Selamat tahun baru 2025!!🎉🎉
Akhirnya setelah sekian purnama aku berhasil mengumpulkan niatku yang entah tercecer dimana saja guys >.<
Maaf banget aku udah nyuekin kalian HUAAAA😭
Berjuta-juta maaf kupersembahkan untuk kalian, tapi kalau aku ngulangin lagi.....
Sumpahin aja aku sesuka hati kalian!!
Yaudah, kita nggak usah bertele-tele. Langsung ke intinya saja ya....
***
"Berangkat." Misha menepuk sekali pundak Reinard, pertanda dirinya sudah nyaman duduk di atas jok motor pria itu. Untuk kali ini, dia menciptakan jarak kurang dari sejengkal dari badan Reinard.
Jangan tanya alasannya. Bahkan sejak tadi pagi, dirinya terus menghindar dari pandangan lelaki tersebut. Jelas saja! Siapa yang tidak malu jika semalam mereka berdua nyaris telanjang dan saling memberi kenikmatan seperti itu?! Sial. Misha pusing lagi memikirkannya.
Disaat dia terus memikirkannya setengah mati, tapi kenapa Reinard seolah lupa kejadian semalam? Tidak mungkin 'kan, lelaki itu sudah pernah melakukannya dengan perempuan lain? Betul 'kan?
Misha tersadar dari lamunannya kala suara mesin motor Reinard tidak terdengar lagi. Perasaan, jarak dari kos Reinard ke hotel tidak sedekat itu.
"Enggak mau turun, hm?" Tanya Reinard. Misha buru-buru turun.
Ketika mereka hendak mencapai pintu, suara bising dari ruangan sebelah menyambut kedatangan keduanya. Misha menaikkan alis penasaran ketika mendapati ruangan office yang sempit tertutupi oleh badan para anak-anak banquet lainnya yang sangat berisik. Saat dia menoleh ke samping, jelas Reinard yang memiliki postur tinggi dapat melihat semua hanya dengan sedikit mendongakkan kepalanya saja.
Sial. Ia merasa deja vu. Jangan-jangan mereka sedang menghadapi post test dadakan dari Yehuda.
Fuck. Jika tahu begini, Misha mending tukar libur saja. Serius, dia tidak akan pernah terbiasa dengan suasana bising menegangkan begini. Misha selalu ingat rasanya. Bahkan saat ini, tangannya langsung mendingin menunggu gilirannya—padahal, dirinya belum mendengar suara Yehuda sama sekali.
"Ada apa, Kak?" Tenggorokan Misha tercekat. Hawa di sekitarnya tiba-tiba terasa dingin, namun anehnya, bulir keringat seolah ingin keluar dari pori-porinya.
"Bentar."
Dan dengan mudahnya, Reinard sang pemimpin dari para kacung itu membelah lautan manusia.
Wah, Misha harus bertepuk tangan dalam hati. Dia saja harus berdesakan melewati pintu office dengan susah payah.
"Dijahit ini!! Mesti dijahit cok!" Suara nyaring Johan yang paling terdengar diantara suara berisik lainnya.
"Enggak bisa!! Diamputasi dulu!"
H-hah?
"Tolol!!"
Sebenarnya apa yang mereka perdebatkan? Tidak mungkin 'kan, mereka saling membentak dihadapan Yehuda?
"Bersihin dulu, terus diperban." Reinard menyeletuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
WAR OF HEART
General FictionWARNING⚠️⚠️ [21+] _______ Harapan Misha adalah menyelesaikan 6 bulan masa trainingnya dengan menyenangkan, memiliki teman-teman yang banyak dan tidak ada persaingan. Namun, itu adalah harapannya sebelum ia menginjakkan kakinya di hotel berbintang it...
