(sequel White Thread)
Sekumpulan remaja yang ingin mengungkap rahasia masa lalu dalam keluarga besar mereka yang disembunyikan selama bertahun-tahun.
Rahasia masa lalu dari ibunda Muhammad Azafran Pratama.
"Mah... Kapan Zafran bisa ketemu mamah. Zaf...
Komen seperti itu malah lebih bikin aku semangat daripada komen "next"
Komen uneg uneg kalian juga boleh. Uneg uneg kalian tentang alur cerita White Thread. Kalau kalian kasih kritik tentang cerita aku ini aku malah seneng banget.
Juga boleh Bebas kalian mau komen apa. Asal jangan *next* dan *lanjut*
Jangan lupa vote ya.. hargain penulis...
Salam rindu dari aku buat kalian semua...
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Normal Pov...
Pagi itu, udara Kairo masih sejuk. Arcilla sengaja memilih berjalan kaki menuju kampus, menikmati aroma roti hangat dari toko kecil di pinggir jalan dan hiruk pikuk pedagang yang mulai menata barang dagangan. Namun langkahnya terhenti sejenak saat matanya menangkap sosok yang selama ini diam-diam mengisi ruang hatinya.
Arshad.
Ia berjalan di depan, bersama seorang temannya yang bernama Setya. Arcilla tersenyum kecil, jantungnya berdegup lebih cepat hanya karena melihat punggung lelaki itu. Ia berniat menjaga jarak, tapi tak disangka telinganya justru menangkap percakapan mereka.
“Bagaimana perasaanmu?” tanya Setya tiba-tiba.
“Alhamdulillah, baik.” Suara Arshad terdengar tenang, khas, selalu membuat hati Arcilla bergetar.
Setya tertawa ringan. “Maksudku, perasaanmu pada Ning tercintamu yang kuliah di Yaman itu.”
Arcilla seketika membeku.
“Rasa itu masih ada,” jawab Arshad mantap. “Aku memutuskan untuk meminangnya setelah aku lulus S2 ini.”
Darah Arcilla serasa berhenti mengalir. Kakinya gemetar, seolah bumi di bawahnya kehilangan pijakan.
“Hubungan kalian... pacaran?” Setya mendesak lagi.
Arshad menggeleng pelan. “Tidak. Kami hanya tahu bahwa kami memiliki perasaan yang sama. Aku mendoakannya. Jika dia tidak ditakdirkan untukku, semoga dia mendapatkan yang lebih baik dariku. Kami tidak pernah saling komunikasi sejak aku berangkat ke Mesir. Tapi... hatiku masih untuknya.”
Arcilla menelan ludah. Kata-kata itu seperti belati yang menghunjam dadanya. Harapannya yang selama ini ia rawat diam-diam runtuh seketika.