CHAPTER 54

364 22 4
                                        

Hai!!

Selamat datang di chapter 54

Jangan komen *next* Jangan komen *lanjut*

Komen yang lain kan bisa Contoh nih contoh

"author kok cantik" atau "semangat author 💪"

Komen seperti itu malah lebih bikin aku semangat daripada komen "next"

Komen uneg uneg kalian juga boleh. Uneg uneg kalian tentang alur cerita White Thread. Kalau kalian kasih kritik tentang cerita aku ini aku malah seneng banget.

Juga boleh Bebas kalian mau komen apa. Asal jangan *next* dan *lanjut*

Jangan lupa vote ya.. hargain penulis...

Salam rindu dari aku buat kalian semua...

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸













Normal Pov...

Enam bulan berlalu dengan cepat. Waktu seolah berlari tanpa memberi jeda. Dalam hitungan hari, tepatnya tiga hari lagi, Fiona akan menikah dengan Noah — pria yang dulu sempat hilang dari hidupnya, namun akhirnya kembali untuk menepati janji yang tak pernah benar-benar padam di hati keduanya.

Langit cerah memantulkan cahaya ke perak logam pesawat jet yang baru saja mendarat. Dari pintunya, dua sosok pria tampan melangkah keluar dengan tenang.

Begitu kaki mereka menyentuh aspal, barisan bodyguard dengan setelan hitam langsung merapat. Suara langkah serentak dan deru mobil mewah yang berjajar membuat suasana terasa megah dan teratur.

“Selamat datang kembali, Tuan Zafran dan Tuan Fajril.” Ucap salah satu bodyguard yang berdiri paling depan sambil sedikit menunduk.

Zafran hanya mengangguk tipis, sementara Fajril menatap sekeliling dengan pandangan tenang namun dalam. Ada sesuatu di matanya — mungkin kenangan, mungkin rindu yang belum tuntas.

“Anda berdua sudah ditunggu oleh Tuan Zelvin di kediamannya.” Sambung bodyguard itu lagi.

Tanpa banyak bicara, keduanya masuk ke dalam mobil hitam panjang yang sudah menunggu. Pintu tertutup rapat, dan iring-iringan kendaraan segera melaju keluar dari bandara dengan pengawalan ketat.

***

Di sisi lain kota, suasana rumah Zalvin dan Aleia dipenuhi aroma bunga segar dan wangi lembut lilin aroma terapi. Fiona duduk santai di kursi rias, rambut panjangnya sedang disisir oleh perias pribadi yang sudah bekerja sejak pagi. Wajahnya berseri-seri — bukan hanya karena perawatan yang dilakukan, tapi juga karena hatinya sedang dipenuhi kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan.

Tiga hari lagi ia akan menjadi pengantin. Calonnya, Noah, telah resmi kembali ke kehidupannya — bukan lagi sebagai bayang-bayang masa lalu, tapi sebagai masa depan yang nyata.

Di ruang tamu, tumpukan majalah dan koran menampilkan berita yang sama di halaman utama:

“Putri Tunggal Zarin Group Akan Menikah dengan Pria Sederhana — Cinta yang Menembus Batas Status.”

Pernikahan Fiona menjadi topik hangat di mana-mana. Tak hanya karena kemewahan yang mengiringinya, tetapi juga karena kisah cintanya yang dianggap langka di kalangan sosialita — seorang pewaris perusahaan raksasa menikah dengan pria yang dulu hanyalah pegawai biasa.

Fiona tersenyum membaca salah satu artikel yang dibawakan asistennya. “Lucu ya, seolah cinta harus punya kasta,” katanya ringan.

Mami Alea yang duduk di sofa hanya tersenyum, menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca. “Yang penting kamu bahagia, Nak. Dunia boleh menilai apa pun, tapi kamu yang akan menjalaninya.”

White Thread 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang