Yura sudah selesai dengan kisah cintanya, meski tidak pernah terbayangkan olehnya bisa berakhir menjadi single mother sekaligus janda cerai di usia muda, Yura bahagia menjalani hidupnya bersama Alta- putranya.
Ceritanya memang sudah mendapatkan akh...
Halo, sebelum baca tolong persiapkan diri dulu ya. Jangan lupa ramaikan juga dengan komentar kalian 💖
Sekedar mengingatkan, part ini flashback ya.
Happy Reading, Sorry for typo.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
September, 2020.
Sinar matahari pagi yang menghangatkan kulit rapuh seorang bayi yang baru saja lahir ke dunia bulan lalu, untuk pertama kalinya bayi mungil itu merasakan udara segar dan hangatnya matahari setelah selama tiga minggu berada di dalam inkubator.
Lega rasanya saat dokter menyatakan jika bayinya sudah di perbolehkan pulang menyusul ibunya yang sudah lebih dulu pulang, setelah selama tiga minggu Yura pulang pergi ke rumah sakit setiap hari untuk menjenguk bayinya.
Yura merasa, seluruh rasa sakit yang dia rasakan selama ini telah terobati setelah melihat bayi laki-lakinya tumbuh seperti bayi sehat lainnya.
Meski ada sebagian hatinya yang masih kosong, Yura tak menghiraukannya karena rasa bahagianya mampu menutupi kekosongan itu.
Yura sudah memberikan nama pada bayinya, yaitu Alta Enrique. Nama itu memiliki arti penguasa yang di tinggikan, berharap jika dengan nama itu Alta akan selalu menjadi penguasa paling tinggi yang tidak bisa di kendalikan orang lain.
Sengaja Yura tak menambahkan nama Dewangga di belakang nama Alta, karena bagi Yura nama itu hanyalah malapetaka. Biarlah mertuanya itu marah padanya, toh yang memiliki hak atas Alta hanyalah dirinya.
"Mirip Bapaknya banget ini mah, plek ketiplek Mas Gale. Iya kan, Ra?" ucap seorang tetangga yang datang menjenguk Alta.
Yura hanya membalas dengan senyuman tipis, sayangnya ucapan itu memang benar. Semuanya mirip Gale, tidak ada sisa untuknya.
"Ngomong-ngomong Mas Gale nya kemana? Belum nongol daritadi."
"Lagi ada keperluan," balas Ibu mewakilkan Yura.
Hanya mendengar namanya saja, Yura merasa hatinya langsung berkabut. Yura tak suka nama itu di sebut.
Setelah cukup mendapatkan sinar matahari untuk Alta, Yura membawa Alta masuk dan membiarkan para tetangga yang menjenguk Alta bersama Ibunya.
"Cucunya Kakek abis jemur ya," Bapak mendekat kearah Yura, mengusap pelan pipi sang cucu dengan rasa gemas.
"Bapak mau kemana, kok rapi gitu?"
"Mau keluar sebentar."
"Cucunya baru pulang kemarin, kok Bapak malah pergi sih?"
"Cuma sebentar kok, sini Bapak mau gendong dulu sebelum pergi." Yura memberikan Alta ke gendongan Bapak.
"Kamu belum makan, kan? Sana sarapan dulu, biar Bapak yang jagain Alta."