[CHAPTER 43]

1.8K 91 26
                                        

War Of Heart - Page 43
.
.

"Setelah ini, semuanya lo yang bakal bertanggung jawab. Gue nggak ada kaitannya sama apapun lagi," Reginald bertutur setelah menemani Adam sampai ke dalam kamar apartemen yang disewanya. Pria itu diam saja ketika melihat Adam membuka resleting koper besarnya kemudian mengeluarkan gadis berambut panjang yang tubuhnya tertekuk-tekuk di dalam sana. Terlihat pingsan dan tak berdaya.

"Lo tau? Lo bener-bener sinting kalau bener-bener ngelakuin hal itu, Dam." Adam tidak membalas perkataannya, lelaki itu malah terlihat sibuk memindahkan Felicia di kasur, mengikat tangan dan kakinya, lalu mempersiapkan segala sesuatunya. "Sialan, ternyata lo emang psikopat!"

Mendengar Regi yang menghinanya, kali ini Adam berhenti. Badannya yang semula membungkuk memastikan keadaan Felicia berubah menjadi tegak. Lelaki itu membalikkan badan, mengawasi temannya yang usianya terpaut beberapa tahun di atasnya tersebut dengan pandangan mengejek. "Kenapa? Lo takut? Kalau takut nggak usah disini, cabut aja."

Reginald mengumpat, lalu setelahnya dia memilih pergi dari sana. Tidak ingin melihat kekejian Adam yang notabenenya masih di bawah umur untuk melakukan hal-hal diluar batas.

Tangan besar Adam mengelus lembut sisi wajah Felicia yang berkeringat, mata gadis itu masih tertutup dengan damai seolah dia tengah tertidur pulas. "Cia... Tante Niken sama Om Henry ternyata emang egois banget ya? Kamu nggak sadar kalau mereka cuma anggap kamu kayak boneka, yang seenaknya mereka mainin, seolah kamu itu cuma boneka marionet yang nggak ada artinya."

Adam mendengus. Ia menjauh dari sana lalu kembali lagi membawa sebuah balok kayu yang cukup besar, meletakkannya di antara telapak kaki Felicia yang masing-masing ia ikat dengan kasur. "Padahal kamu pintar, cantik. Kamu terlalu berharga untuk mereka sia-siakan.."

"Kamu nggak boleh pergi. Kamu nggak boleh ninggalin aku sendiri, Cia." Adam mundur lagi untuk mengambil sesuatu dari dalam tas ranselnya, kemudian kembali mendekati tubuh tidak berdaya Felicia. "Lagipula kamu juga bilang 'kan sama Tante Niken kalau kamu udah nyaman disini dan kamu nggak pengen pindah?"

Adam menyentuh pergelangan kaki Felicia yang kini sudah terbebas dari kaus kaki dan sepatu, lalu merambat naik menekan tulang keringnya. Mata lelaki itu berkilat, masing-masing sudut bibirnya naik membentuk seringai bahagia.

"Percaya sama aku, setelah ini apa yang kamu mau bakal terwujud." Tanpa rasa ragu, lelaki itu mengayunkan tangannya--memukul pergelangan kaki Felicia dengan keras menggunakan benda yang ia pegang erat.

Krakk

Bunyi retakan tulang langsung terdengar begitu pergelangan kaki sang gadis beradu dengan kepala besi dari palu. Tidak ada darah yang mengucur disana, namun kakinya bengkok dengan cara yang tidak wajar. Balok kayu yang berada diantara telapak gadis itu pun sampai retak menunjukkan betapa kuatnya Adam menghancurkan tulang gadis itu.

Hahh!

Adam menghembuskan napas keras-keras. Tidak ada rasa penyesalan ketika melihat kondisi gadis itu yang mengenaskan. Justru melihatnya dengan kondisi saat ini, malah membangkitkan rasa senangnya karena mengetahui bahwa mulai sekarang Felicia akan kehilangan kemampuan berjalannya dan tidak akan pernah bisa pergi kemanapun.

"Eunghh."

"Cia?"

Selama beberapa saat tidak ada suara.

Adam yakin itu lenguhan dari gadisnya. Hingga sepersekian detik setelah ia menunggu, kelopak mata gadis itu mulai terbuka perlahan, berkedip-kedip bingung lalu berakhir menatap Adam.

"Kamu...habis ngapain?" Wajah Felicia dipenuhi keringat, napasnya terengah-engah seolah dia habis berlari berkilo-kilometer jauhnya. Matanya pun masih menatap lelaki itu bingung.

WAR OF HEARTCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang