EXTRA CHAPTER 2 - ZAFRAN

185 16 6
                                        

Normal Pov

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Normal Pov...

Langit malam tampak begitu indah dengan taburan bintang seperti ribuan lampu kecil yang menggantung jauh di atas sana. Angin berhembus pelan, mengibaskan ujung rambut Alyssa yang tergerai lembut, sementara aroma alam yang segar menjadi pelengkap suasana malam yang begitu damai. Mereka tidak memilih tempat mewah, tidak makan hidangan mahal, dan tidak memakai pakaian resmi. Hanya pakaian hangat, selimut tebal, termos cokelat panas, serta tikar kecil yang mereka bawa untuk piknik sederhana di puncak bukit.

Justru kesederhanaan itu yang membuat segalanya terasa sempurna.

Alyssa bersandar di dada bidang Zafran, merasakan degup jantung laki-laki yang telah mengisi hari-harinya sejak dulu. Zafran mendekap Alyssa pelan namun pasti, seolah tidak ingin membiarkan angin malam menyentuh gadisnya terlalu dingin. Kedua tatapan mereka tidak melihat satu sama lain, melainkan melihat ke langit di atas, seolah mencari masa depan di antara bintang-bintang.

Zafran dan Alyssa adalah dua orang yang saling mencintai dengan setara. Setara cintanya dan setara perjuangannya. Tidak ada yang lebih mencintai, juga tidak ada yang lebih memperjuangkan. Mereka berdiri di garis yang sama, berjalan dalam tujuan yang sama, dan menyimpan rasa yang besar dengan kadar yang sama. Bahkan keluarga pun setara. Alyssa bukan gadis sembarangan. Ayahnya adalah sahabat Adeffa, ibu Zafran—mereka pernah berada dalam geng motor yang sama di masa muda. Itu artinya, hubungan mereka sebenarnya telah terjalin jauh sebelum hati mereka saling memilih satu sama lain.

Alyssa selama bertahun-tahun menanti Zafran kembali dengan penuh kerinduan. Ia menunggu tanpa paksaan, tanpa menyalahkan, tanpa berpindah hati. Ia setia karena hatinya tahu kemana ia akan pulang, bahkan sebelum Zafran benar-benar kembali.

Di sisi lain, Zafran adalah lelaki yang sejak remaja tumbuh dengan karakter kuat, keras, namun sangat setia pada satu hati—Alyssa. Ia tidak pernah mudah mencintai, tidak pernah bermain dengan perasaan, dan tidak pernah memberikan harapan palsu. Dalam kalimatnya yang singkat, ia pernah berkata pada teman dekatnya, “Kalau bukan Alyssa, aku tidak ingin siapapun.”

Malam itu, suasana terasa hangat meski dingin menyelimuti. Tidak ada musik selain desiran angin, tidak ada lampu selain cahaya bintang, dan tidak ada saksi selain langit yang begitu luas.

Tanpa aba-aba, Zafran memecah kesunyian.

“Fiona sudah menikah.” Kata Zafran tiba-tiba.

Alyssa tidak menanggapi dengan cemburu maupun rasa minder. Ia tahu Zafran menyebutkan fakta, bukan perasaan. Ia menegakkan tubuhnya sedikit, lalu mendongak melihat wajah laki-laki yang ia cintai itu.

“Terus?” Alyssa mendongak melihat Zafran.

“Aku jadi ingin menikah juga.”

Alyssa memiringkan kepalanya dengan polos, bibirnya mengerucut sedikit. “Dengan siapa?” Tanya Alyssa.

Seketika Zafran menatapnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan antara ingin tertawa, ingin mencubit pipinya, dan sekaligus ingin mencium keningnya. Ia memutar tubuh Alyssa agar menghadapnya langsung, memastikan gadisnya benar-benar memahami kalimatnya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 27, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

White Thread 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang