CHAPTER 42

1K 71 7
                                        

Hai!!!

Selamat datang di chapter 41

Jangan komen *next* Jangan komen *lanjut*

Komen yang lain kan bisa Contoh nih contoh

"author kok cantik" atau "semangat author 💪"

Komen seperti itu malah lebih bikin aku semangat daripada komen "next"

Komen uneg uneg kalian juga boleh. Uneg uneg kalian tentang alur cerita White Thread. Kalau kalian kasih kritik tentang cerita aku ini aku malah seneng banget.

Juga boleh Bebas kalian mau komen apa. Asal jangan *next* dan *lanjut*

Jangan lupa vote ya.. hargain penulis...

Salam rindu dari aku buat kalian semua...

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸



🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Normal Pov....

Fajril memacu motornya perlahan menuju rumah Alesha. Ia sengaja tidak mengabari kedatangannya, ingin membuat kejutan kecil. Namun, ketika lampu merah menyala di perempatan jalan, matanya menangkap pemandangan yang membuatnya menghentikan motor dan menepi. Di sana, di trotoar yang ramai, ia melihat Alesha sedang berbagi makanan. Ada anak-anak jalanan, pedagang asongan, pengemis, hingga pengemudi ojek online yang menerima bungkusan darinya dengan senyuman.

“Alesha…” gumam Fajril. Ia terpana, matanya tak mampu berpaling dari sosok gadis itu. Sebelum ini, ia mengira bahwa Alesha hanyalah gadis yang terobsesi padanya, sering membuatnya jengah dengan perhatian yang berlebihan. Namun, pemandangan ini memaksa Fajril untuk memandangnya dengan cara yang berbeda.

Wajah Alesha berseri-seri, senyumnya tulus saat ia bercanda dengan seorang anak laki-laki kecil yang memanggilnya “Kak Alesha.” Bahkan, ketika anak itu memujinya, Alesha tetap rendah hati.

“Masya Allah… Sungguh indah ciptaan-Mu, Ya Rabb,” Fajril membatin, hatinya bergetar.

Ia memutuskan menghampiri Alesha. Langkahnya ringan, namun jantungnya berdegup keras. Ketika ia tiba, ia menyaksikan Alesha tengah menemani anak-anak jalanan itu makan.

“Kak Alesha ini udah cantik, baik lagi,” ujar Amir, salah satu anak.

“Terima kasih pujiannya ya, Amir,” jawab Alesha sambil tersenyum.

“Assalamualaikum."

Alesha menoleh, terkejut melihat Fajril berdiri tak jauh darinya. “Waalaikumsalam. Faj? Kamu kok di sini?”

“Aku mau ke rumahmu, tapi aku melihatmu di sini,” jawab Fajril dengan nada santai.

“Ada apa mencariku? Kenapa tidak bilang kalau mau ke rumah?” Alesha menatapnya penuh selidik.

“Satu-satu, Sha. Aku cuma mau main aja.”

Tiba-tiba, seorang anak permpuan bernama Bulan menyela, “Kakak ganteng ini pacarnya Kak Alesha ya?”

White Thread 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang