CHAPTER 43

1K 62 6
                                        


Hai!!!

Selamat datang di chapter 43

Jangan komen *next* Jangan komen *lanjut*

Komen yang lain kan bisa Contoh nih contoh

"author kok cantik" atau "semangat author 💪"

Komen seperti itu malah lebih bikin aku semangat daripada komen "next"

Komen uneg uneg kalian juga boleh. Uneg uneg kalian tentang alur cerita White Thread. Kalau kalian kasih kritik tentang cerita aku ini aku malah seneng banget.

Juga boleh Bebas kalian mau komen apa. Asal jangan *next* dan *lanjut*

Jangan lupa vote ya.. hargain penulis...

Salam rindu dari aku buat kalian semua...

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸








🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Normal Pov...

Pagi ini, kediaman keluarga Pratama begitu hidup. Para anggota keluarga besar dan keluarga kepercayaan telah memenuhi rumah megah itu. Hari ini adalah hari istimewa untuk mempererat hubungan tiga keluarga konglomerat besar: keluarga Pratama, Wijaya, dan Pradana, dengan kekayaan masing-masing mencapai 7.000–8.000 triliun.

Selain itu, beberapa keluarga kepercayaan yang telah setia kepada keluarga-keluarga ini juga turut hadir, seperti keluarga Gifary yang telah mengabdi sejak lama, serta keluarga Al-Alawi yang setia sejak generasi Buya Fariz. Namun, hingga saat ini, keluarga Al-Alawi belum hadir sepenuhnya.

"Ini Kak Zelvin dateng gak?" Tanya Zalvin penasaran.

"Katanya sih dateng." Jawab Azarenka sambil melirik ibu mertunya.

"Zafran kemana ya?" Tanya Zeina.

"Zafran ikut Zelvin. Mereka udah nggak pulang ke sini beberapa hari. Mungkin di ndalem Al-Alawi." Jawab Aliya, nyonya besar keluarga Pratama.

Tak lama kemudian, keluarga ndalem Al-Alawi mulai berdatangan. Yang hadir kali ini adalah Gus Alif, Gus Azril, Gus Juna, Gus Ali, Gus Wafi, dan Gus Yanan. Keluarga ini memang bekerja untuk keluarga Pratama, sehingga kehadiran mereka sudah pasti diundang.

Lintang, sang tuan besar keluarga Pratama, mengajak para laki-laki ke rooftop untuk membicarakan urusan perusahaan. Sementara itu, Aliya memimpin para perempuan untuk memasak bersama di dapur besar keluarga.

Para cucu pun diberi kebebasan memilih aktivitas mereka, mulai dari bermain di halaman belakang, menonton di bioskop pribadi, bermain di Timezone pribadi, membaca di perpustakaan, hingga menghabiskan waktu di ruang keluarga.

Di ruang keluarga, Fajril, Afkar, Shaka, Filio, Arkhan, Afka, dan Nanda berkumpul.

"Zafran mana?" Tanya Fajril membuka pembicaraan.

White Thread 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang