[CHAPTER 27]

2.6K 78 17
                                        

Holaaa, aku balik lagii

Rencananya sih mau aku up nanti malem habis pulang kerja soalnya aku baru ngelarin chapter ini tadi pagi jam 2, Bree😭

Aku pikir bakal molor sampe nanti siang, tapi ternyata jam segini udah bangunn

Jadiii karena ada kalian yang rela nunggu-nunggu, makannya aku up sekarang ajaa🥰🥰

Happy reading ya, Darling😘


War Of Heart - Page 27
.
.


"Mau lagi?"

Misha membuang muka, menutupi ekspresi malunya agar tidak bisa dilihat lelaki itu. Setelah dua kali saat tengah malam dan pagi-pagi buta dibangunkan oleh Reinard tentu saja tenaganya saat ini sudah habis, Misha tidak punya tenaga untuk sekedar marah-marah apalagi menangis. Wajahnya masih pucat, tubuhnya lemas luar biasa-apalagi dua jam lagi mereka harus berangkat kerja, tentu dia harus menghemat tenaganya.

Tidak mendapat tanggapan yang diinginkanya, pria itu mendekat pada Misha yang masih duduk bersandar pada dinding kemudian merengkuhnya. "Masih dua jam lagi, Sha. Cukup kalau buat main berapa kali-"

"Kak Reinard!" Misha reflek memukul tangan Reinard yang sudah meremas buah dadanya. "Kak, ayo anterin aku ke kost.. Mau mandi."

"Kamu boleh kalau mau mandi disini."

"Aku enggak mau, alat make up ku di kost semua,"Misha merajuk, berusaha membujuk pria itu agar mengantarnya. Karena kalau dalam waktu tiga puluh menit Misha belum keluar dari kandang singa, dia yakin Reinard akan menyetubuhinya kembali. "Kak Reinard, please.."

"Kamu enggak capek, Sha? disini dulu aja ya, sejam lagi aku anterin," Reinard menatap Misha begitu lembut dan menenangkan, tersenyum sangat lebar hingga giginya terlihat. Tapi Misha langsung bisa melihat tipu muslihatnya, dimatanya justru saat ini Reinard terlihat mengerikan.

Misha langsung menggeleng, suaranya ia buat semanja mungkin hingga Misha sendiri pun kaget. "Enggak bakal cukup, Kak. Aku pake make upnya lama, enggak cukup kalau cuma dua puluh menit. Ya, Kak Rei? Nanti aku kasih sesuatu."

Kali ini Reinard berhasil terpancing, lelaki itu mengetatkan rengkuhannya di pinggang Misha. "Hm? Kasih apa?"

"Ya nanti, rahasia. Tapi Kak Rei anterin aku sekarang."

Reinard berpura-pura menghela napas berat, ia menolehkan kepalanya malas ke samping. "Ya udah, kalau kamu maksa aku bisa apa..." Dia berhenti sejenak, melirik gadis di sebelahnya sebentar sebelum melanjutkan. "Cium dulu."

Misha mendengus malu, tapi sepersekian detik kemudian langsung maju dan mengecup pipi Reinard yang terasa hangat.

Cup!

"Satunya."

Cup!

Ketika Reinard menoleh untuk menyodorkan pipi yang satunya, secara tidak sengaja Misha justru mencium bibirnya. Reinard sangat cepat menyadari, karena pria itu langsung menahan leher Misha agar diam ditempat bahkan saat sang gadis masih mencerna apa yang terjadi.

"Hmmph!" Misha menggeliat, ia menyadari kalau tidak akan mendapat pasokan oksigen kecuali dari mulut. Jalan satu-satunya agar ia tetap bisa bernapas adalah membalas lumatan bibir Reinard, sayangnya Misha masih belum ahli. Dia takut Reinard akan merasa risi.

"Sayang?" Lidah Pria itu terus menusuk-nusuk mulutnya yang masih tertutup, Misha masih saja diam tidak membalas ciumannya hingga membuat Reinard gemas. Tangan satunya terangkat begitu saja dan mengincar dada Misha—meremasnya ketika gadis itu tetap diam di tempat. "Hadiahnya aku ambil sekarang aja gimana?"

WAR OF HEARTCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang