(sequel White Thread)
Sekumpulan remaja yang ingin mengungkap rahasia masa lalu dalam keluarga besar mereka yang disembunyikan selama bertahun-tahun.
Rahasia masa lalu dari ibunda Muhammad Azafran Pratama.
"Mah... Kapan Zafran bisa ketemu mamah. Zaf...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Normal Pov....
Hari Pernikahan
Hari itu seolah menjadi hari yang paling bersinar dalam hidup kedua mempelai. Langit cerah, awan bagaikan kapas putih berarak pelan, seolah sengaja memuliakan sebuah takdir yang akhirnya tiba pada waktunya. Venue yang dipilih keluarga Pratama bukanlah gedung termewah, bukan pula ballroom hotel terbesar di ibu kota. Justru sebuah gedung elegan bernuansa putih klasik dengan sentuhan adat modern minimalis. Tidak mencolok, tetapi memancarkan rasa tenang, teduh, dan sakral.
Sejak pagi, media nasional hingga internasional sudah menayangkan berita pernikahan itu, ramai di sosial media, headline portal berita, serta akun gosip kelas elite. Bukan hanya karena Fiona Kalista Pratama adalah putri dari keluarga konglomerat dan pemilik perusahaan raksasa internasional Zarin Croop’s dan NK CROOP'S, melainkan karena ia menikah dengan pria sederhana bernama Noah Atharrazka, seorang anak laki-laki dari keluarga sederhana namun berhati tidak sederhana.
Semua orang menganggap kisah ini seperti dongeng. Putri konglomerat dan pria biasa. Namun kenyataannya, Noah bukan sembarang pria.
Ia gigih, cerdas, berperangai dewasa, rendah hati, dan memiliki karakter yang bahkan jauh lebih kaya daripada harta benda yang pernah Fiona miliki. Di mata Fiona – sejak dulu – cinta Noah bukan cinta biasa. Ia mencintainya tanpa memamerkan, memperjuangkannya tanpa berteriak, dan mempertahankannya tanpa menyakiti.
Sedangkan Fiona sendiri jauh dari stereotip anak konglomerat yang dimanjakan. Ia tumbuh ditempa, bukan dipelihara. Alea selalu mengajarinya satu kalimat sejak kecil.
“Kamu boleh hidup di puncak kemewahan, tapi kamu harus selalu tahu rasanya berdiri di tanah.”
Itulah yang membuat Fiona tumbuh sebagai wanita berkelas tetapi tidak sombong. Elegan, tapi tidak tinggi hati. Lembut, tapi tidak rapuh.
Prosesi Akad
Noah menarik napas panjang, namun matanya menatap lurus penuh keyakinan.
Dengan suara lantang ia mengucap:
“Qabiltunikâḫahâ wa tazwîjahâ bil mahrilmadzkûr.”
Tangis bahagia terdengar dari beberapa wanita di deretan kursi tamu.
Sebagian pria menatap dengan mata berkaca-kaca.
“SAH.”
Kata itu menggema. Membelah ruang. Menjadi kunci takdir.
Noah menundukkan kepala. Tangannya gemetar. Raut tegang di wajahnya masih terlihat bahkan setelah para tamu selesai mengucap doa.
Pintu ruangan pengantin perempuan dibuka.
Fiona masuk perlahan, diapit oleh Alea dan Adeffa.
Langkahnya anggun, terukur, dan terlihat seperti putri bangsawan. Kebaya putih yang dikenakannya memancarkan kemurnian, dipadu veil tipis yang menjuntai elegan sampai lantai.