Yura sudah selesai dengan kisah cintanya, meski tidak pernah terbayangkan olehnya bisa berakhir menjadi single mother sekaligus janda cerai di usia muda, Yura bahagia menjalani hidupnya bersama Alta- putranya.
Ceritanya memang sudah mendapatkan akh...
Happy Reading, sorry for typo. Sebelum baca biasakan vote dulu ya, jangan lupa ramaikan dengan komentar kalian juga.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Maret, 2020.
Gale membawa Yura pergi ke rumah sakit untuk memeriksa hal yang kemungkinan besar terjadi, meski Yura tak mengatakan alasan dia menutupi gejala yang dia alami, Gale memilih untuk tidak memberitahu siapapun soal kabar ini dan memilih untuk tidak memeriksakan keadaan Yura ke dokter pribadi keluarganya.
"Sayang," panggil Yura yang pandangannya masih tertuju pada jalanan di sampingnya.
"Kenapa, sayang?" tanya Gale dengan lembut.
"Waktu kecil kamu di apain sama keluarga kamu?"
Gale hampir menginjak rem saat mendengar pertanyaan Yura, selama ini Yura tak pernah bertanya soal masa kecil Gale, karena Yura tahu jika masa lalunya adalah trauma terbesarnya.
"Tiba-tiba? Kenapa kamu nanya soal itu?"
"Aku penasaran aja, pengen tahu. Kalau gak mau jawab, ya udah gak papa."
Tebakan Gale semakin kuat, alasan Yura berbeda belakangan ini karena keluarganya. Sepertinya ada hal yang seharusnya tidak Yura dengar.
"Apa ada yang ganggu kamu di rumah?"
"Hm? Kenapa kamu bisa berpikir kayak gitu?" Yura menoleh menatap Gale.
Mobil berhenti di parkiran rumah sakit yang jauh dari rumah, rumah sakit yang tidak memiliki ikatan apapun dengan Dewangga.
"Sayang, coba jujur sama aku."
"Kamu aja gak pernah mau jujur soal masa lalu kamu, Mas."
"Aku bisa ceritakan masa lalu aku, tapi aku gak mau buat kamu tertekan. Apalagi di kondisi kamu yang sekarang, sayang."
"Memangnya kenapa sama kondisiku sekarang? Belum tentu aku beneran hamil, kan."
"Iya, tapi kita belum tahu kepastiannya juga kan. Lebih baik antisipasi dari sekarang."
"Aku mau buat syarat sama kamu," ucap Yura dengan tegas, menatap Gale yang tampak pasrah.
"Apa, sayang?"
"Kalau aku gak hamil, aku mau pake kontrasepsi."
"Jadi kamu mau nunda?" tanya Gale dengan nada lembut, tak ingin membuat mood istrinya semakin kacau.
"Iya, kamu gak suka?"
"Aku gak akan paksa kamu kalau kamu memang mau nunda, tapi aku minta kalau misalkan kamu beneran hamil, aku mau kamu terima dia jaga anak kita baik-baik. Oke?"
"Memangnya siapa juga yang mau gugurin? Omongan kamu kayak aku manusia paling jahat tahu gak?"