Yura sudah selesai dengan kisah cintanya, meski tidak pernah terbayangkan olehnya bisa berakhir menjadi single mother sekaligus janda cerai di usia muda, Yura bahagia menjalani hidupnya bersama Alta- putranya.
Ceritanya memang sudah mendapatkan akh...
Sebelum baca, janji dulu dong kalian buat ramaikan part kali ini. Part ini tuh campur aduk banget pokoknyaa, dan selain itu ini dua part terakhir cerita ini.
So, mari ramaikan.
Happy Reading, sorry for typo. *disarankan baca saat sendirian ya:)
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Desember, 2020.
Yura akan selalu ingat dengan suara ketuk palu yang mengisi gendang telinganya di hari itu, yang menyadarkan Yura bahwa hubungannya memang benar-benar telah berakhir.
Tepat satu tahun usia pernikahan mereka, bukannya dirayakan dengan makan malam romantis atau perayaan manis, mereka malah merayakannya di meja sidang.
Yura tak bisa untuk tidak menangis, saat hakim menyatakan jika mereka bukan lagi suami istri.
Padahal banyak yang telah mereka lalui untuk bisa ada di dalam pernikahan ini, nyatanya setelah melewati lika-liku perjalanan dengan jalanan yang berduri pun mereka tetap tidak bisa mempertahankan pernikahan.
Siapa sangka, pernikahan mereka akan berakhir tragis seperti ini. Dimana cinta di kalahkan oleh keputusasaan.
Di saat pengacaranya berjuang untuk mempertahankan hak untuknya mendapatkan hak asuh Alta dan harta gono gini, Yura bahkan lupa akan semuanya.
Bahkan di saat seperti ini, Gale juga menjadi seorang pengecut yang tidak hadir di sidang akhir perceraian mereka. Seolah Gale benar-benar tak mengharapkan hubungan mereka untuk kembali.
"Bu Yura, saya mewakili Pak Gale. Terima kasih atas sikap koperatifnya, berkat Bu Yura sidang ini bisa berjalan dengan mudah dan cepat. Semoga Bu Yura bisa mendapatkan kebahagiaan yang sebelumnya tidak Bu Yura dapatkan sebelumnya, saya pamit."
"Tunggu." Yura menoleh menatap pengacara pribadi Gale, menahan lelaki itu untuk pergi.
"Sampaikan ini, bilang jika kesempatan yang dia punya sudah habis. Jangan pernah berharap hubungan kita bisa kembali terjadi, karena itu tidak akan mungkin terjadi. Tetaplah jadi pengecut dan bersembunyilah selamanya, Galeo."
Setelah mengatakan itu, Yura pun melenggang pergi meninggalkan ruang sidang. Melewati Ayuna yang sejak awal menemaninya.
Tak hanya rasa sedih yang Yura rasakan, tapi amarah yang membelenggu sulit Yura kendalikan. Teringat kejadian dua minggu yang lalu, tepatnya saat Yura masih berusaha memperjuangkan pernikahan mereka.
Flashback on
Dengan modal nekat dan rumah tangga yang menjadi alasan utamanya, Yura turun dari bus yang membawanya tiba di Jakarta.
Hari sudah mulai sore saat Yura menaiki taksi menuju kantor perusahaan tempat suaminya bekerja, dengan mencari tahu alamat kantornya dari internet.