Yura sudah selesai dengan kisah cintanya, meski tidak pernah terbayangkan olehnya bisa berakhir menjadi single mother sekaligus janda cerai di usia muda, Yura bahagia menjalani hidupnya bersama Alta- putranya.
Ceritanya memang sudah mendapatkan akh...
Malam, jangan lupa ramaikan ya 💖 Happy Reading, sorry for typo.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Biasanya Yura tak pernah semalas ini untuk pergi bekerja, meski melelahkan Yura selalu semangat untuk mencari uang. Tapi kali ini tidak, karena dia tahu apa yang akan terjadi di tempat kerjanya.
Tidak ada lagi tatapan ramah, hanya ada lirikan dengan alis mengernyit saat Yura melalukan kontak mata dengan siapapun.
Terbesit keinginan Yura untuk resign dari pekerjaannya dan mencari pekerjaan baru di tempat lain, tapi Yura ragu apakah tempat kerja yang lain bisa membuatnya nyaman?
Yura harus beradaptasi, belum lagi Yura harus mencari pekerjaan yang tidak membuat waktunya untuk Alta habis.
"Kamu kenapa?"
Yura mendongak, menatap Gale yang bertanya padanya. Saat ini mereka tengah duduk di meja makan untuk sarapan, seperti biasa Gale datang untuk menjemput Alta dan Yura mengajak Gale untuk sarapan bersama.
"Aku gak papa."
"Ada masalah?"
Dalam hati Yura menjawab, iya dan masalah itu di sebabkan olehnya juga. Tapi Yura hanya merespon dengan gelengan kepala.
Meski penasaran, Gale memilih untuk tak lagi bertanya karena tak mau membuat Yura semakin kesal.
"Aku berangkat duluan, tolong kunci pintu sama pagarnya ya."
"Gak mau bareng aja sekalian?"
"Gak usah."
Yura berjalan kearah Alta, pamit pada anaknya dan tak lupa memberikan kecupan kasih sayang di pipi gembul anaknya itu.
Setelah itu, Yura pergi meninggalkan rumah dan memasuki mobilnya untuk berangkat bekerja.
Seperti biasa, Yura tiba saat keadaan lantai back office tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa dari karyawan kitchen yang baru saja selesai shift, juga tim public area yang baru selesai briefing.
Saat Yura berjalan menuju ruangannya, tiba-tiba pintu ruangan HRD terbuka dan muncul sosok yang Yura hindari selama ini.
"Pagi Pak Alex," sapa Yura berusaha untuk bersikap seperti biasa, meski yang dia terima hanya tatapan datar.
Melihat Alex keluar dari ruangan HRD, pikiran Yura mulai berkelana memikirkan berbagai kemungkinan. Apa Alex sedang mengurus surat pengunduran dirinya, mengingat rencana lelaki itu yang akan melakukan wawancara di hotel yang ada di Bali sebagai general manager. Jika iya, Yura senang mendengarnya.
"Kamu senang sekarang? Saya akhirnya memilih untuk pergi," ucap Alex dengan nada dingin.
"Rasanya sekarang memuakan ada di sini, tapi ini bagus untuk kamu. Kamu bisa bulak-balik menemui dia kapan pun kamu mau, tanpa harus kucing-kucingan lagi."