[CHAPTER 30]

2.3K 95 13
                                        

WAR OF HEART - PAGE 30
.
.


"Sabaarr!! Bentar, sialan." Misha mengumpati Reinard ketika pria itu menelponnya terus menerus. Padahal belum ada lima menit semenjak dirinya kabur dari Shafira, tapi Reinard berlagak seolah Misha sudah meninggalkannya lima jam!

Kak Reinard || Banquet

7 missed call

Gadis itu sedang memasukkan celana kerja beserta dalamannya ke dalam totebag ketika ia melirik ponsel dan melihat pop up notifikasi. Tahu-tahu saja Reinard sudah mencoba menelponnya tujuh kali. Memangnya apa yang lelaki itu inginkan 'sih? Menyuruh Misha bawa lingerie?

Memikirkan hal itu tanpa sadar membuatnya mual. Pikirannya turut melayang.

Setelah ini, kira-kira apa yang akan mereka lakukan di kost pria itu? Seandainya saja Reinard tidak memaksanya ikut, saat ini pasti Misha bisa langsung tidur, sebab besok pasti akan sangat melelahkan. Apalagi keduanya masuk pagi, Yehuda pun menyuruh Reinard untuk masuk lebih awal yang artinya mau tidak mau Misha harus ikut Reinard masuk jam enam pagi juga kalau tidak mau ditinggal.

Hahh, sial. Misha kecipratan apesnya.

"Kak Rei, ayo-" Misha menghentikan ucapannya selangkah setelah melewati garis pintu. Di teras tempat Reinard menunggu, ada sosok temannya yang turut menemani. "Shafira? Ngapain-"

Reinard menatapnya, tatapannya menyiratkan sesuatu seolah-olah Misha telah melakukan kesalahan.

Tunggu, apa?

Menyadari sesuatu, dia buru-buru membuka ponselnya untuk memeriksa serentetan pesan yang dikirimkan oleh Reinard.

Kak Reinard || Banquet

Misha, kayaknya kita perlu batalin agenda malam ini. Shafira kepingin ikut

Shafira ketakutan, katanya ada orang aneh yang terus gangguin dia. Orang gila kali ya?

Sayang, maaf ya kita batalin aja. Gantinya kita bertiga keluar bareng, kita cari makan yang enak aja. Nanti kita pesen gocar atau yang lainnya

Dan beberapa pesan lainnya yang menyuruh Misha membuka ponselnya.

Oalah, jadi ini alasan Reinard terus-menerus menelponnya. Misha kira sesuatu yang lebih urgent. Tapi biarlah, urgent tidak urgent Misha tetap mengabaikan teleponnya.

"Ayo, Misha. Kata Kak Reinard aku boleh ikut." Shafira yang pertama bersuara. Pandangan gadis itu sudah berbinar meski ada bekas-bekas air mata. Awalnya dia menatap Misha, kemudian ketika sadar apa yang dibawanya tatapan gadis itu berubah penuh keingintahuan. "Kamu bawa totebag, Sha? Kayaknya isinya banyak banget."

Untuk totebag yang berukuran sedang, meskipun hanya diisi celana kerja, kaos, dalaman, alat make up beserta charger hape sudah membuatnya menggembung. Jadi tidak heran Shafira mengetahuinya. Dan sialnya Misha tidak tahu harus menjawab apa.

"Bawa banyak hal nggak penting kok. Yaudah ayo!"

Misha buru-buru memakai sendalnya sementara tangannya tetap mengutak-atik ponsel. "Kalian udah pesenin gocarnya?"

"Belum, ini baru mau."

"Eh, jangan dulu!" Seru Misha dengan suara keras. Reinard dan Shafira langsung memandangnya dengan tatapan terkejut membuat gadis itu memerah karena malu. Lalu Misha merendahkan suaranya. "Kenapa kita enggak di depan gang aja pesennya? Portalnya mesti udah ditutup."

Di kawasan sana, jam malam memang diberlakukan mulai pukul sebelas malam. Reinard yang hendak mengantarnya ke kos saja harus melewati jalan tersembunyi yang cukup berliku dan hanya muat dilewati satu motor. Jadi tidak ada salahnya dia mengusulkan hal tersebut.

WAR OF HEARTCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang