Yura sudah selesai dengan kisah cintanya, meski tidak pernah terbayangkan olehnya bisa berakhir menjadi single mother sekaligus janda cerai di usia muda, Yura bahagia menjalani hidupnya bersama Alta- putranya.
Ceritanya memang sudah mendapatkan akh...
Halo, jangan lupa vote dan ramaikan cerita ini sama komentar kalian ya 💖
Happy Reading, sorry for typo.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rasa ingin menenggelamkan diri sudah ada di tingkat paling tinggi yang Alex rasakan saat ini, ia keluar dari studio dengan kepala menunduk menahan malu.
Di sampingnya Yura mati-matian menahan diri untuk tidak tertawa, tak ingin membuat Alex semakin malu.
Kejadian tadi lucu sekali, Yura tak menyangka Alex akan begitu saat nonton film horor. Berteriak paling kencang dan melompat dari bangkunya saat jumpscare, bahkan lelaki itu nyaris membuat kursinya basah karena tak sengaja menyenggol minuman miliknya sendiri.
Yura harus menutup mulut Alex dengan tangannya sendiri agar berhenti berteriak, karena bisa mengganggu ketenangan semua orang.
"Udah-udah, gak papa. Filmnya udah selesai, kamu hebat. Gak usah takut lagi ya."
Yura yang sudah menghilangkan keinginan untuk tertawa pun berjongkok di depan Alex, menepuk pelan punggung Alex yang duduk di atas lantai karpet, menenangkan Alex seperti biasanya dia menenangkan Alta.
"Cup-cup-cup.. Udah ya.."
"Kamu kira aku Alta?" protes Alex yang di samaratakan dengan Alta.
"Kamu mirip Alta kalau lagi takut kayak tadi, cuma bedanya kamu gak nangis."
Alex mendengus, yang membuat Yura tertawa karena puas mengerjai Alex.
"Udah dong, gak usah marah. Kamu juga gak usah malu, wajar kok kalau kita punya ketakutan dalam diri kita. Gak peduli kamu itu cowok atau cewek, anak kecil atau orang dewasa."
"Kamu harus jujur, kamu gak ilfeel kan sama aku?" Alex menangkup kedua telapak tangannya di pipi Yura, sedikit menekannya sehingga bibir Yura mengerucut lucu. Yura mengerang tak suka, lalu menjauhkan kedua tangan Alex sebelum menjawab.
"Enggak, kamu tenang aja."
"Malu-maluin banget kan aku tadi?"
"Dikit kok," Yura menempelkan telunjuk dan ibu jarinya.
"Jangan lagi ajak aku nonton film horor, oke? Eh tapi gak papa deh, daripada kamu ajak orang lain. Paling nanti aku akan bawa kacamata kodok yang tadi terus pake headset, aman dah kalau begitumah."
Yura terkekeh geli, berdiri dan menarik Alex untuk ikut berdiri.
"Ayo, cari makan."
Waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam, perut mereka sudah keroncongan meminta makan.
"Mau makan dimana?"
"Beli buat di makan di rumah aja, gak papa? Yuna bilang, Alta mau kita makan bareng di rumah."
"Boleh."
Mereka berjalan meninggalkan bioskop, menaiki eskalator untuk turun ke lantai dasar. Rencananya mereka akan beli bebek bakar di tempat biasa Yura beli sesuai permintaan Alta, yang tempatnya searah dengan rumah Yura.