Part 32 [Climax]

4.2K 115 6
                                        

Halo, telat update ya.
Mohon maaf.

Sebelum baca, jangan lupa vote dan ramaikan dengan komentar kalian ya.

Sebenernya part ini tuh saya pangkas, yang lengkapnya ada di karyakarsa karena rating dewasa jadi yang mau baca versi full nya kalian bisa baca di karyakarsa.

Happy Reading, sorry for typo.



Juli, 2020.

Satu bulan berlalu sejak Yura mendapat kabar duka yang begitu mengejutkan, bahkan sampai saat ini Yura tak percaya jika Tante Omara sudah tiada.

Wanita cantik itu telah meninggalkan dunia ini, dia adalah orang pertama yang mengulurkan tangan kepada Yura.

Tentu Yura terpukul dengan kabar itu, jika ia tak melihat jasad Tante Omara yang terbujur kaku, maka Yura akan terus menyangkal.

Akibat rasa kehilangan itu, Yura harus kembali melakukan konsultasi dengan psikolog. Kondisi mentalnya kembali memburuk, sampai Yura melupakan keadaan dirinya yang tengah mengandung.

Selama satu minggu penuh, Yura nyaris seperti mayat hidup. Ia akan kehilangan arah, jika tidak ada dukungan dari orang tersayangnya.

Kini sudah satu bulan berlalu, duka itu masih ada tapi Yura sudah bisa menjalani kehidupannya.

Yura sempat tinggal di rumah besar Dewangga selama beberapa hari, sebelum kembali ke rumah orangtuanya karena keadaannya bisa semakin memburuk.

Om Adji yang tak merasa terpukul atas kepergian istrinya dan malah terang-terangan menggandeng wanita muda yang menjadi mainannya ke rumah besar, mengatakan jika wanita itu adalah calon pengganti Nyonya Dewangga yang baru.

Lalu Damar, satu-satunya putra Tante Omara. Ternyata tak jauh beda dengan ayahnya. Yura terkejut melihat sifat Damar, karena selama ia tinggal di rumah besar lelaki itu berada di luar negeri.

Entah apa yang di lakukan keluarga mereka, sehingga membuat Damar bisa membenci ibu kandungnya sendiri. Tidak ada duka yang anak itu rasakan, simpati di lakukan saat di hadapan banyak orang saja, di balik itu terlihatlah sosok Damar yang sebenarnya.

Padahal Tante Omara sangat menyayangi Damar, dia rela membiarkan lehernya terikat dengan benang merah keluarga Dewangga demi bisa hidup bersama anaknya.

Yura tahu jika alasan sifat Damar karena pengaruh orang di sekitarnya, yaitu dari ayahnya sendiri. Seluruh anggota keluarga Dewangga menanam bibit yang buruk di dalam otak Damar, lalu bibit buruk itu pun tumbuh, seiring berjalannya waktu bibit itu telah berhasil tertanam sempurna.

Di satu sisi Yura merasa lega, karena Tante Omara akhirnya terlepas dari benang merah dari keluarganya.

Disisi lain, rasa takut Yura semakin menjadi. Takut jika ia harus bernasib sama dengan Tante Omara, takut jika dia kehilangan sosok anak kandungnya.

AFTER ENDING [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang