momen menyakitkan yang tidak ingin Yura rasakan lagi dalam hidupnya.
"Alta mau tambah udangnya lagi, tidak?" tawar Mama Alex pada Alta dengan senyuman teduhnya.
Dengan mulut yang penuh, Alta mengangguk penuh semangat yang membuat seisi meja terkekeh. Mama Alex pun mengambilkan udang yang cukup banyak ke piring Alta.
Yura senang sekali Alta di sambut dengan baik oleh orangtua Alex, padahal sebelumnya Alta sempat berkata tak sopan saat awal mereka bertemu.
"Rambut Neneknya seperti anak ayam di pinggir jalan tadi, Bunda!"