Yura sudah selesai dengan kisah cintanya, meski tidak pernah terbayangkan olehnya bisa berakhir menjadi single mother sekaligus janda cerai di usia muda, Yura bahagia menjalani hidupnya bersama Alta- putranya.
Ceritanya memang sudah mendapatkan akh...
Halo, puasanya lancar? Semoga kalian masih bersemangat ya, biar tambah semangat saya update part ini hehe..
Flashback lagi ya kita.
Sebelum baca, biasakan vote dan ramaikan dengan komentar kalian ya.
Happy Reading, Sorry for Typo.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Agustus, 2020.
Suara ambulans terdengar nyaring di telinga saat keheningan malam melanda, suara yang terdengar menakutkan bagi sebagian orang karena tanda bahwa sesuatu telah terjadi atau tanda seseorang telah berpulang.
Bapak mencoba menenangkan Ibu dan Ayuna yang menangis dan panik, meski dalam hatinya juga merasa pilu melihat putri sulungnya tengah terbaring kesakitan di atas strecher ambulan.
Entah bagaimana musibah ini bisa terjadi, mereka hanya terkejut melihat Yura yang tengah meraung kesakitan pada perutnya dan terjadi pendarahan di atas tempat tidurnya sendiri.
Seharian ini Yura tak keluar kamar, dia mengeluh jika kondisinya merasa tidak baik beberapa hari belakang karena itu Ibu menyuruh Yura untuk istirahat total di kamar saja dan tidak boleh melakukan apapun. Tapi tak di sangka, malam harinya kondisi Yura memburuk.
"Biar Bapak yang temenin Yura, kalian minta Ujang untuk antar kalian ke rumah sakit ya. Oh iya, Ayuna. Hubungi Gale, beritahu dia dan minta dia datang."
Setelah mengatakan itu, Bapak naik ke dalam ambulans untuk menemani putri kesayangannya itu. Bibirnya terus melantunkan doa untuk keselamatan anak dan juga cucunya.
Setibanya di rumah sakit, Yura langsung di periksa dokter yang berada di unit gawat darurat. Hati Bapak sakit saat mendengar jika mereka harus segera melakukan operasi untuk menyelamatkan nyawa ibu dan anaknya sebelum terlambat, karena kondisi mereka yang sudah sangat mengkhawatirkan.
Karena tak mungkin menunggu Gale untuk mendapatkan persetujuan suami, akhirnya Bapak yang menandatangani semua berkas izin operasi.
Tak lama kemudian, Ibu dan Ayuna datang saat Yura sudah masuk ke dalam ruang operasi. Bapak menjelaskan semua yang dokter katakan, soal kondisi Yura dan kemungkinan buruk yang mungkin terjadi.
"Kamu udah kasih tahu Gale, Dek?" tanya Bapak pada anak bungsunya.
"Belum, Pak. Mas Gale gak bisa di hubungi."
Bapak menghela napas panjang, di saat kondisi genting seperti ini Gale malah tidak bisa di hubungi.
"Kamu bawa ponselnya Teteh, gak?"
"Aku gak tahu Teteh simpan ponselnya dimana."
"Pinjam ponsel kamu, Bapak juga gak bawa ponsel. Biar Bapak yang hubungi Gale."
Yura menyerahkan ponselnya, Bapak berdiri dan berjalan ke sudut ruangan untuk menghubungi menantunya. Namun hasilnya sama, ponsel Gale tidak bisa di hubungi.