Part 40 [Marah dan Baikan]

2.5K 112 9
                                        

Lama gak up disini ya, maaf banget.
Okelah, langsung aja.

Happy Reading, Sorry for typo.

Yura menatap Gale dengan sinis, tak percaya dengan penjelasan dari mantan suaminya itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Yura menatap Gale dengan sinis, tak percaya dengan penjelasan dari mantan suaminya itu. Yura tahu, semalam Gale juga minum bersama Alex.

"Kamu itu udah punya anak, terlebih anaknya cowok. Kamu mau anakmu ikuti kebiasaan ayahnya? Aku gak mau ya."

"Walaupun aku gak ada hak larang kamu minum-minum, aku tetep gak suka kamu minum karena itu adalah hal yang gak baik buat Alta. Kamu mau Alta cium bau alkohol di tubuh kamu?"

"Buat apa gak ngerokok kalau alkohol masih kamu tenggak?"

Gale hanya harus menebalkan telinganya saja, sesekali memakan hidangan di atas meja restoran hotel. Rela di omeli Yura, selagi dia bisa menghabiskan waktu bersama Yura sebentar.

"Kalau kamu mau mabuk-mabukan, lakukan di Jakarta. Jangan di Bandung, apalagi kalau kamu mau ketemu Alta. Aku gak akan kasih izin."

"Kalau di Jakarta, aku gak akan peduli kamu overdosis sekalipun."

Mendengar itu Gale langsung tersedak, dia ambil gelas berisi air mineral di mejanya dan meminumnya untuk meredakan tenggorokannya.

"Ngomongnya jangan gitu, dong. Kamu doain aku overdosis? Tega banget."

"Lagian buat apa sih minum-minum?"

"Iya, aku gak akan minum-minum lagi. Jangan marah lagi, oke?"

"Aku gak percaya tuh," balas Yura, melipat kedua tangannya bersidekap.

"Perlu aku minta Pak Irawan buat laporin kegiatanku ke kamu? Aku gak keberatan tuh."

"Jangan mentang-mentang bos, kamu bisa buat seenaknya sama Pak Irawan. Kasihan, udah tua masih aja kamu kerjain."

"Iya-iya, sayang."

Yura langsung menendang kaki Gale saat mendengar panggilan sayang, makin kesini Gale semakin melunjak.

"Ugh, kamu tendang tulang kering aku. Sakit banget, Ra." Gale meringis menyentuh tulang keringnya yang linu.

"Makanya panggil yang bener!"

"Gak sengaja, Yura."

Yura melirik jam di tangannya, sudah waktunya dia pergi.

"Aku kerja dulu, jangan lupa jemput Alta nanti. Kalau gak bisa, kasih tahu biar aku minta tolong Yuna buat jemput."

"Aku bisa kok, kamu tenang aja. Semangat kerjanya."

Yura tak menghiraukan kalimat semangat dari Gale, lalu ia pun beranjak berdiri dan melenggang pergi meninggalkan Gale.

Yura tahu sejak tadi karyawan di hotel ini terus melirik kearahnya, pasti mereka penasaran siapa lelaki yang bersama Yura.

Entahlah, Yura merasa sudah tak memiliki energi untuk menutupi Gale dari semua pekerja di hotel ini.

AFTER ENDING [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang