Part 28 [Kabar]

2.7K 102 5
                                        

Kita mulai flashback lagi ya.
Sebelum baca jangan lupa vote dan ramaikan part ini dengan komentar kalian.

Happy Reading, sorry for typo.

Juni, 2020

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Juni, 2020.

Dengan perutnya yang sudah mulai membesar di usia kandungannya yang sudah menyentuh enam bulan, Yura berjalan ke teras rumah orangtuanya. Cuaca di pagi hari sangat sejuk dan udara yang segar, karena rumah yang di kelilingi pepohonan dan kebun.

Rasanya Yura tak menyesal harus pulang ke rumah orangtuanya, setidaknya disini dia bisa merasakan udara menyegarkan.

Yura berjalan keluar pagar rumah, berjalan di sekitar jalanan yang jarang di lalui kendaraan untuk berolahraga ringan dan berjemur di bawah sinar matahari pagi yang menyehatkan.

"Teteh, meni rajin. Wajah kieu tos olahraga, sehat-sehatnya dedek."

Yura membalas sapaan tetangga yang sudah sangat dekat dengan orangtuanya, di sini semua orang mengenal Yura meskipun Yura bukanlah warga yang aktif saat ada acara seperti agustusan.

"Iya, Bi. Biar badannya gak kaku."

"Bapaknya belum dateng ya?"

"Belum, Bi. Nanti sore otw ke Bandung, biar nginepnya dua malam."

"Bulak-balik Jakarta Bandung tiap minggu, hebat pisan si Aa teh."

"Mau gimana lagi, kerjaannya gak bisa di tinggal disana."

"Mau ngelahirin disini ya?"

"Rencananya gitu, biar bisa di temenin Ibu."

"Ya udah, semoga lancar. Dedek sama ibunya sehat, semuanya di lancarin."

"Amin.."

"Bibi masuk dulu ya, mau siapin bekel buat Bapak."

"Iya, Bi."

Membahas Gale membuat Yura semakin merindukan suaminya itu, rasanya menunggu malam terasa seperti berbulan-bulan dia rasakan.

Berhubungan jarak jauh memang menyiksa, sayangnya ini harus dia lakukan demi kesehatan fisik dan mentalnya.

Gale sendiri yang menyarankannya untuk tinggal sementara di rumah orangtuanya, walaupun Yura heran kenapa para petua di rumah Dewangga bisa mengizinkan Yura pergi. Yura yakin, pasti Gale sudah mengupayakan banyak hal untuk kebahagiaan mereka.

"Teh, udah makan belum?" tanya Bapak yang keluar dari pagar rumah, sudah siap dengan setelan serba hitam untuk pergi ke sawah.

"Udah, makan bubur sumsum buatan Ibu. Bapak kok ke sawah lagi? Kan aku udah bilang, Bapak gak usah ke sawah biar temenin aku aja di rumah."

"Bapak gak bisa diem aja, kayak orang pemalas."

"Inget kondisi tubuh Bapak."

"Bapak itu sehat."

AFTER ENDING [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang