Yura sudah selesai dengan kisah cintanya, meski tidak pernah terbayangkan olehnya bisa berakhir menjadi single mother sekaligus janda cerai di usia muda, Yura bahagia menjalani hidupnya bersama Alta- putranya.
Ceritanya memang sudah mendapatkan akh...
Pagii, selamat hari senin. Lancar-lancar ya kegiatannya, jangan lupa ramaikan part ini 💖
Happy Reading, sorry for typo.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Yura jarang sekali kedatangan tamu ke rumahnya, karena Yura bukan orang yang memiliki banyak teman. Rata-rata teman kuliah Yura sudah sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, malah beberapa ada yang tinggal di luar kota dan luar negeri.
Meski berjauhan, mereka tetap satu komunikasi melalui jaringan.
Definisi semakin dewasa semakin sedikit pertemanan itu nyata adanya.
Karena itu, Yura jarang kedatangan tamu yang memang berniat bermain ke rumahnya. Paling hanya ketua RT yang datang untuk menagih iuran bulanan, sisanya nyaris tidak ada.
Siapa sangka, di saat Yura baru saja selesai membereskan rumah dan masih dengan penampilan kucel dan penuh keringat, Yura kedatangan tamu penting.
Bukan presiden atau menteri yang Yura maksud tamu penting, melainkan mantan mertuanya bersama Eyang Kakung.
Jangan tanyakan bagaimana keadaan Yura saat ini, dengan tubuh yang hanya mengenakan daster lusuh Yura menghadap tiga orang penting di depannya.
Penampilannya buruk sekali, jika Yura masih tinggal di rumah besar maka bisa di pastikan penampilannya jauh lebih buruk dari semua pekerja di rumah itu. Memalukan sekali rasanya.
"Maaf sekali, saya baru selesai beres-beres rumah. Silakan di nikmati, maaf hanya seadanya."
"Justru kami yang meminta maaf karena datang tiba-tiba."
"Tidak perlu meminta maaf, saya justru senang Eyang Kakung mau berkunjung ke rumah ini untuk pertama kalinya."
"Tapi kalau boleh, saya izin sebentar untuk mengganti pakaian. Kalian semua bisa bersantai dan bermain dengan Alta, anggap saja sebagai rumah sendiri."
Setelah mendapat izin, Yura langsung bergegas memasuki kamarnya. Mandi sekilas dan berpakaian rapi dan pantas, tak lupa memakai riasan tipis. Meski dia bukan lagi menantu mereka, Yura merasa harus tetap bersikap sopan sesuai aturan mereka.
Yura kembali ke ruang tamu, dengan penampilannya yang lebih rapi. Lalu kembali duduk, bergabung dengan ketiga orangtua di depannya dan juga Alta.
Jujur saja Yura tak tahu harus apa, kalimat apa yang harus dia katakan sebagai awal obrolan mereka. Yura merasa buntu, otaknya terasa kosong karena gugup.
Untung saja ada Alta yang membuat suasana selalu ramai dengan suaranya yang sedang mengajak bicara Eyang Kakung.
"Kamu tidak memperkerjakan seseorang untuk urus pekerjaan rumah tangga?" tanya Mama yang membuat Yura langsung terkesiap.
"Tidak, Ma. Saya masih belum memerlukan asisten rumah tangga, saya juga masih sanggup untuk melakukan semuanya sendiri."
"Bukan karena Galeo yang tidak memberimu pelayan?"