War Of Heart-Page 38
•
•
Adult Scene⚠️
"Telan semua. Jangan sampai ada yang netes," Jemari besar Reinard mengusap bibir Misha yang merekah, menatapnya begitu tajam seolah menanti jika ada setitik sperma yang menetes ia akan kembali menggagahi mulut Misha.
"Enak?"
Misha langsung menggeleng, kening beserta hidungnya masih mengernyit menahan rasa mual sedangkan mulutnya masih mencecap rasa yang begitu asing. "Enggak... Aneh, asin."
"Masa?"
Misha mengangguk. Bukan hanya itu, tenggorokannya kini juga sedikit nyeri karena pria itu memaksanya mengulum terlalu dalam. Bahkan sesekali menarik kepalanya kasar agar seluruh kejantanan Reinard berada di mulutnya-padahal dia sendiri tahu kalau miliknya terlalu besar dan panjang untuk diterima mulut Misha.
Tapi tidak apa-apa. Yang penting permintaan Reinard sudah ia turuti. Sekarang gilirannya meminta sesuatu pada pria itu 'kan?
Tanpa pikir panjang Misha langsung bangkit berdiri dari atas closetnya. Ia buru-buru menggeser badan Reinard yang masih diam di bawah shower agar digantikan dirinya.
"Udah 'kan Kak? Aku keluar dulu," Misha berkata demikian setelah memastikan seluruh tubuhnya terguyur air dan bersih dari sisa-sisa permainan Reinard. Kecuali mulutnya. Tapi untuk yang satu itu bisa Misha bersihkan nanti setelah Reinard selesai mandi. Karena jika keduanya berada di dalam sana lebih lama, Misha yakin dirinya tidak akan bisa keluar lebih cepat.
Tapi baru dua langkah dirinya menjauh dari kucuran air shower, lengan kekar Reinard membelit perutnya-menarik tubuh Misha dengan ringan dan membawanya ke depan wastafel yang terdapat cermin setengah badan disana. Misha bahkan belum sempat bereaksi saat tahu-tahu saja badannya sudah menghadap cermin dengan tubuh besar Reinard yang mendesak di belakangnya.
"Mau kemana, hmm? Kita belum selesai, Sayang." Satu tangan lainnya yang bebas menyusuri tubuh Misha, mengusap perutnya dengan halus sebelum berakhir di buah dadanya yang menggantung indah. Pria itu meremasnya gemas.
"M-mau keluar. Kan Kak Rei tadi udah janji kalau udah selesai terserah aku bakal minta apa.." Misha membalasnya dengan suara terbata. Matanya bertatapan dengan iris mata gelap Reinard di pantulan cermin. Dan sesekali dia melihat turun mengamati bagaimana besarnya tangan Reinard yang mampu menangkup penuh satu payudaranya.
"Ummhh.." Remasan keras pria itu di buah dadanya membuat kewarasan Misha perlahan terkikis, apalagi ketika Reinard bergantian memainkan putingnya-berhasil membuat Misha mulai bergerak gelisah karena rasa gatal yang perlahan menyerang di bawah sana. Dan makin lama semakin gatal hingga Misha yakin cairan beningnya keluar perlahan-lahan.
Misha sekarang ingin sesuatu, tapi dirinya juga ingin menyudahi karena beberapa bagian tubuhnya mulai terasa nyeri.
"Betul, tapi 'kan tadi aku bilangnya kalau kamu bisa bikin aku keluar cepet." Kekehan Reinard di belakangnya terdengar jahat dan licik. Wajah tampannya pun terlihat mengolok Misha yang kini pasrah di depan tubuh kekarnya. "Tapi kamu nggak bisa. Bahkan kamu beberapa kali batuk-batuk dan nggak mau lanjut nyepongin aku. Iya 'kan?"
"Mmh, i-iya.." Misha mulai melupakan semuanya. Ia tidak peduli Reinard mengatakan apa.
"Nah, jadi sekarang terserah aku mau apain tubuh cantik kamu ini." Tangan pria itu yang semula membelit tubuhnya perlahan turun, menuju selangkangan Misha dan mencari sesuatu di sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
WAR OF HEART
Ficción GeneralWARNING⚠️⚠️ [21+] _______ Harapan Misha adalah menyelesaikan 6 bulan masa trainingnya dengan menyenangkan, memiliki teman-teman yang banyak dan tidak ada persaingan. Namun, itu adalah harapannya sebelum ia menginjakkan kakinya di hotel berbintang it...
