CHAPTER 45

981 53 8
                                        

Hai!!!

Selamat datang di chapter 45

Jangan komen *next* Jangan komen *lanjut*

Komen yang lain kan bisa Contoh nih contoh

"author kok cantik" atau "semangat author 💪"

Komen seperti itu malah lebih bikin aku semangat daripada komen "next"

Komen uneg uneg kalian juga boleh. Uneg uneg kalian tentang alur cerita White Thread. Kalau kalian kasih kritik tentang cerita aku ini aku malah seneng banget.

Juga boleh Bebas kalian mau komen apa. Asal jangan *next* dan *lanjut*

Jangan lupa vote ya.. hargain penulis...

Salam rindu dari aku buat kalian semua...

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸



🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Normal Pov...

Afka pulang di pagi hari, langkahnya gontai dan wajahnya penuh dengan kesedihan yang mendalam. Matanya sembab, kelelahan tergambar jelas dari sorotnya yang kosong. Sepanjang malam ia tak beranjak dari rumah duka, menemani kepergian seseorang yang begitu berarti baginya. Embun, gadis yang ia cintai, telah dimakamkan semalam. Kenyataan itu begitu menyakitkan.

Zafran dan anggota The Phoenix datang untuk berbela sungkawa. Namun, ada satu orang yang tak tampak di sana—Arkhan, sang kakak sekaligus leader The Phoenix. Ketiadaan kakaknya menambah luka di hati Afka.

Begitu sampai di rumah, suara yang sudah dikenalnya menyambutnya dengan nada tajam.

"Dari mana lo?" Arkhan berdiri di ambang pintu dengan tangan bersedekap. Afka hanya diam.

"Pasti lo nginep di rumah sakit lagi, kan? Lo boleh peduli sama dia, tapi jangan lupa sama diri lo sendiri, Ka. Dia juga udah nggak punya harapan untuk hidup. Kalian pacaran juga karena permintaan dia dan lo kasihan."

"Bugh!!!" Tiba-tiba, kepalan tangan Afka melayang ke wajah kakaknya. Napasnya memburu, dadanya naik turun menahan emosi.

"Lo gila ya!!" bentaknya dengan mata berapi-api.

"Jangan pernah lo hina Embun!!"

Arkhan menyentuh sudut bibirnya yang pecah, menatap adiknya dengan sorot dingin. "Itu fakta."

Afka menatapnya dengan mata merah dan penuh kekecewaan. "Gue nggak nyangka kalau yang ngomong barusan itu kakak kandung gue! Kembaran gue!"

Arkhan masih berdiri tegak, tak terpengaruh. "Gue cuma mau lo dapet yang terbaik. Yang lo cintai dan mencintai lo dengan tulus."

Suara tawa sinis keluar dari bibir Afka, namun matanya basah. "Gue sama Embun saling mencintai. Kurang apa lagi?"

Arkhan terdiam. Bibirnya terbuka sedikit, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi tak ada kata yang keluar.

White Thread 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang