(sequel White Thread)
Sekumpulan remaja yang ingin mengungkap rahasia masa lalu dalam keluarga besar mereka yang disembunyikan selama bertahun-tahun.
Rahasia masa lalu dari ibunda Muhammad Azafran Pratama.
"Mah... Kapan Zafran bisa ketemu mamah. Zaf...
Komen seperti itu malah lebih bikin aku semangat daripada komen "next"
Komen uneg uneg kalian juga boleh. Uneg uneg kalian tentang alur cerita White Thread. Kalau kalian kasih kritik tentang cerita aku ini aku malah seneng banget.
Juga boleh Bebas kalian mau komen apa. Asal jangan *next* dan *lanjut*
Jangan lupa vote ya.. hargain penulis...
Salam rindu dari aku buat kalian semua...
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Normal pov...
Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan pun cepat berganti. Tanpa terasa, hari yang mereka tunggu-tunggu akhirnya tiba. Hari ini adalah hari wisuda Zafran dan teman-temannya—sahabat, saudara, dan keluarga kedua mereka selama ini.
Di aula besar yang penuh dengan riuh rendah suara bahagia, mereka telah menyelesaikan prosesi wisuda. Kini, saatnya untuk mengabadikan momen berharga ini. Setelah puas berfoto dengan keluarga masing-masing, anak-anak kelas akselerasi itu berkumpul di sudut taman kampus, di bawah pohon rindang yang menjadi saksi perjuangan mereka selama ini.
Bayu tersenyum lebar sambil melirik sekeliling. "Kita semua bisa nepatin janji buat wisuda bareng," katanya, nada suaranya dipenuhi kebanggaan.
"Ya, kita bisa sampai sejauh ini," Arkhan menimpali, menatap teman-temannya dengan penuh rasa syukur.
Andro, sang ketua kelas, menghela napas panjang sebelum berkata, "Makasih untuk dua tahun enam bulannya, guys. Kalian luar biasa."
Namun sebelum suasana berubah terlalu emosional, Nadira langsung menepuk tangan. "Udah-udah. Jangan mellow gini. Ayo foto! Fotografer udah nungguin tuh," serunya sambil melirik pria berkamera yang bersiap di depan mereka.
Mereka pun mulai berpose. Ada yang melompat kegirangan, ada yang bergaya santai dengan toga melayang, ada pula yang memasang ekspresi kocak. Tawa dan canda menghiasi suasana, membuat momen itu semakin istimewa.
Ketika sesi foto selesai, Wahyu menatap Zafran dan beberapa yang lain dengan tatapan serius. "Sebelum kalian pada cabut ke luar negeri, kita harus bikin acara perpisahan dulu," ujarnya.
"Iya, tenang aja. Pasti kita atur waktunya," jawab Zafran santai, tapi dengan senyum hangat yang membuat semua orang yakin ia akan menepati janjinya.
Diyana menimpali dengan nada sedikit manja, "Perpisahan anggota kelas sama The Phoenix harus sendiri-sendiri, loh."