Hai!!!
Selamat datang di chapter 49
Jangan komen *next* Jangan komen *lanjut*
Komen yang lain kan bisa Contoh nih contoh
"author kok cantik" atau "semangat author 💪"
Komen seperti itu malah lebih bikin aku semangat daripada komen "next"
Komen uneg uneg kalian juga boleh. Uneg uneg kalian tentang alur cerita White Thread. Kalau kalian kasih kritik tentang cerita aku ini aku malah seneng banget.
Juga boleh Bebas kalian mau komen apa. Asal jangan *next* dan *lanjut*
Jangan lupa vote ya.. hargain penulis...
Salam rindu dari aku buat kalian semua...
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Normal pov...
Satu tahun kemudian.
Musim semi menyapa Inggris dengan suhu yang sejuk dan langit biru bersih. Pepohonan mulai menghijau, dan bunga-bunga tulip bermekaran di taman-taman kota, membawa semangat baru bagi siapa saja yang menikmatinya. Di salah satu sudut kota, berdiri megah sebuah hotel mewah milik HY Crop’s—tempat di mana sepasang suami istri tengah menikmati masa tenang mereka setelah sekian lama bergelut dengan kesibukan.
Zelvin dan Adeffa baru saja tiba tiga hari lalu. Mereka sengaja datang satu minggu sebelum acara wisuda anak-anak mereka, tak lain karena Zelvin punya rencana tersembunyi: bulan madu kecil untuk kesekian kalinya. Bagi Zelvin, momen bersama Adeffa—tanpa gangguan dunia luar—adalah hadiah yang tak ternilai.
Kamar mereka berada di lantai atas, dengan pemandangan langsung ke taman kota. Sinar matahari menembus jendela besar, menyinari ruangan yang hangat dengan sentuhan interior kayu modern dan aroma teh earl grey yang baru saja diseduh.
Adeffa tengah duduk santai di sofa, mengenakan sweater tipis dan membolak-balik majalah lokal. Zelvin, seperti biasa, sedang sibuk mengamati wajah istrinya—senyum kecil terselip di sudut bibirnya.
"Mas, kamu ini senang sekali menggoda anakmu," ucap Adeffa, tanpa menoleh.
Zelvin menyeringai, menyenderkan diri di dinding dekat jendela. "Aku tidak melakukan apa pun, Fa."
"Jangan pura-pura. Kamu kirim foto tadi pagi waktu aku tidur. Kamu bilang kalau Zafran mau punya adik. Zafran bilang sendiri."
"Ya nggak apa-apa dong. Itu harapan aku. Godain anak bujang kamu itu menyenangkan, Fa." Dengan santai, Zelvin berjalan mendekat dan memeluk Adeffa dari belakang.
"Mas. Kita ini sudah tua. Mau kepala lima."
"Umur boleh tua, tapi aku awet muda. Sampai anak-anak bilang aku pakai formalin," balas Zelvin dengan nada bangga.
Adeffa tertawa kecil. "Bukan kamu aja yang awet muda. Yang lainnya juga. Itu Azarenka sama Dek Juna wajahnya kuda, rambut udah mulai beruban."
Belum sempat Zelvin menanggapi, tiba-tiba ponsel Adeffa berdering. Nama Zafran muncul di layar. Zelvin dengan cepat mengangkatnya, ekspresinya sudah siap menggoda.
"Ada apa? Kamu mengganggu kami," katanya dengan gaya ketua geng.
Wajah Zafran muncul di layar. Dahi berkerut dan ekspresi separuh malu, separuh kesal. "Jangan buatkan aku adik. Aku sudah tua. Tidak cocok baru punya adik."
Zelvin tertawa kecil. “Buatnya sih sering, tapi nggak jadi-jadi.”
"Papa udah tua. Inget umur," sahut Zafran dengan suara tinggi.
KAMU SEDANG MEMBACA
White Thread 2
Teen Fiction(sequel White Thread) Sekumpulan remaja yang ingin mengungkap rahasia masa lalu dalam keluarga besar mereka yang disembunyikan selama bertahun-tahun. Rahasia masa lalu dari ibunda Muhammad Azafran Pratama. "Mah... Kapan Zafran bisa ketemu mamah. Zaf...
